Inggris, Deklarasi Balfour dan Konspirasi Zionis

Oleh: Uray Helwan Rusli, Majelis Kutab Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Kalimantan Barat

Giliran Mereka

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

Artinya: “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”. (Q.S. Bani Israil [17]: 6).

Menarik pembahasan yang dikemukakan oleh seorang penulis asal Palestina, Bassam Nahad Jarar, mengupas rangkaian ayat-ayat pembuka Surah Bani Israil. Termasuk ayat di atas.

Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa kaum Yahudi akan kembali berkuasa mengalahkan siapa pun yang telah menghancurkan negara (kerajaan) mereka (dahulu).

Kata amdadnaakum (Kami membantumu), mengisyaratkan tegak berdirinya negara mereka, terus berkembang karena adanya dukungan finansial yang melimpah ruah dari Yahudi Internasional dan negara-negara Barat. Wa baniin  (anak laki-laki), yakni untuk pasukan perang dari laki-laki muda usia.

Penulis mengutip buku The Victims of the Holocaust state their accusation yang ditulis sejumlah Hakhomat Yahudi, dinyatakan bahwa Hitler menawarkan kepada Jewish Agency untuk membebaskan 30.000 tawanan Yahudi dengan tebusan 50.000 dolar.

Mereka menolak meskipun tahu bahwa jika tidak dibebaskan akan dibunuh. Penolakan tersebut karena kenyataannya sebagian besar tawanan terdiri dari wanita, anak-anak dan orangtua yang tidak layak diikutsertakan dalam peperangan Palestina. Adapun lembaga Yahudi tersebut hanya mau membebaskan dan menghijrahkan orang-orang muda yang masih enerjik dan perkasa serta mampu memanggul senjata di medan laga.

Terakhir, kata Nafiir (kelompok), yakni orang-orang yang siap dan sanggup dimobilisasi kekuatannya untuk diterjunkan ke medan pertempuran. Seperti yang terjadi pada perang Arab-Israel tahun 1948, meskipun penduduk Arab jauh lebih besar, namun dalam hal militer Yahudi justru mampu memobilisasi angkatan bersenjatanya tiga kali lipat dari pasukan Arab. Yahudi memiliki 67.000 tentara sementara pihak Arab 20.000 personil.[1]

Menguasai Inggris Untuk Zionisme

Ayat di atas dan pembahasannya, diketengahkan untuk mengantar sebuah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah pendirian negara Zionis Israel, yakni Deklarasi Balfour.

Namun terlebih dahulu, kita tarik benang sejarah lebih dari 6 abad sebelumnya. Akhir abad ke 13, Inggris memusuhi Yahudi. Penguasa Inggris Raya kala itu, Raja Edward I dengan berani  mengusir kaum Yahudi dari wilayahnya. Agar luput dari pengusiran, banyak dari mereka yang akhirnya mengganti agamanya menjadi Narani.  Masa-masa setelahnya, para  pemuka Yahudi tidak tinggal diam. Persekongkolan merongrong Inggris terus berlanjut.

Abad 17 Panglima kenamaan Inggris yang masih berdarah Yahudi, Oliver Cromwell, menjalin kesepakatan dengan pemuka Yahudi untuk menggulingkan tahta. Seperti biasa, mereka menjanjikan bantuan finansial dan kedudukan kepada Cromwell. Walhasil, kisruh melanda. Berbagai peristiwa mengantar revolusi Inggris dengan klimaks 30 Januari 1649 Raja Charles I dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan.

Cromwell kemudian naik tahta, tahun 1653 ia mengumumkan sebagai penguasa mutlak dengan  gelar The Lord Defender of Great Britain hingga ia menemui ajalnya  4 tahun kemudian. Pada masanya ia mencabut  undang-undang yang melarang Yahudi untuk masuk ke Inggris, sebalikya keluarga Yahudi yang sudah terusir dizinkan kembali.

