Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 25 Ribu Orang

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:05 WIB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:05 WIB

25 Views ㅤ

Gelombang panas yang melanda Eropa (FOTO: news.sky.com)

Jakarta, MINA – Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Eropa sepanjang 2026 diperkirakan telah menyebabkan lebih dari 25 ribu kematian.

Angka tersebut dihimpun dari data nasional di Jerman, Prancis, Spanyol dan Italia, yang menunjukkan dampak serius cuaca panas ekstrem terhadap kesehatan masyarakat.

Gelombang panas terjadi berulang sejak Mei dan kembali menguat pada pertengahan Agustus. Sekitar 135 juta orang diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius pada 13 Agustus, sementara sejumlah wilayah Prancis mencatat suhu hingga 42 derajat Celsius.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut panas ekstrem kini semakin sering, lebih intens, berlangsung lebih lama dan mencakup wilayah yang semakin luas. Al-Jazeera melaporkan.

Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon

Jerman mencatat dampak kematian terbesar di antara empat negara tersebut, dengan sekitar 14 ribu kematian akibat panas ekstrem sepanjang 2026 menurut laporan Robert Koch Institute.

Prancis melaporkan lebih dari 7.300 kematian berlebih selama gelombang panas, sedangkan Spanyol mencatat hampir 4.500 kematian terkait cuaca panas hingga 19 Agustus.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 10.650 kematian berlebih terjadi di kawasan Eropa hanya dalam periode 22-28 Juni.

Lebih dari 9.000 di antaranya merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Data tersebut menunjukkan kelompok lanjut usia menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan panas ekstrem.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Selain mengancam kesehatan, suhu ekstrem juga memicu dampak lingkungan dan infrastruktur. Sejumlah negara Eropa mengalami kebakaran hutan, sementara kondisi panas berkepanjangan turut menekan ketersediaan air dan sistem energi.

Di Rumania, misalnya, pembangkit listrik tenaga nuklir Cernavoda terpaksa menghentikan operasinya setelah permukaan Sungai Danube turun akibat gelombang panas berkepanjangan.

WMO menilai peningkatan intensitas gelombang panas merupakan bagian dari perubahan pola iklim yang semakin nyata. Eropa juga tercatat sebagai benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat sistem peringatan dini, perlindungan kelompok rentan serta kesiapsiagaan menghadapi cuaca panas ekstrem yang berpotensi semakin sering terjadi. []

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Eropa
Eropa
Eropa
Eropa