Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guru-Guru di Palestina, Cahaya Pendidikan yang Tak Pernah Padam di Tengah Penjajahan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:58 WIB

Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:58 WIB

33 Views ㅤ

Guru di Jalur Gaza, Palestina tetap mengajar di tenda pengungsian di atas reruntuhan bangunan. (World Arabia)

BISA kita bayangkan: kita kehilangan kedua kaki, rumah rata dengan tanah, dan sekolah tempat kita mengabdi telah menjadi tumpukan puing. Namun setiap pagi, kita masih bermimpi untuk kembali mengajar.

Itulah Said Khalil Azzam, seorang guru di Jalur Gaza, Palestina. Ketika tempat yang ia kunjungi untuk mengisi daya laptop, yang ia butuhkan untuk menyiapkan materi Pelajaran, dihantam bom Zionis Israel. Ia baru sadar delapan hari kemudian di rumah sakit bahwa kedua kakinya telah diamputasi .

“Saya merasakan sebahagian besar hidup saya telah direnggut,” katanya. Namun ia tetap membaca buku, mengunjungi reruntuhan sekolahnya, dan berharap suatu hari bisa kembali ke kelas.

Said bukanlah satu-satunya. Di tengah genosida yang telah merenggut lebih dari 500 guru dan tenaga pendidik serta 10.490 siswa, para pahlawan tanpa tanda jasa ini tetap mengajar. Mereka tetap mengajar di tenda pengungsian, di atas reruntuhan, dengan papan tulis dari kardus, dan tanpa gaji. Mereka adalah bukti bahwa pendidikan adalah perlawanan.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Kelas Darurat di Tengah Puing

Setelah rumahnya yang berlantai empat rata dengan tanah akibat serangan Zionis Israel, Israa Abu Mustafa mendirikan ruang kelas di dlam tenda, di atas reruntuhan bangunan. Proyeknya dimulai dengan 35 murid, lalu bertambah menjadi 70, dari prasekolah hingga kelas enam.

Israa mengajar dengan sumber daya yang sangat terbatas. Tanpa meja dan tanpa kursi, anak-anak terpaksa menulis di tanah. Namun ia tetap mengajarkan pelajaran dasar termasuk agama, sambil berusaha menjaga anak-anak tetap terlibat meskipun dibombardir tanpa henti.

Di kamp pengungsi Nuseirat, Enas Mohammed juga mendirikan tenda belajar dengan kain nilon. Tanpa papan tulis, ia menggunakan selembar kardus besar untuk mengajar membaca, menulis, dan menggambar.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

“Saya tidak tega melihat anak-anak duduk tanpa melakukan apa pun, tanpa sekolah, bahkan tanpa buku catatan. Jadi saya memutuskan untuk memulai sekolah kecil dan mengajari mereka apa pun yang saya bisa,” katanya.

Sementara itu, Intisar Al-Arabid memulai inisiatif mengajar gratis di Rafah karena melihat anak-anak mengalami tekanan jiwa akibat situasi mengerikan.

Samir Awadallah, seorang guru bahasa Arab, terinspirasi oleh Intisar dan ia pun ikut mengajar di pengungsian. Mereka semua mengajar secara sukarela, tanpa gaji, tanpa fasilitas, hanya dengan semangat.

Semangat Tetap Utuh

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Kisah Said Khalil Azzam (33 tahun), warga Kamp Pengungsi Al-Bureij, adalah salah satu yang paling mengharukan. Ia sedang menyiapkan bahan pembelajaran untuk murid-muridnya ketika kamp pengungsiannya dihantam bom Zionis Israel.

Ia baru sadar delapan hari kemudian di rumah sakit, dan mengetahui bahwa kedua kakinya telah diamputasi.

“Mengajar ialah impian saya sejak kecil,” katanya.

Ia mengakui bahwa kehilangan kedua kakinya tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memukul keras kehidupan profesionalnya sebagai guru. Mengajar adalah profesi yang menuntut banyak aktivitas fisik, mulai dari berdiri di kelas, menulis di papan tulis, hingga berinteraksi langsung dengan para siswa.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Namun, ia tidak menyerah. Azzam tetap setia pada dunia pendidikan dengan membaca buku dan mempertahankan pengetahuan profesionalnya. Ia kadang-kadang meminta teman-temannya untuk mengantarkannya ke sekolah tempatnya mengajar dulu, meskipun bangunan itu telah dihancurkan oleh penjajah.

“Apabila saya ke sana, saya teringat anak murid saya dan hari-hari saya sebagai guru. Ia membuatkan saya berasa bahwa saya masih di sini,” jelasnya. Ia berharap mendapatkan kaki palsu agar bisa mengajar semula.

Kisah Azzam adalah bukti bahwa kehilangan fisik tidak menghilangkan semangat untuk mendidik.

Guru Terbaik Dunia dari Palestina

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Di sisi lain yang lebih inspiratif, ada Hanan Al-Hroub, guru Muslimah dari kamp pengungsi Bethlehem yang pada 2016 dinobatkan sebagai guru terbaik dunia dalam ajang Global Teacher Prize. Ia  mengalahkan 8.000 kandidat dari hampir 150 negara.

Ia meraih hadiah $1 juta (sekitar 18 miliar rupiah) dan mendapat pengakuan dari berbagai tokoh dunia. Termasuk dari Paus Fransiskus, dan pendiri Microsoft Bill Gates.

Apa yang membuat guru Hanan istimewa? Ia mengembangkan pendekatan “bermain sambil belajar” untuk mengatasi kekerasan dan trauma yang dialami anak-anak Palestina. Metodenya, yang dituangkan dalam bukunya “We Play and Learn”, berhasil menurunkan perilaku kekerasan di sekolah, sesuatu yang sering terjadi di lingkungan konflik.

Hanan memutuskan menjadi guru setelah putrinya mengalami trauma berat menyaksikan penembakan sepulang sekolah.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

“Kami bisa mengajar anak-anak menjadi efektif dan inventif melalui berbagai konteks yang mencakup hiburan, menggambar, dan gerakan,” katanya.

“Kami perlu membantu anak-anak dengan pertanyaan, dialog, berpikir, dan merasakan untuk membantu mereka mengekspresikan diri,” lanjutnya.

Ia adalah bukti bahwa dari kamp pengungsian, lahirlah guru yang menginspirasi dunia.

Ratusan Guru yang Gugur

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Namun, di balik kisah Hanan yang inspiratif, ada kisah kelam yang tak terhitung. Ghada Rabah adalah salah satu dari lebih dari 500 guru dan tenaga pendidik yang gugur akibat serangan Zionis Israel. Ia bekerja dengan lembaga kemanusiaan AMIDEAST dan memimpin yayasan Right to Play.

Pada September 2025, rumahnya di Tel al-Hawa dibom oleh Zionis Israel. Ia memohon pertolongan selama 72 jam, namun tim penyelamat baru diizinkan masuk setelah rumahnya rata dengan tanah.

Seorang rekannya, jurnalis Nour Osama, mengenang, “Bahkan saat sakit, ia tetap membuat muridnya merasa diperhatikan. Kehilangannya membuktikan bahwa rakyat Palestina menginginkan kehidupan, sementara Israel hanya membawa kematian dan kehancuran”.

Menurut data PBB, lebih dari 85% sekolah di Gaza telah hancur total atau sebagian. Sistem pendidikan yang dulu menjadi kebanggaan Palestina, dengan tingkat literasi hampir 97%, salah satu tertinggi di dunia Arab, kini tinggal kenangan.

Baca Juga: Sembilan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza

Pendidikan Sebagai Perlawanan

Dr. Ritesh Shah dari Universitas Auckland, yang meneliti pendidikan di Gaza, mengatakan, “Just turning up to teach is a political act. It’s an act of resistance and defiance, of solidarity and resilience”. (Mengajar bukan sekadar hadir, ia adalah tindakan politik. Itu adalah tindakan perlawanan dan penentangan, solidaritas, dan ketahanan).

Penelitiannya mencatat bahwa lebih dari 700 guru telah terbunuh sejak konflik dimulai, dan para penyintasnya menghadapi kelaparan, kekurangan air, dan ketidakamanan konstan, namun mereka tetap mengajar.

Saleh Albalawi, seorang peneliti Palestina, menambahkan, “Education has long held a central place in Palestinian society. It’s a pathway to dignity, opportunity, and collective steadfastness, known as ‘sumud’ in Palestinian culture”. (Pendidikan telah lama memegang tempat sentral dalam masyarakat Palestina. Itu adalah jalan menuju martabat, kesempatan, dan keteguhan kolektif, yang dikenal sebagai Sumud dalam budaya Palestina).

Baca Juga: Eisenkot Janji akan Segera Manfaatkan Mayoritas di Knesset ‘Lawan Pemerintahan 7 Oktober’

Serene Nasrallah, dosen bahasa Inggris di Universitas Islam Gaza, menggambarkan bagaimana perang telah mengubah total perannya sebagai pendidik. Dengan pemadaman listrik total dan gangguan internet, ia hanya bisa berbagi slide melalui ponsel.

“Tingkat akademis mahasiswa sangat terdampak,” katanya.

Ia mengingat kematian seorang mahasiswa yang meminta penundaan ujian karena luka-luka.

“Bagaimana Anda bisa meminta seseorang untuk fokus belajar tata bahasa ketika tubuhnya terbakar dan patah?”

Baca Juga: Blok Netanyahu Dipastikan Tak Dapat Koalisi Pascapemilu Israel

Namun Serene tetap mengajar. “Saya melakukannya dengan harapan demi pahala dari Allah. Pengalaman ini jug suatu hari bisa membantu saya mendapatkan beasiswa untuk beljar lebih tinggi lagi di luar negeri.”

Ilmu adalah Senjata yang Tak Bisa Dibom

Begitulah, guru-guru Palestina mengajarkan kita bahwa pendidikan tidak akan pernah mati, sekalipun dibombardir. Mereka mengajar di tenda, di atas reruntuhan, tanpa gaji, dan tanpa fasilitas. Mereka kehilangan kaki, rumah, bahkan nyawa, tapi tidak pernah kehilangan semangat untuk mendidik generasi masa depan.

Seperti yang dikatakan Nadera Moshtaha, mahasiswa senior jurusan Bahasa Inggris di Gaza, “Kami melawan bukan hanya dengan senjata, tapi dengan ilmu, keteguhan, dan ketahanan. Pendidikan itu sendiri adalah bentuk perlawanan”.

Kisah Said Khalil Azzam, Israa Abu Mustafa, Hanan Al-Hroub, dan ribuan guru lainnya adalah cahaya di tengah genosida. Sebuah bukti bahwa mimpi tidak bisa dibom, dan masa depan tidak bisa dirampas.

Penulis, Ali Farkhan Tsani adalah Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda