Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Israel Diam-diam Danai Milisi Bersenjata di Gaza

Hasanatun Aliyah Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:13 WIB

Sabtu, 7 Februari 2026 - 09:13 WIB

49 Views

Kelompok milisi Abu Shabaab yang dipersenjatai dan digaji oleh Israel untuk membuat kekacauan di Jalur Gaza dan melawan pejuang Palestina. (Gambar: dok. QNN)

Gaza, MINA – Penjajah srael diam-diam memberikan dukungan kepada milisi bersenjata yang beroperasi di Jalur Gaza dengan uang, senjata dan perlindungan lapangan dalam upaya melawan Hamas, menurut laporan harian Israel Yedioth Ahronoth pada Jumat (6/2). Laporan tersebut menyatakan keraguan tentang efektivitas strategi ini.

Surat kabar itu mengutip laporan asing yang menunjukkan Israel telah menyediakan senjata dan amunisi untuk milisi, serta bantuan logistik seperti bahan bakar, makanan, kendaraan dan pasokan lainnya.

Dukungan ini dikabarkan memungkinkan milisi beroperasi di dekat penyebaran pasukan Israel, memungkinkan mereka mengukuhkan diri di dekat area yang dikendalikan Israel di dalam Gaza. Biaya dukungan ini diperkirakan mencapai puluhan juta shekel dan didanai dari anggaran tentara Israel.

Milisi tersebut dikatakan beroperasi di area yang berada di bawah kehadiran militer Israel, karena Israel terus mengontrol lebih dari 53% wilayah Gaza berdasarkan kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober.

Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera

Kelompok-kelompok ini berfungsi di luar struktur komando formal dan tanpa pengawasan langsung dari tentara Israel atau badan keamanan Shin Bet serta dikerahkan untuk peran taktis yang terbatas seperti mencari pejuang Hamas di terowongan atau reruntuhan dekat posisi Israel dan melakukan penahanan untuk mengurangi risiko bagi tentara Israel.

Surat kabar itu mencatat, milisi yang dipimpin Yasser Abu Shabab, sebelum kematiannya, adalah satu-satunya kelompok yang beroperasi dengan visibilitas publik seperti itu, merilis video yang bertujuan menunjukan kepercayaan diri dan perlawanan terhadap Hamas.

Tindakan ini menuai kritik di dalam Israel, dengan penilaian bahwa milisi tidak memiliki kapasitas organisasi atau legitimasi populer yang diperlukan untuk menantang Hamas atau sayap bersenjatanya secara nyata.

Analis yang dikutip dalam laporan mengatakan kecil kemungkinan kelompok-kelompok ini dapat menggantikan Hamas, yang telah memulihkan pengaruhnya dan mengencangkan kendali selama masa gencatan senjata.

Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa

“Tanpa kepemimpinan terpusat atau struktur yang koheren, penilaian menunjukkan peluang milisi untuk menggantikan Hamas tetap terbatas,” jelas laporan itu.

Surat kabar itu juga menarik perbandingan dengan ketergantungan Israel pada milisi sekutu di Lebanon selama 1980-an, mencatat bahwa warisan pembantaian Sabra dan Shatila terus membentuk persepsi publik dan internasional.

Surat kabar itu mengingatkan bahwa milisi yang didukung Israel melakukan pembunuhan massal warga Palestina selama perang Lebanon pertama, memicu kecaman luas dan tuduhan terhadap Israel dan militernya.

Pembantaian Sabra dan Shatila terjadi pada 16 September 1982, ketika milisi Lebanon yang didukung pasukan Israel memasuki kamp pengungsi Palestina Sabra dan Shatila di Beirut barat setelah invasi Israel ke Lebanon. Selama tiga hari, antara 2.000 hingga 3.500 warga sipil, kebanyakan warga Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia tewas.[]

Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

MINA Sport
Indonesia
Internasional
Info MINA