Jenewa, MINA – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan, hampir 8.000 migran meninggal atau hilang di seluruh dunia pada tahun 2025.
Dilansir dari Khaama Press pada Rabu (22/4), IOM memperingatkan bahwa jalur migrasi menjadi lebih berbahaya meskipun jumlah penyeberangan berkurang.
Badan tersebut mengatakan, lebih dari 82.000 migran telah meninggal atau menghilang sejak 2014, dengan migran Afghanistan dan Rohingya termasuk di antara kelompok yang paling terdampak.
IOM memperingatkan bahwa penurunan jumlah di beberapa wilayah tidak menandakan perbaikan kondisi, tetapi lebih mencerminkan perjalanan yang lebih panjang dan lebih berbahaya yang dilakukan oleh migran untuk menghindari deteksi dan pembatasan.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
IOM menambahkan bahwa ribuan orang masih terdampar dalam kondisi sulit tanpa akses ke tempat berlindung, perawatan kesehatan, atau dukungan dasar, yang menambah beban pada komunitas tuan rumah.
Pengungsi Afghanistan terus menjadi salah satu populasi pengungsi terbesar di dunia, dengan banyak yang mencoba mencapai Eropa melalui Iran dan Turkiye, meskipun kontrol perbatasan diperketat.
Para migran sering mengandalkan jaringan penyelundupan untuk menyeberang ke Turkiye dan selanjutnya ke Eropa, yang membuat mereka berisiko terjebak dalam eksploitasi, penahanan, dan perjalanan yang mengancam jiwa melalui jalur darat dan laut.
IOM menyerukan kerja sama internasional yang lebih kuat menjelang pertemuan migrasi global, mendesak pemerintah untuk memperluas jalur aman dan mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut. []
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic