Teheran, MINA – Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengatakan pada Rabu (19/8), negara-negara kawasan yang memberikan dukungan kepada pasukan AS dapat dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam setiap tindakan militer terhadap Iran.
“Kecil kemungkinannya pesawat militer dan pesawat pengisi bahan bakar ditempatkan di pangkalan-pangkalan kawasan tanpa sepengetahuan negara tuan rumah,” kata Abdollahi. Al Mayadeen melaporkan.
Ia memperingatkan bahwa Iran sepenuhnya mengetahui posisi dan tindakan negara-negara yang secara terbuka menolak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah mereka untuk melawan Iran, seraya menegaskan: “Tidak ada yang bisa disembunyikan dari kami.”
Dalam nada serupa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa berkomentar mengenai keseimbangan kekuatan di kawasan, dengan menyatakan perang baru-baru ini “membuktikan bahwa Amerika bahkan tidak mampu mempertahankan pangkalan militernya sendiri.”
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Ia juga mengonfirmasi adanya saluran diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat, seraya mencatat Qatar dan Pakistan “telah memainkan peran mediasi yang efektif antara Iran dan Washington,” serta menambahkan bahwa saat ini, hubungan antara Teheran dan Doha sedang berada dalam fase yang sangat positif.
Terkait kerangka keamanan kawasan yang lebih luas, Araghchi mengatakan pendekatan keamanan baru di kawasan tersebut “harus didasarkan pada ‘keamanan kolektif’ dan penyelesaian konflik ekonomi.”
Iran telah berulang kali menyatakan pangkalan militer dan aset ekonomi AS di kawasan Teluk telah digunakan untuk melancarkan tindakan agresi terhadap Iran, termasuk serangan yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil. Dalam konteks ini, setiap tindakan Iran yang menargetkan fasilitas-fasilitas tersebut merupakan pembalasan atas aktivitas militer bermusuhan yang berasal dari atau dimungkinkan oleh pangkalan-pangkalan itu.
Pada Ahad, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, mengonfirmasi dimulainya pelaksanaan keputusan untuk mengusir pasukan AS dari kawasan Teluk, Teluk Oman, dan Selat Hormuz, seraya menyatakan negaranya tidak akan membiarkan pangkalan-pangkalan AS kembali ke status sebelumnya.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Perkembangan ini terjadi di tengah pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai pengaturan navigasi di Selat Hormuz yang telah mencapai tahap lanjut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya telah mengonfirmasi kesepakatan dengan Muscat telah memasuki tahap akhir, namun ia juga menegaskan bahwa tercapainya kesepakatan antara Oman dan Iran tidak berarti membuka kembali selat tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic