New Delhi, MINA — Kepemimpinan India dalam blok BRICS menuai sorotan dan kritik di tengah dinamika geopolitik global yang kian tajam. Meski mengeklaim membawa aspirasi Global South, India dinilai berada dalam posisi ambigu karena tetap menjaga kedekatan strategis dengan Amerika Serikat dan kekuatan Barat, yang selama ini justru menekan negara-negara berkembang.
India berulang kali menyatakan ingin menjadikan BRICS sebagai wadah perjuangan bersama negara-negara Selatan Global untuk melawan dominasi Barat. Namun di sisi lain, New Delhi tetap memperkuat kerja sama pertahanan, ekonomi, dan teknologi dengan Washington, termasuk dalam kerangka Indo-Pacific Strategy yang kerap dipandang sebagai alat geopolitik Amerika Serikat untuk membendung kekuatan alternatif dunia.
Sikap ini memunculkan kritik terkait standar ganda India, yang di satu sisi berbicara soal kemandirian Global South, tetapi di sisi lain dinilai enggan mengambil posisi tegas terhadap kebijakan Barat yang merugikan negara berkembang, termasuk sanksi sepihak, tekanan ekonomi, dan konflik geopolitik yang berdampak luas pada dunia Muslim dan negara-negara Selatan. CNA melaporkan, Senin (29/12)
Sejumlah pengamat menilai kepemimpinan India di BRICS akan diuji oleh kemampuannya menjaga independensi politik luar negeri dan konsistensi sikap. Tanpa keberanian mengambil jarak dari kepentingan Barat, peran India dikhawatirkan justru melemahkan semangat BRICS sebagai kekuatan penyeimbang dalam tatanan dunia multipolar.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
BRICS sendiri kini memikul harapan besar setelah perluasan keanggotaan yang mencakup negara-negara Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Blok ini diharapkan menjadi platform nyata untuk memperjuangkan keadilan ekonomi global, reformasi lembaga keuangan internasional, serta penolakan terhadap hegemoni politik dan ekonomi negara besar.
Dengan posisi strategis yang dimilikinya, India dituntut membuktikan bahwa kepemimpinannya bukan sekadar simbolik. Komitmen nyata terhadap kepentingan Global South akan menjadi ukuran apakah BRICS benar-benar mampu tampil sebagai kekuatan alternatif, atau justru terjebak dalam kepentingan pragmatis negara anggotanya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic