Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia Butuh AI, tetapi Lebih Membutuhkan Generasi Berkarakter

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 10 Juli 2026 - 06:27 WIB

Jumat, 10 Juli 2026 - 06:27 WIB

52 Views ㅤ

Dr. Kader Munir, M.Pd, Dosen STIT Al Wasliyah Binjai Sumatera Utara. (FOTO: for MINA)

Oleh Kader Munir, Dosen STIT Al Wasliyah Binjai Sumatera Utara

INDONESIA sedang memasuki babak baru dalam dunia pendidikan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) hadir dengan segala kemudahannya. Siswa dapat menyelesaikan tugas dalam hitungan menit, guru memperoleh berbagai perangkat pembelajaran secara instan, sementara perguruan tinggi mulai memanfaatkan AI untuk riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kemajuan ini merupakan keniscayaan yang tidak mungkin ditolak.

Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting. Apakah pendidikan kita sedang melahirkan generasi yang semakin cerdas, atau justru generasi yang semakin bergantung pada mesin?

Fenomena penyalahgunaan AI untuk mengerjakan tugas, maraknya plagiarisme, menurunnya kejujuran akademik, hingga lunturnya etika digital menunjukkan bahwa persoalan utama pendidikan Indonesia bukanlah kekurangan teknologi, melainkan lemahnya karakter. AI memang mampu membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi tidak dapat mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, empati, maupun adab.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Di sinilah pendidikan diuji. Sebab, tujuan pendidikan sesungguhnya bukan hanya menghasilkan lulusan yang mahir menggunakan teknologi, tetapi membentuk manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara benar dan bertanggung jawab.

Pendidikan Harus Tetap Memanusiakan Manusia

Jauh sebelum era digital, Ki Hajar Dewantara telah menegaskan bahwa pendidikan bertujuan menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan sebagai individu maupun anggota masyarakat. Buya Hamka pun mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh dipisahkan dari iman dan akhlak.

Dalam perspektif Islam, tujuan pendidikan bahkan lebih luas lagi. Pendidikan (tarbiyah) adalah proses membentuk manusia yang utuh; memiliki ilmu, iman, akhlak, serta kesiapan menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Karena itu, teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan. AI dapat mempercepat akses terhadap ilmu pengetahuan, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan keteladanan guru, sentuhan orang tua, maupun proses pembentukan karakter yang berlangsung melalui interaksi, pembiasaan, dan pendidikan nilai.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menyebut krisis terbesar pendidikan modern bukanlah kekurangan ilmu, melainkan loss of adab atau hilangnya adab. Ketika adab memudar, ilmu kehilangan arah, teknologi berubah menjadi alat yang dapat disalahgunakan, dan pendidikan gagal melahirkan manusia yang bermoral.

Sejarah Islam justru menunjukkan sebaliknya. Melalui sistem pendidikan Ash-Shuffah yang dibangun Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, lahirlah generasi sahabat yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, kepemimpinan, keberanian, kepedulian sosial, dan keteguhan iman. Mereka menjadi pelopor peradaban karena karakter dibangun lebih dahulu sebelum keterampilan.

Pandangan tersebut juga mendapat penguatan dari dunia internasional. UNESCO melalui AI Competency Framework menegaskan bahwa pemanfaatan AI harus dibarengi etika dan tanggung jawab. OECD melalui PISA juga menempatkan berpikir kritis, kolaborasi, dan etika digital sebagai kompetensi utama abad ke-21. Dengan kata lain, dunia pun menyadari bahwa kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa karakter.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Saatnya Membangun Pendidikan yang Berkarakter

Karena itu, transformasi pendidikan Indonesia tidak boleh berhenti pada digitalisasi sekolah atau penggunaan AI dalam pembelajaran. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan karakter.

Penulis menawarkan Model Transformasi Pendidikan 3I, yaitu: Integrasi, Internalisasi, dan Implementasi.

Integrasi berarti menempatkan AI sebagai alat untuk mendukung tujuan pendidikan, bukan menggantikannya. Teknologi harus memperkuat proses belajar, bukan menghilangkan kreativitas, daya kritis, maupun kejujuran peserta didik.

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Internalisasi berarti menanamkan nilai tarbiyah, adab, akhlak, integritas, dan etika digital dalam seluruh proses pendidikan. Sebab, kecerdasan tanpa moral hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi kehilangan arah.

Sementara itu, Implementasi mengharuskan adanya kolaborasi antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Pendidikan karakter tidak mungkin berhasil apabila hanya dibebankan kepada guru. Seluruh lingkungan harus menjadi ruang pendidikan yang menanamkan nilai dan keteladanan.

Guru pada era AI bukan lagi sekadar penyampai materi. Mereka menjadi pembimbing, inspirator, sekaligus teladan yang mengajarkan bagaimana menggunakan ilmu dan teknologi untuk kemaslahatan. Demikian pula orang tua, yang memiliki peran strategis dalam membangun budaya jujur, disiplin, dan bertanggung jawab sejak dini.

Indonesia tentu membutuhkan AI agar mampu bersaing di tingkat global. Namun, bangsa ini jauh lebih membutuhkan generasi yang memiliki akhlak, integritas, dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi. Sebab, kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi ancaman bagi peradaban, sedangkan teknologi yang dipandu iman, adab, dan moral akan menjadi kekuatan besar untuk membangun masa depan bangsa.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Generasi Emas Indonesia 2045 tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang mengendalikannya. Jika AI dipadukan dengan pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, adab, dan karakter, Indonesia tidak hanya akan memiliki generasi yang unggul secara intelektual, tetapi juga generasi yang mampu menghadirkan kemajuan yang membawa keberkahan bagi bangsa dan kemanusiaan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

Rekomendasi untuk Anda