Yerusalem, MINA – Sebanyak 270 siswa Palestina terdampak setelah pasukan Israel mengambil alih Pusat Pelatihan Kejuruan Qalandiya milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di kawasan Kafr Aqab, Yerusalem Timur yang diduduki.
Pengambilalihan fasilitas yang berlangsung sejak Selasa (25/8) itu disertai pengusiran staf UNRWA dan penempatan pasukan Israel di dalam kompleks. Wafa melaporkan.
Pada hari kedua, Rabu (26/8), pasukan Israel memperkuat keberadaan mereka di pusat pelatihan tersebut. Pemerintah Kota Yerusalem juga mengirimkan tim teknis ke lokasi dengan alasan melakukan pekerjaan pemeliharaan dan renovasi sebagai bagian dari rencana pembangunan kompleks pendidikan kota.
Pasukan Israel sebelumnya mengibarkan bendera Israel di halaman fasilitas setelah staf UNRWA dipaksa meninggalkan lokasi.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Pusat Pelatihan Qalandiya merupakan salah satu fasilitas pendidikan kejuruan penting bagi warga Palestina. Berdiri sejak 1952, fasilitas tersebut menjadi pusat pertama UNRWA di Palestina dan menyediakan pelatihan dalam 16 bidang kejuruan.
Sekitar 270 siswa mengikuti pendidikan di sana, sementara pusat tersebut rata-rata meluluskan antara 250 hingga 300 siswa setiap tahun.
UNRWA mengecam keras tindakan Israel tersebut. Badan PBB itu menyatakan pasukan Israel memasuki fasilitas secara paksa, sementara pusat pelatihan tersebut berada di wilayah Yerusalem Timur yang diduduki dan berada di bawah perlindungan hak istimewa serta kekebalan PBB.
Penjabat Komisaris Jenderal UNRWA Christian Saunders menilai tindakan itu sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas untuk melemahkan badan PBB tersebut dan menghapus hak-hak pengungsi Palestina.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
Pengambilalihan itu juga tidak muncul secara tiba-tiba. Selama beberapa bulan sebelumnya, UNRWA telah memperingatkan adanya rencana Israel untuk mengambil alih pusat tersebut.
Pemerintah Kota Yerusalem disebut berencana membangun kompleks pendidikan dan komunitas baru di lokasi itu, sebuah proyek yang menurut UNRWA dapat mengharuskan sebagian besar bangunan pusat pelatihan dibongkar.
Israel sendiri telah memberlakukan kebijakan yang membatasi aktivitas UNRWA, termasuk melalui undang-undang yang mulai berlaku pada 2025.
Tindakan Israel tersebut memicu kecaman dari pejabat Palestina dan berbagai pihak internasional. Pengambilalihan fasilitas pendidikan UNRWA menambah rangkaian tekanan terhadap badan PBB yang selama puluhan tahun menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, dan perlindungan bagi pengungsi Palestina. []
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic