Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hari Keenam Pencarian Lima Wartawan di Selat Sunda Masih Nihil, Keluarga Terus Berdoa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 13 September 2026 - 14:50 WIB

Ahad, 13 September 2026 - 14:50 WIB

47 Views ㅤ

Peta Gunung Anak Krakatau (GAK) dan sekitarnya. (Narodna Tribuna)

Pandeglang, MINA – Memasuki hari keenam operasi pencarian, nasib lima wartawan dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menyisakan tanda tanya besar.

Tim SAR gabungan terus memperluas area pencarian, namun hingga Ahad (13/9) siang, belum ada tanda-tanda keberadaan delapan orang tersebut alias nihil.

Tim Basarnas Banten memperluas wilayah pencarian pada hari keenam menjadi 6.010 nautical mile persegi (NM²), melibatkan unsur laut, udara, dan darat. Operasi didukung helikopter HR 3604 serta dua unit drone thermal Basarnas.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengatakan pencarian dibagi menjadi beberapa sektor. Sebanyak 15 kapal dan satu helikopter dengan dukungan sekitar 300 personel gabungan dikerahkan.

Baca Juga: Ketua Maemuna Center Indonesia: Palestina Ujian bagi Nurani

Pada hari keenam, fokus pencarian diarahkan ke Sektor X, wilayah perairan sebelah selatan Gunung Anak Krakatau, dengan luas area sekitar 681 NM².

Dari sisi Lampung, RIB 02 Pos SAR Bakauheni menyisir jalur mulai dari Tanjung Tua, perairan Pulau Sebesi, GAK hingga Pulau Sangiang=.

Ditemukan Helm, Pelampung, dan Jeriken

Meski para korban belum ditemukan, tim SAR telah menemukan sejumlah benda yang diduga terkait dengan rombongan tersebut.

Baca Juga: Sarbini Abdul Murad: Panas di Monas Tak Seberapa Dibanding Gaza

Tim SAR Banten merinci temuan berupa dua helm, pelampung (life jacket), serta sebuah jeriken berwarna biru.

Benda-benda itu ditemukan oleh Kapal Motor (KM) Sartantuka di perairan selatan Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (12/9).

Helm ditemukan sekitar pukul 12.33 WIB dan 17.10 WIB, sementara pelampung berwarna oranye dan merah ditemukan pukul 18.09 WIB. Sebelumnya, sebuah jeriken minyak berwarna biru ditemukan pada pukul 10.05 WIB.

Seluruh benda yang ditemukan telah dibawa ke Dermaga Ciwandan untuk proses identifikasi. Tim SAR belum dapat memastikan apakah benda-benda tersebut berkaitan dengan delapan orang yang hilang.

Baca Juga: Ahmad Shobri Lubis, Ketua PA 212: Gaza Tetap Teguh, Palestina Segera Merdeka

Sampai Kapan Pencarian Berlanjut?

Basarnas menegaskan operasi pencarian akan terus dilakukan secara maksimal. Meski demikian, sesuai standar internasional (IAMSAR), operasi SAR umumnya dievaluasi pada hari ketujuh. Kepala Basarnas sebelumnya menyatakan akan ada rapat evaluasi menyeluruh pada hari ketujuh untuk menentukan langkah selanjutnya.

Al Amrad menekankan operasi tetap mengutamakan keselamatan personel dengan mempertimbangkan kondisi cuaca.

Harapan Keluarga

Baca Juga: Ketua PP Wanita Islam: Dari Monas Kita Ketuk Pintu Langit untuk Kemerdekaan Palestina

Di tengah ketidakpastian, keluarga para korban terus memanjatkan doa. Diah Nasution, istri jurnalis iNews Yudistiro Pranoto, hanya bisa berdoa dan berharap sang suami bersama seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

“Pulang dengan selamat,” ungkap Diah, menyampaikan harapannya.

Sejumlah keluarga dan kerabat juga telah berdatangan ke posko SAR di kawasan Carita untuk memantau langsung operasi pencarian. Polda Banten bahkan telah mengambil sampel DNA dari para keluarga untuk keperluan identifikasi.

Gubernur Banten Andra Soni tampak hadir di posko pencarian. Ia menyampaikan bahwa pihak keluarga berharap proses pencarian juga dilakukan via udara menggunakan helikopter. Namun, pengerahan helikopter sempat terkendala cuaca dan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Baca Juga: Orasi Herman Budianto, Alumni Global Sumud Flotilla: Untuk Apa di Sini? Untuk Mendukung Palestina!

Pandangan Pakar: Peluang Bertahan di Pulau Sekitar

Peneliti Krakatau yang telah puluhan tahun mengamati kawasan tersebut, Prof. Tukirin Parto Miharjo, mengungkapkan bahwa peluang para korban untuk bertahan hidup sangat bergantung pada lokasi tempat mereka kemungkinan terdampar.

Menurut Prof. Tukirin, Pulau Sertung memiliki peluang bertahan hidup tertinggi karena merupakan satu-satunya pulau yang memiliki sumber air tawar, bahkan ketika musim kemarau.

Sementara Pulau Rakata juga memungkinkan untuk bertahan hidup selama beberapa hari, terutama jika korban memiliki peralatan memadai. Di Rakata, air tawar bisa didapat dengan menggali sumur, dan terdapat tumbuhan yang bisa dimakan seperti tangkil, salam, cabai hutan, dan pepaya hutan.

Baca Juga: Annisa Theresia dan Maqdisy Talent Semarakkan Pembukaan BSP 2026

Berbeda dengan kedua pulau itu, Pulau Panjang dinilai kurang memungkinkan untuk bertahan dalam waktu lama karena mengalami kerusakan parah akibat tsunami 2018, sehingga vegetasi dan sumber daya alamnya sangat terbatas.

Gelombang Laut

Pakar vulkanologi ITB, Mirzam Abdurrachman, mengingatkan bahwa gelombang laut di sekitar Gunung Anak Krakatau bersifat kompleks dan bisa menyebabkan arah serta kecepatan yang berbeda di tiap level. Arah gelombang di permukaan bisa saja berbeda dengan arah gelombang di level yang lebih dalam.

Selain itu, aktivitas vulkanik yang masih belum stabil, meski statusnya mulai menurun, tetap menjadi tantangan. Lontaran batu, abu, dan potensi aliran erupsi bisa mempengaruhi jarak pandang dan keselamatan tim di lapangan. []

Baca Juga: Santri Al-Fatah Cikampek Pukau Monas dengan Teatrikal Perjuangan Palestina

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Dunia Islam
MINA Sport
Info MINA