BERABAD-ABAD lalu, di tengah padang pasir yang tandus, seorang bapak yang bergelar “Khalilullah” (kekasih Allah) menengadahkan tangannya. Hatinya penuh harap.
Lalu Allah mengajarkannya doa. Doa yang begitu sederhana, namun dalamnya tak terukur.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku-ku, berikanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Nabi Ibrahim tidak meminta anak yang kaya raya atau berkedudukan tinggi. Tidak meminta anak yang cerdas jenius. Tidak meminta anak yang tampan atau cantik. Ia hanya meminta satu kata, anak yang shalih.
Jika anak itu shalih, maka segala kebaikan akan mengikuti. Jika anak itu shalih, doanya akan mengalir untuk orang tuanya meski ayah dan ibunya telah tiada. Jika anak itu shalih, maka hartanya akan diberkahi, akalnya akan digunakan untuk kebenaran, dan wajahnya akan menjadi penyejuk mata di dunia maupun di akhirat.
Sejuk yang Menyeluruh
Doa indah lainnya juga Allah abadikan dalam Al-Qur’an:
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (qurrota a’yun).” (QS. Al-Furqan: 74).
Dinginnya mata orang tua saat memandang anak-anaknya atau cucu-cucunya. Bukan karena wajah anak yang sehat dan menanrik, tetapi karena hati orang tua menjadi teduh saat melihat mereka taat kepada Allah. Saat melihat mereka shalat tanpa disuruh. Saat melihat mereka jujur meski tak ada yang mengawasi. Saat melihat mereka berbagi kepada sesama dengan tulus.
Sejuknya mata itu adalah ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan harta.
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Seorang anak shalih, meskipun ia hanya seorang petani, buruh, atau guru honorer yang hidup sederhana, jika engkau lihat wajahnya yang bersih karena sering dibasuh air wudhu, mata orang tua akan terasa sejuk. Lebih sejuk daripada melihat anak kaya yang bermaksiat.
Anak Shalih Harta Paling Berharga
Dunia ini menawarkan banyak ukuran kebanggaan. Anak yang kuliah di perguruan tinggi ternama atau di luar negeri, anak yang menjadi dokter, pejabat, atau pengusaha tajir.
Tidak salah dengan itu semua. Namun, ada ukuran yang lebih hakiki, yaitu anak yang shalih.
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Ya, anak shalih adalah investasi akhirat. Doanya mengalir deras untuk orang tua setiap malam. Setiap kali anak membaca Al-Qur’an, setiap kali anak beristigfar, setiap kali anak bersedekah, orang tua mendapat aliran pahala yang melimpah ruah. Bukankah itu harta yang sesungguhnya?
Untuk itu, marilah jangan lelah kita memanjatkan doa. Sebelum anak lahir, setelah anak lahir, bahkan hingga anak itu tumbuh dewasa. Doa adalah senjata orang tua yang paling ampuh.
Anak yang shalih Adalah harta yang tak pernah rugi. Permata yang tak pernah usang. Penyejuk mata hingga ke surga.
Semoga doa kita berharap anak-anak dan keturunan yang shalih-shalihat, semua diijabah Allah. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. []
Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic