Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang Panas di Jerman Rusak Rel Kereta Trem

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 30 Juni 2026 - 03:48 WIB

Selasa, 30 Juni 2026 - 03:48 WIB

79 Views ㅤ

Kereta Trem dalam kota (foto: IG)

Berlin, MINA – Gelombang panas ekstrem yang melanda Jerman menyebabkan layanan transportasi trem di Kota Leipzig terganggu setelah suhu tinggi merusak jalur rel.

Material perekat pada konstruksi rel dilaporkan meleleh akibat temperatur yang menembus lebih dari 41 derajat Celsius, sehingga otoritas setempat menghentikan sementara operasional sejumlah jalur demi alasan keselamatan. Al-Jazeera melaporkan, Senin (29/6).

Perusahaan transportasi setempat bersama pemerintah kota segera melakukan inspeksi terhadap kondisi rel dan infrastruktur pendukung.

Selain rel yang mengalami deformasi akibat panas, lapisan bitumen yang digunakan sebagai perekat di sekitar jalur trem juga mencair dan menutupi sebagian lintasan. Layanan baru akan dipulihkan secara bertahap setelah seluruh jalur dipastikan aman untuk dilintasi.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Gelombang panas kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah modern Jerman. Badan Meteorologi Jerman (DWD) mencatat suhu mencapai sekitar 41,7 derajat Celsius di wilayah Brandenburg, memecahkan rekor sebelumnya.

Bahkan suhu pada malam hari tercatat sebagai yang tertinggi sejak pencatatan resmi dimulai hampir 150 tahun lalu, memperlihatkan bahwa panas ekstrem berlangsung tanpa jeda.

Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan sektor transportasi. Di sejumlah wilayah Jerman, jalan raya mengalami kerusakan akibat aspal yang melunak, sementara operator kereta api dan layanan publik meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan infrastruktur.

Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa negara Eropa lainnya yang tengah menghadapi gelombang panas berkepanjangan sebagai dampak perubahan iklim.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengingatkan bahwa gelombang panas merupakan salah satu bencana alam paling mematikan di Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan kematian dikaitkan dengan suhu ekstrem, terutama di kalangan lansia, penderita penyakit kronis, serta kelompok rentan lainnya. Para ilmuwan juga menilai frekuensi dan intensitas gelombang panas terus meningkat seiring perubahan iklim global.

Pemerintah Jerman mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memperhatikan kelompok rentan yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.

Otoritas transportasi juga terus memantau kondisi jaringan rel agar layanan dapat kembali beroperasi secara normal tanpa mengabaikan faktor keselamatan penumpang. []

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Internasional
Internasional
Internasional
Eropa