Tahun 1661, skandal konspirasi antara Cromwell dan tokoh Yahudi terungkap. London gempar. Rakyat marah, mereka menyerbu dan membongkar makam Cromwell sebagai pelampiasannya. Masa-masa setelahnya Inggris senantiasa bergolak, Yahudi menjadi dalang dibaliknya. Sementara itu utang terus membengkak seiring dengan peperangan Eropa yang tidak pernah sepi.[2]

Awal abad ke 20 perang dunia (Pertama) tidak terhindari. Inggris menjadi punggawa Sekutu, penentu peperangan yang berlangsung tahun 1914-1918 itu. Namun dibalik kekuatan Inggris berdiri para tokoh Zionis.  Adalah Chaim Weizmann, -kelak akan menjadi Presiden pertama Israel-  ia dikenal dekat dengan Lord Rothschild, bankir Yahudi asal Jerman yang berperan sebagai penyokong dana pergerakan mereka.

Weizmann adalah seorang pakar kimia, ia mempersembahkan penemuannya untuk pemerintah Inggris. Yakni aceton, zat yang dibutuhkan dalam proses pembuatan cordite, sebuah propelan yang bersifat eksplosif sehingga amat berguna bagi sistem persenjataan Inggris.[3]

Penemuan ini sangat berperan dalam pemenangan Inggris pada peperangan yang banyak melibatkan negara-negara Eropa itu.

Namun masih ada ganjalan, Perdana Menteri Inggris kala itu, Hebert Henry Asquith, ia terkenal sebagai politikus yang sangat memusuhi gerakan Zionisme. Pada 28 Januari 1915, ia menulis dalam buku hariannya: “Saya menerima catatan khusus dari Hebert Samuel dengan judul masa depan Palestina.

Dia menyangka bahwa kami mampu menempatkan sebanyak 3 sampai 4 juta  bangsa Yahudi Eropa di bumi Palestina. Gagasan semacam itu bagi kami seperti kumpulan cerita mengenai perang salib baru. Saya menunjukkan kebencian terus terang terhadap program dan gagasan yang akan menambah beban tanggung jawab kami…”. [4]

Akhirnya konspirasi untuk menumbangkan pemerintahan Asquith pun dirancang. Tiga serangkai tokoh Zionis telah dipersiapkan untuk mengambil alih, yakni David Lloyd George, Arthur James Balfour dan Winston Churchill. Sebagaimana biasa senjata kaum Yahudi, serangan propoganda dilancarkan, skandal  demoralisasi akhirnya berhasil melengserkan Asquith yang resmi mengundurkan diri  pada bulan Desember 1916. Kedudukannya diambil alih Llyod George, Balfour menempati posisi menteri luar negeri dan Churchill menteri pertahanan.

Kurang dari sebulan, menyambut keberhasilan itu 16 Januari 1917, sebuah telegram khusus yang dalam sejarah dikenal sebagai Zimmerman Telegram, dikirim dari Berlin ke Washington,  berisi pertemuan antara pemerintah Inggris dengan jaringan Zionis.[5]

Kini jalan menuju Palestina telah terbentang, tinggal selangkah lagi. Tanggal 18 Juli 1917 Lord Rothschild menulis surat kepada Menlu Inggris Balfour: “Sesuai dengan pernyataan yang anda minta, kami menulis surat ini kepada anda. Kalau anda sudah mendapat wewenang tertulis dari pemerintah baginda Raja yang berisi pemberitahuan tentang pernyataan yang kami maksudkan kepada pemerintah, dan Anda sendiri menyambut baik tentang pernyataan itu, kami akan menyampaikannya kepada persatuan Gerakan Zionisme dalam pertemuan yang akan diadakan khusus untuk membicarakan masalah itu”. [6]

Tanggal 2 November 1917, Balfour  menyampaikan nota kepada Parlemen Inggris yang isinya: “Menurut pendapat pemerintah Inggris, mempertahankan Terusan Suez akan mencapai hasil maksimal dengan mendirikan suatu negara Palestina yang terikat dengan kita. Dan mengembalikan orang Yahudi ke Palestina di bawah pengawasan Inggris akan menjamin rencana ini”.[7] Parlemen Inggris yang telah terlebih dahulu dikuasai lobi Yahudi, tentu saja menyetujui hal tersebut.

Setelah itu pada hari yang sama, Arthur James Balfour  menyampaikan surat  tertuju kepada pemimpin Zionis, Lord Rothschild, yang kemudian terkenal dengan Deklarasi Balfour. Deklarasi yang hanya secarik kertas dan ditanda tangani oleh Menteri Luar Negeri yang  menjabat belum genap setahun  itu berbunyi:

Foreign Office,

November 2nd, 1917

Dear Lord Rothschild,

I have must pleasure in conveying to you, on behalf of his majesty’s Goverment, the following declaration of sympathy with Jewish  Zionist aspirations  which has been submitted to, and approved by, the cabinet.

“His Majesty’s Goverment view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people and will use their best endeavours to facilitate the achievement of the object. It being clearly understood that nothing shall be done wich may prejudice the civil and relegious rights of existing non-Jewish communities in Palestine. Or the rights and  political status enjoyed by Jews in any other country.”

I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation.[8]

Departemen Luar Negeri 2 November 1917

Lord Rothschild yang terhormat,

Saya sangat senang menyampaikan hal ini kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.

“Pemerintahan Sri Baginda telah menunjuk daerah di Palestina sebagai tanah air bagi bangsa  Yahudi di Palestina, dan akan menggunakan segala daya upaya mereka untuk memfasilitasi tercapainya tujuan ini. Sangat jelas disebutkan bahwa tidak ada tindakan yang akan mengganggu hak sipil dan agama komunitas non-Yahudi di Palestina atau hak dan status politik  yang selama ini dimiliki kaum Yahudi yang tinggal di negara-negara lain”.

Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.

Deklarasi Balfour disambut suka cita oleh Yahudi Zionis. Perjuangan jangka panjang ratusan bahkan ribuan tahun menampakkan hasil. Berbagai konspirasi keculasan yang tersusun rapi selama ini melahirkan fakta dejure penting sebagai tonggak awal pendirian negara Zionis Israel (lebih tepatnya disebut penjajahan kemanusian).

Namun ada fakta menarik dibalik susunan redaksi pernyataan tersebut. Henry Ford mengungkap dengan mengutip Guide to Zionism, bahwa ternyata meskipun pengumuman resminya keluar dari Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, tapi teksnya telah diubah di Kantor-kantor Zionis baik di Amerika maupun Inggris. Hal ini untuk menyesuaikan dengan keinginan mereka dan klausa terakhir telah ditambahkan dengan tujuan meredam opini anti Zionis.[9]

Klausa yang dimaksud adalah : “Sangat jelas disebutkan bahwa tidak ada tindakan yang akan mengganggu hak sipil dan agama komunitas non-Yahudi di Palestina atau hak dan status politik  yang selama ini dimiliki kaum Yahudi yang tinggal di negara-negara lain.”  Strategi seperti ini memang biasa mereka lakukan. Standar ganda. Di atas kertas dalam arena publik mereka terlihat sopan dan toleran.

Mereka menjamin kebebasan dan keamanan, namun  kenyataannya seratus delapan puluh derajat berbeda. Seperti janji palsu yang disampaikan oleh Jendral Allenby ketika memasuki Palestina, bahwa hak-hak penduduk setempat akan selalu dihormati. Nyatanya,  pembunuhan dan penindasan tidak pernah berhenti.

Klausa itu disisipkan untuk memberi ruang “perdamaian” bagi masyarakat dunia yang terperangah dengan Deklarasi tersebut. Tapi, -meminjam istilah Henry Ford- itu hanyalah sebuah cara tidak tulus untuk meredakan situasi. Bahkan penjajahan dan kejahatan kemanusiaan sedang dimulai.

Bergerak Menuju Kehancuran

Begitulah, keberhasilan Yahudi menguasai Inggris, selanjutnya dijadikan jembatan menuju tujuan besar mereka untuk kembali ke Palestina, pada dasarnya realisasi nyata dari kebenaran ayat Allah yang telah disebutkan di muka. Bahwa mereka diberi peluang untuk menang, dikuatkanNya dengan SDM dan finansial sehingga mereka menjadi besar dan “berkuasa”. Namun apakah hanya sampai disini skenario Ilahiyahnya? Tentu tidak.

Ayat berikutnya justru sebaliknya. Bicara tentang hukuman terhadap kejahatan mereka. Berikut ini kutipannya, QS Al Isra: 7:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖوَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚفَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua (wa’dul akhiroh), (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Masih menurut Bassam Nahad Jarrar, ia mengemukakan pembahasan mengenai kata wa’dul akhiroh. Dalam Al Quran hanya dua kali kata tersebut dinyatakan. Keduanya terdapat dalam surah yang sama dan membicarakan umat yang sama, yakni Bani Israil. Jadi masih satu bahasan. Ayat yang dimasud adalah QS. Al Isra:104:

وَقُلْنَا مِنْ بَعْدِهِ لِبَنِي إِسْرَائِيلَ اسْكُنُوا الْأَرْضَ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيفًا

Artinya: “dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang wa’dul akhiroh (janji hukuman terakhir), niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu )”.

Ayat ini bicara tentang hukuman kedua, yakni mengenai kehancuran Yahudi setelah mereka merasakan kemenangan  sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Wa’dul akhiroh ini sebenarnya masih belum terjadi karena saat ini kita masih melihat kaum Yahudi eforia dengan kemenangan dan kekuatan mereka, serta kembalinya mereka ke Yerusalem. Namun waktunya sudah amat dekat, karena sebenarnya antara wa’dul akhiroh dengan kembalinya mereka ke Yerusalem adalah satu paket dan satu masa.

Apa isyaratnya? Mereka Allah datangkan ke bumi Al-Quds dalam keadaan bercampur baur dari berbagai ras suku bangsa, asal negara, warna kulit dan bahasa. Hal seperti ini belum pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Lantas apa istimewanya kalau Yahudi sudah kembali ke bumi Al Quds dalam kondisi bercampur baur? Mari kita ulang lagi ayat 104 di atas, “…maka apabila datang wa’dul akhiroh (janji hukuman terakhir), niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur”. Ya, kalau mereka sudah kembali dalam kondisi bercampur baur ke Yerusalem, berarti siap-siap mereka akan berhadapan dengan wa’dul akhiroh. Apa itu wa’dul akhiroh?

Ayat ke 7 menjawabnya: “…(Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.  Jadi wa’dul akhiroh adalah, apalagi kalau bukan kehancuran mereka di akhir zaman. Wallahu a’lam. (P004/P4)

Sumber:

[1] Bassam Nahad Jarrar, alih bahasa Irham Sya’roni, Lenyapnya Israel Di Tahun 2022 M, 2008, Citra Risalah, Jakarta.

[2] William G. Carr, Alih Bahasa Mustholah Maufur, MA, Yahudi Menggenggam Dunia, 2006, Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

[3] Eramuslim Digest, Isaraeli Nuke, Edisi Koleksi I.

[4] William G. Carr, Alih Bahasa Mustholah Maufur, MA, Yahudi Menggenggam Dunia, 2006, Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

[5] Herry Nurdi, Membongkar Rencana Israel Raya, 2009, Cakrawala Publishing, Jakarta.

[6] William G. Carr, Alih Bahasa Mustholah Maufur, MA, Yahudi Menggenggam Dunia, 2006, Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

[7] ZA. Maulani, Zionisme Gerakan Menaklukkan Dunia, 2002, Penerbit Daseta Jakarta.

[8] Herry Nurdi, Membongkar Rencana Israel Raya, 2009, Cakrawala Publishing, Jakarta.

[9] Henry Ford, The International Jews, Alih Bahasa Shalahuddien Gz, dkk, 2006, Penerbit Hikmah, Jakarta.