Teheran, MINA – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak keras kampanye tekanan ekonomi terbaru Presiden Donald Trump terhadap Iran, dan menyebutnya sebagai upaya pengalihan perhatian dari masalah ekonomi dalam negeri AS yang semakin memburuk.
Dalam unggahan di akun X pada Kamis (20/8), Araghchi mengatakan bahwa apa yang disebut Trump sebagai “Economic D-Day” sebenarnya adalah taktik untuk menutupi krisis domestik. Press TV melaporkan.
“Hari D Ekonomi yang disebut adalah pengalihan dari krisis Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan lonjakan biaya bunga,” tulis Araghchi.
Ia membagikan dua laporan dari The New York Times dan CNN tentang utang nasional AS yang telah menembus angka US$40 triliun, sebuah tonggak yang mengkhawatirkan bagi ekonomi AS.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
“Terorisme Ekonomi” yang Gagal
Araghchi mengecam kebijakan Trump sebagai “terorisme ekonomi.” Menurutnya, sanksi dan paksaan ekonomi tidak hanya mengancam Iran, tetapi juga ekonomi global dan kedaulatan negara-negara di seluruh dunia.
Dia memperingatkan bahwa tekanan yang terus meningkat pada Iran tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi Washington, tetapi “hanya akan membawa kekalahan lebih lanjut, dan permusuhan Iran.”
Ia juga menekankan bahwa AS kini menggunakan tekanan ekonomi setelah mengakui kekalahan dalam agresi militernya terhadap Iran.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi juga menanggapi ancaman Trump dengan nada sinis.
“Mereka mengklaim bahwa Iran berada di ambang kekalahan dan tergantung pada seutas benang, namun mereka memohon kepada semua sekutu mereka untuk membantu,” tulisnya di X pada Kamis.
Ia menambahkan: “Perang militer gagal membuahkan hasil, sekarang mereka menyebut kekalahan berikutnya sebagai ‘perang ekonomi’.”
Ancaman Trump muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 gagal mencapai tujuannya. Sebaliknya, perang tersebut mendorong utang AS mendekati US$40 triliun (senilai Rp712.000 triliun) akibat lonjakan biaya pinjaman dan pengeluaran militer.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Sepanjang tahun ini, AS diperkirakan akan meminjam lebih dari US$2 triliun (lebih dari Rp35.000 triliun) untuk membayar kewajiban, termasuk pengeluaran perang dan pemotongan pajak besar-besaran dari Partai Republik. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Somalia Tegas Tolak Kehadiran Israel Dalam Keadaan Apa Pun
















Mina Indonesia
Mina Arabic