ISTIQAMAH dan Jama’ah adalah dua sayap yang membuat seorang mukmin bisa terbang tinggi menuju ridha Allah. Tanpa istiqamah, jamaah akan mudah goyah. Tanpa jamaah, istiqamah akan berat terjal dijalaninya.
Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
فَلِذَٰلِكَ فَٱدْعُ ۖ وَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ ۖ وَقُلْ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ ٱللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang lurus, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan katakanlah, ‘Aku beriman kepada kitab yang diturunkan Allah, dan aku diperintahkan untuk berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan kita, dan kepada-Nya tempat kembali.’” (Q.S. Asy-Syura [42]: 15).
Baca Juga: Hari Akhir: Keyakinan yang Semakin Samar
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya untuk terus istiqamah di atas jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim), yaitu Islam yang sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Namun, apakah istiqamah cukup dijalani sendiri? Tidak. Sebab dalam ayat lain, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (kaaffah), dan bergabung dalam jamaah kaum Muslimin, hidup berjama’ah.
Firman Allah:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Baca Juga: Al-Aqsa Kiblat Pertama yang Tak Pernah Lepas dari Ingatan
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 208).
Pada ayat lain Allah menegaskan:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103).
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Tempat Ibadah Umat Islam yang Terjajah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ، وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah meridhai untuk umatku tiga hal, dan murka dengan tiga hal. Dia meridhai: (1) kalian menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, (2) kalian berpegang teguh pada tali Allah seluruhnya dan tidak bercerai-berai, dan (3) saling menasihati dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah. Dan Dia murka dengan tiga hal: (1) banyak bertanya (yang tidak berguna), (2) menyia-nyiakan harta, dan (3) banyak bicara tidak berguna.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
Pada poin kedua disebutkan, yang diridhai Allah yaitu berpegang teguh pada tali Allah seluruhnya dan tidak bercerai-berai. Itulah kehidupan berjamaah.
Baca Juga: Menyelami Makna Ulul Albab dalam Al-Qur’an
Istiqamah Tanpa Jamaah Rawan Tergelincir
Setan senang jika seorang muslim soleh berjuang sendirian. Sebab, syaithan akan lebih mudah menjatuhkan seseorang yang berjalan sendiri di malam yang gelap. Namun, jika dia berada dalam barisan jamaah yang besar, maka setan akan berpikir ulang untuk menggodanya.
Istiqamah dalam Islam tidak hanya soal konsistensi ibadah pribadi seperti shalat, puasa, zikir, dsb. Tetapi juga konsistensi dalam berjamaah, dalam taat kepada pemimpin yang benar, dalam saling menasihati dalam kebenaran (tawashu bil haqq), dan dalam saling menasihati dalam kesabaran (tawashu bish shabr).
Allah mengancam keras orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan:
Baca Juga: Setelah 40 Hari Tertutup, Betapa Haru Memasuki Kembali Masjid Al-Aqsa
إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِى شَىْءٍ ۚ إِنَّمَآ أَمْرُهُمْ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Q.S. Al-An’am [6]: 159)
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah memberikan teladan tentang istiqamah dalam jamaah.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, mereka tetap bersatu di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman ib Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling menyalahkan. Mereka tetap istiqamah di atas jalan Rasulullah ﷺ meskipun fitnah datang silih berganti.
Baca Juga: Menggugat UU Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina
Begitulah, istiqamah tanpa jamaah bagaikan lentera di tengah badai, akan padam. Jamaah tanpa istiqamah bagaikan pasukan besar tanpa komandan, akan kacau.
Maka, marilah kita Istiqamah di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam setiap aspek kehidupan. Marilah juga kita berpegang teguh pada jamaah muslimin di bawah pimpinan Imaam.
Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam istiqamah di atas jamaah. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)















Mina Indonesia
Mina Arabic