Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini Tanda Hamba Dicintai Allah, Kamu Termasuk?

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 28 Juli 2026 - 15:00 WIB

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:00 WIB

26 Views ㅤ

Ilustrasi: Shalat Subuh berjama'ah. (foto: ist)

BANYAK orang mengira tanda Allah Ta’ala mencintai seorang hamba adalah hidup yang serba mudah, harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau usaha yang selalu berhasil. Sebaliknya, ketika hidup sedang sulit, rezeki terasa sempit, atau masalah datang silih berganti, tidak sedikit yang bertanya, “Apakah Allah sudah tidak mencintaiku?”

Padahal, anggapan seperti itu belum tentu benar. Dalam Islam, ukuran cinta Allah Ta’ala kepada seorang hamba bukanlah banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Kekayaan dan kemiskinan sama-sama merupakan ujian. Jabatan maupun kesederhanaan juga merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Lalu, apa sebenarnya tanda seseorang dicintai Allah?

Jawabannya bukan pertama-tama terlihat dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana hubungan seseorang dengan Allah Ta’ala. Ketika hati semakin dekat kepada-Nya, semakin ringan menjalankan perintah-Nya, dan semakin menjauhi larangan-Nya, itulah pertanda yang jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia sering salah menilai kehidupan. Saat diberi kelapangan rezeki, ia merasa Allah Ta’ala sedang memuliakannya. Sebaliknya, ketika rezekinya disempitkan, ia mengira Allah Ta’ala sedang menghinakannya.

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ ۝١٥ وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ ۝١٦ (الفجر (١٥ـ١٦))

“Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, Tuhanku telah memuliakanku. (15) Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.” (16)

Padahal Allah Ta’ala menegaskan bahwa anggapan tersebut tidaklah benar. Kelapangan maupun kesempitan hanyalah bagian dari ujian kehidupan.

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Karena itu, jangan buru-buru menilai diri sendiri atau orang lain dari kondisi ekonomi. Bisa jadi seseorang hidup sederhana, tetapi sangat mulia di sisi Allah Ta’ala. Sebaliknya, ada yang hidup bergelimang harta, namun justru sedang diuji apakah ia bersyukur atau malah semakin jauh dari Tuhannya.

Salah satu tanda paling nyata bahwa Allah Ta’ala mencintai seorang hamba adalah ketika ia dimudahkan untuk beribadah. Ia menjaga shalat lima waktu, senang membaca Al-Qur’an, ringan bersedekah, gemar menghadiri majelis ilmu, serta merasa tenang ketika berzikir.

Semua itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan karunia yang tidak diberikan kepada setiap orang.

Coba renungkan sejenak. Bagaimana hubungan kita dengan shalat? Apakah kita merasa berat ketika azan berkumandang, atau justru merasa rindu berdiri menghadap Allah Ta’ala?

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Bagaimana dengan Al-Qur’an? Apakah hanya dibaca saat Ramadan, atau sudah menjadi teman sehari-hari? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa menjadi bahan muhasabah untuk melihat sejauh mana kita sedang berjalan menuju cinta Allah.

Sering kali kita terlalu sibuk menghitung nikmat dunia hingga lupa mensyukuri nikmat iman. Kita mudah bersyukur ketika mendapat bonus, naik jabatan, atau membeli kendaraan baru. Namun, kita jarang bersyukur karena masih diberi kesempatan bangun untuk shalat Subuh, masih bisa sujud dengan khusyuk, dan masih memiliki hati yang tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allah. Padahal, nikmat iman jauh lebih mahal daripada seluruh harta yang ada di dunia.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menjumpai orang-orang yang hidupnya sederhana, tetapi wajahnya selalu teduh. Mereka mungkin bukan pejabat atau pengusaha besar, tetapi mereka jujur, suka menolong, rajin ke masjid, dan selalu menjaga lisannya.

Kehidupan mereka terasa damai karena hati mereka dipenuhi rasa percaya kepada Allah. Inilah kekayaan yang sesungguhnya.

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Lalu, bagaimana agar kita termasuk hamba yang dicintai Allah?

Caranya tidak rumit, tetapi membutuhkan kesungguhan. Mulailah dengan menjaga ibadah wajib sebaik-baiknya. Setelah itu, biasakan menambah amalan sunnah seperti membaca Al-Qur’an setiap hari, bersedekah meski sedikit, memperbanyak zikir, berpuasa sunnah, dan memperbaiki akhlak kepada sesama.

Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bahwa seorang hamba akan terus mendekat kepada Allah melalui amalan-amalan sunnah hingga Allah Ta’ala mencintainya.

Hal yang tidak kalah penting adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian kepada orang lain.

Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat

Semakin seseorang berusaha meneladani akhlak Nabi, semakin besar peluangnya meraih cinta Allah Ta’ala.

Perlu diingat, orang yang dicintai Allah bukan berarti hidupnya tanpa masalah. Justru para nabi adalah manusia yang paling berat ujiannya. Bedanya, mereka mampu menghadapi setiap cobaan dengan sabar, tawakal, dan keyakinan bahwa semua yang Allah tetapkan pasti mengandung hikmah.

Karena itu, jika hari ini hidup terasa berat, jangan langsung berburuk sangka kepada Allah. Bisa jadi, kesulitan itu adalah cara Allah menguatkan iman, menghapus dosa, atau mengangkat derajat kita. Sebaliknya, jika saat ini hidup sedang lapang, jangan terlena. Gunakan setiap nikmat untuk semakin dekat kepada-Nya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Berapa banyak harta yang sudah saya miliki?” atau “Setinggi apa jabatan saya?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Apakah hari ini saya semakin dekat kepada Allah?”

Baca Juga: Membaca Sejarah Tiga Pembebasan Spektakuler: Resensi Buku Imam Yakhsyallah Mansur

Jika jawabannya ya, maka itulah nikmat terbesar yang patut disyukuri. Sebab, tanda hamba yang dicintai Allah Ta’ala bukan pertama-tama terlihat dari isi rekening atau kedudukannya di dunia, melainkan dari hati yang selalu rindu beribadah, senang berbuat baik, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih taat.

Itulah keberuntungan yang sesungguhnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Keimanan Tak Akan Tumbuh Bersama Kesombongan

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Kolom