Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gaza Bersorak untuk Spanyol di Piala Dunia 2026

Rudi Hendrik Editor : Sri Astuti - Senin, 20 Juli 2026 - 10:02 WIB

Senin, 20 Juli 2026 - 10:02 WIB

134 Views ㅤ

Para pemain sepak bola Palestina yang diamputasi menunjukkan dukungan mereka untuk Spanyol sebelum final pada Ahad, 19 Juli 2026 melawan Argentina. (Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

AHMED al-Bozm tahu persis tim mana yang akan dia dukung di final Piala Dunia.

“Saya sepenuhnya mendukung Spanyol karena mereka membela Palestina,” kata warga Palestina berusia 33 tahun itu sebelum pertandingan La Roja melawan Argentina pada Ahad, 19 Juli 2025 waktu Amerika Serikat.

Pandangan ini dipegang oleh banyak orang Palestina di Jalur Gaza, sebagian didorong oleh posisi pemerintah Spanyol selama perang genosida Israel terhadap Palestina dan ekspresi dukungan publik dari tokoh-tokoh olahraga Spanyol, termasuk bintang Barcelona, ​​Lamine Yamal.

“Kami mencintaimu dari Palestina,” kata al-Bozm, mengirimkan pesan kepada Yamal, yang pada bulan Mei mengibarkan palestina/">bendera Palestina selama parade bus terbuka Barcelona setelah mereka memenangkan kejuaraan La Liga.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

“Kami mendukungmu sepenuh hati, dan kami berharap kamu mengangkat trofi Piala Dunia dan mengibarkan palestina/">bendera Palestina juga,” tambahnya, yang kemudian harapan itu terwujud dengan kemenangan Spanyol atas Argentina di final Piala Dunia 2026 di New Jersey, AS.

Seiring meningkatnya antisipasi global menjelang final, kegembiraan juga melanda Gaza, meskipun mengikuti jalannya turnamen menjadi semakin sulit setelah lebih dari dua tahun serangan Israel.

“Orang hanya bisa menonton pertandingan jika listrik tersedia, tetapi generator mati karena bahan bakar langka dan terlalu mahal,” kata Adnan al-Afifi, mantan pemain sepak bola dan manajer stadion. “Warga Palestina biasa yang menanggung akibatnya.”

Untuk mencoba menghidupkan kembali semangat olahraga yang sebagian besar telah hilang selama perang, Afifi telah menyelenggarakan pertandingan ekshibisi bertema Piala Dunia di palestina/">Klub Olahraga Palestina di Kota Gaza, satu-satunya klub sepak bola yang masih beroperasi dan dapat diakses oleh pemain di Jalur Gaza.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Pada hari Kamis dan Sabtu (18/7), klub tersebut menggelar dua pertandingan simulasi Piala Dunia antara tim yang mewakili Palestina dan Spanyol.

Acara tersebut menampilkan wasit dan bahkan sistem asisten wasit video (VAR) simbolis untuk memberi para pemain pengalaman pertandingan internasional profesional.

“Suasananya penuh semangat dan positif, dan itu adalah bentuk dukungan terbesar kami untuk tim nasional Spanyol,” kata al-Afifi, 37 tahun.

Sikap yang sangat berarti bagi Palestina

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Pada Mei 2024, pemerintah Spanyol secara resmi mengakui Negara Palestina.

Perdana Menteri Pedro Sanchez mengatakan, langkah tersebut dimaksudkan untuk mendukung solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina dan membantu mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza, sementara ia juga menyerukan gencatan senjata dan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Beberapa atlet dan pelatih tim nasional Spanyol juga telah menyatakan solidaritas kepada rakyat Gaza, termasuk Yamal dan mantan pelatih Manchester City Pep Guardiola, sikap yang telah menjadi simbol lebih dari sekadar sepak bola bagi warga Palestina.

“Seluruh rakyat Palestina berharap Spanyol memenangkan Piala Dunia,” kata Hatem al-Maghribi, kepala pelatih tim sepak bola amputasi Gaza, Gaza al-Irada (Tekad Gaza).

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

“Para pemain ini kehilangan kaki dan tangannya, tetapi mereka tidak kehilangan kata-kata terima kasih, cinta, dan penghargaan mereka kepada mereka yang berdiri bersama Palestina,” tambah al-Maghribi sambil juga berterima kasih kepada pelatih Mesir Hossam Hassan karena secara terbuka mendukung Palestina selama Piala Dunia.

“Sikap-sikap ini sangat berarti bagi kami,” kata al-Afifi.

“Hal itu membuat kami merasa bahwa ada seseorang yang melihat apa yang kami alami.”

Mantan pemain itu mengatakan, sepak bola di Gaza perlahan menunjukkan tanda-tanda pemulihan meskipun dilanda kehancuran akibat perang, tetapi masih ada hambatan.

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

“Semua stadion utama di Gaza tidak dapat digunakan karena pengungsian dan situasi keamanan,” kata a-Afifi.

Ia mengenang bermain di stadion-stadion utama Gaza selama 25 tahun terakhir, dari Rafah di selatan hingga Beit Hanoon di utara. Ia pun menyesalkan banyaknya stadion yang telah hancur atau diubah menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.

Untuk saat ini, sepak bola di Gaza terbatas pada lapangan sepak bola lima lawan lima, di mana palestina/">Asosiasi Sepak Bola Palestina menyelenggarakan turnamen lokal kecil untuk menjaga agar para pemain tetap terhubung dengan permainan tersebut. []

Sumber: Al Jazeera

Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda