Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Genosida Israel Ancam Kelangsungan Industri Madu di Gaza

sri astuti Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 21 Juli 2026 - 22:11 WIB

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:11 WIB

14 Views ㅤ

Petani lebah Palestina terus berupaya melestarikan sarang meski di tengah kesulitan akibat genosida yang masih berlangsung. (Foto: Anadolu)

Gaza, MINA – Sektor peternakan lebah Gaza menghadapi risiko keruntuhan karena genosida Israel telah menghancurkan peternakan, memusnahkan vegetasi, dan mencegah peternak mencapai area penggembalaan utama di Jalur Gaza timur.

Menurut data tahun 2025 dari Koperasi Peternak Lebah di Gaza, sektor produksi madu dan peternakan lebah telah mengalami kerugian yang diperkirakan sekitar $39 juta sejak Oktober 2023.

Koperasi tersebut mengatakan hampir 30.000 sarang lebah hancur. Sebelum perang, sarang-sarang tersebut memasok pasar lokal Gaza dengan sekitar 380 hingga 400 ton madu setiap tahunnya.

Kerusakan tersebut juga memengaruhi mata pencaharian di seluruh sektor, dengan Israel menghancurkan lebih dari 85% vegetasi dan area penggembalaan hutan, menyebabkan lebih dari 6.000 pekerja kehilangan pekerjaan dan merugikan pendapatan 905 peternak lebah terdaftar di seluruh Gaza pada pertengahan tahun 2026.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Di kota Al-Zawaida di Gaza tengah, peternak lebah Palestina Amin Eid dan putranya terus merawat beberapa sarang lebah yang tersisa di tengah kehancuran, mencoba melestarikan profesi yang diwarisi keluarga.

“Gaza memiliki 905 peternak lebah sebelum perang dan biasa mengekspor madu yang diproduksi secara lokal, tetapi perang secara radikal mengubah realitas profesi ini,” kata Eid kepada Anadolu.

“Kemajuan tentara Israel dan pemberlakuan apa yang disebut ‘Garis Kuning’ mencegah peternak lebah mencapai daerah di sebelah timur Jalan Salah al-Din, yang merupakan salah satu zona penggembalaan utama bagi lebah,” katanya.

“Peternak lebah yang dulunya memiliki 300, 400, atau bahkan 500 sarang lebah sekarang hanya memiliki 10 atau 20 dan mencoba memulai kembali dengan sumber daya paling sedikit dan biaya paling tinggi,” ujar Eid.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

“Ketidakamanan dan pembatasan akses yang terus berlanjut ke wilayah timur mencegah peternak lebah untuk memindahkan sarang lebah mereka, karena setiap upaya untuk memindahkannya ke sana akan membahayakan pemiliknya,” kata Eid.

Ia juga menyebut kenaikan biaya produksi yang sangat tinggi, dengan mengatakan bahwa sekotak lembaran lilin telah naik dari sekitar 30 shekel ($9,83) sebelum perang menjadi antara 1.200 shekel ($393,20) dan 1.500 shekel ($491,50), sementara harga bingkai sarang lebah telah mencapai 15 shekel ($4,92) hingga 20 shekel ($6,55).

Para peternak lebah juga menghadapi kekurangan kayu dan kotak yang dibutuhkan untuk membangun kembali sarang lebah. Krisis ini memburuk setelah beberapa orang menggunakan bagian-bagian sarang lebah yang rusak sebagai kayu bakar selama kekurangan bahan bakar dan kelaparan.

Eid mendesak organisasi internasional dan kelompok pertanian untuk menyediakan perlengkapan peternakan lebah, termasuk lilin, bingkai, kotak, dan gula, serta memungkinkan para peternak lebah untuk mengakses area penggembalaan alami yang aman.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

“Gaza memiliki kapasitas untuk menghasilkan madu alami berkualitas tinggi, tetapi pembatasan Israel mencegahnya untuk menggunakan sumber daya ini,” katanya.

“Dulu kami menyebut madu sebagai emas kuning. Kami dapat mencapai swasembada jika pasokan tersedia dan area penggembalaan dibuka kembali,”ucapnya.

Meskipun terjadi kerusakan, peternak lebah Gaza terus mencari alternatif untuk melestarikan sarang, termasuk memindahkannya ke daerah pesisir dan lingkungan perumahan serta mengandalkan tanaman liar kecil, karena sektor ini tetap menjadi sumber utama ketahanan pangan dan pendapatan bagi ratusan keluarga Palestina yang berjuang untuk bertahan hidup. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Rekomendasi untuk Anda