Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inflasi Tinggi Jadi Ancaman Politik Trump Jelang Pemilu Paruh Waktu

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 13 Mei 2026 - 20:18 WIB

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:18 WIB

22 Views ㅤ

ilustrasi Pemilu AS (foto: Ist)

Washington, MINA – Tekanan ekonomi kembali membayangi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah inflasi dan tingginya biaya hidup dinilai semakin membebani masyarakat menjelang pemilu paruh waktu di negara itu.

Kondisi tersebut memicu kritik politik karena warga masih menghadapi mahalnya harga kebutuhan pokok, perumahan, hingga tarif listrik. Al-Jazeera melaporkan, Rabu (13/5).

Sejumlah laporan ekonomi menunjukkan, meskipun laju inflasi AS mulai melambat dibanding periode sebelumnya, harga barang kebutuhan sehari-hari belum mengalami penurunan signifikan.

Warga AS justru masih mengeluhkan mahalnya biaya hidup yang dinilai tidak sejalan dengan janji pemulihan ekonomi pemerintah. Tingginya suku bunga kredit perumahan juga membuat banyak masyarakat kesulitan membeli rumah atau memenuhi cicilan.

Baca Juga: Luksemburg Siapkan Aturan Larang Produk Permukiman Israel

Pengamat ekonomi menilai isu inflasi berpotensi menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dukungan publik terhadap Partai Republik dalam pemilu mendatang.

Survei sejumlah lembaga di AS menunjukkan banyak warga lebih memperhatikan harga pangan, biaya energi, dan kebutuhan rumah tangga dibanding indikator ekonomi makro yang dipaparkan pemerintah.

Selain itu, kebijakan tarif impor yang kembali diperkuat pemerintahan Trump disebut turut memengaruhi kenaikan harga sejumlah barang di pasar domestik.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa kebijakan perdagangan yang agresif dapat memicu tekanan baru terhadap rantai pasok dan harga konsumen, terutama di sektor manufaktur dan kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga: Arab Saudi Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan dengan AS di Tengah Serangan Houthi

Bank Sentral AS atau Federal Reserve sebelumnya juga mengakui sektor perumahan masih menjadi persoalan struktural yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat.

Tingginya bunga hipotek membuat aktivitas jual beli properti melambat, sementara harga rumah tetap tinggi di berbagai wilayah. Situasi itu memperkuat persepsi publik bahwa pemulihan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat kelas menengah dan pekerja.

Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi tersebut, kubu oposisi Demokrat mulai menjadikan isu biaya hidup sebagai bahan kritik terhadap pemerintahan Trump.

Para analis memperkirakan persoalan inflasi dan daya beli masyarakat akan menjadi tema utama dalam pertarungan politik AS beberapa bulan ke depan, terutama menjelang pemilu paruh waktu yang dipandang penting untuk menentukan kekuatan politik di Kongres. []

Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda