Bagdad, MINA – Pemerintah Irak secara resmi menyatakan sikap tidak akan terlibat dalam operasi militer internasional maupun koalisi keamanan yang dibentuk untuk mengawal Selat Hormuz.
Langkah ini diambil Baghdad guna menjaga netralitas negara dalam menghadapi eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus menegaskan bahwa keamanan jalur pelayaran strategis tersebut seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara pesisir di kawasan tanpa campur tangan kekuatan asing. Al-Jazeera melaporkan, Senin (23/3).
Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, dalam keterangannya menekankan bahwa kehadiran militer asing di Teluk justru berisiko memicu provokasi yang lebih besar dan memperumit situasi keamanan regional.
Irak memilih untuk mengedepankan jalur diplomasi dan dialog sebagai solusi utama dalam meredakan ketegangan, mengingat posisi geografis dan politiknya yang berada di antara kepentingan dua kekuatan besar yang sedang bersitegang. Sikap ini sejalan dengan upaya Irak untuk menjadi jembatan perdamaian di Dunia Islam.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Penolakan Irak ini menambah deretan negara di kawasan yang skeptis terhadap pembentukan koalisi maritim yang diinisiasi oleh Barat. Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi bagi hampir sepertiga pengiriman minyak dunia lewat laut, kini menjadi titik paling krusial dalam geopolitik global.
Baghdad mengkhawatirkan jika militerisasi di selat tersebut terus meningkat, maka stabilitas ekonomi dalam negeri Irak yang sangat bergantung pada ekspor minyak juga akan terancam secara langsung.
Hingga saat ini, situasi di Selat Hormuz tetap dipantau ketat oleh komunitas internasional seiring dengan masih adanya ancaman penyitaan kapal tanker dan gangguan navigasi.
Namun, dengan absennya Irak dari koalisi militer tersebut, upaya pencapaian solusi regional yang inklusif diharapkan dapat lebih dikedepankan. Dunia kini menanti apakah langkah berani Irak ini akan diikuti oleh negara-negara tetangga lainnya untuk menciptakan zona perdamaian di perairan Teluk. []
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic