Jambi, MINA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi masih menghadapi kendala kabut asap tebal yang mengganggu jarak pandang, Jumat (9/10).
Kondisi tersebut turut menghambat operasi pemadaman melalui udara, sehingga upaya pengendalian kebakaran membutuhkan dukungan kondisi cuaca yang lebih baik.
Tiga helikopter yang digunakan untuk pemadaman karhutla dilaporkan belum dapat beroperasi hingga siang hari akibat tebalnya kabut asap.
Situasi ini menjadi tantangan bagi petugas dalam menjangkau titik api yang sulit dipadamkan melalui jalur darat.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, Selasa 3 November 2026
Pemerintah Provinsi Jambi bersama Satuan Tugas Karhutla sebelumnya menjadwalkan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 9–10 Oktober 2026.
Pelaksanaannya bergantung pada kondisi cuaca, jarak pandang, serta ketersediaan awan yang memungkinkan proses penyemaian untuk memicu hujan.
Gubernur Jambi Al Haris sebelumnya menjelaskan, jarak pandang yang rendah menghambat penerbangan pesawat untuk melaksanakan OMC. Kabut asap yang tebal juga menyulitkan helikopter melakukan pemadaman melalui metode water bombing atau pengeboman air.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, luas lahan yang terbakar sejak 1 Januari hingga 29 September 2026 mencapai 4.123,84 hektare. Kabupaten Batang Hari mencatat luasan terbesar, yakni 1.240,79 hektare, disusul Tanjung Jabung Timur 659,18 hektare, Tanjung Jabung Barat 639,55 hektare, dan Muaro Jambi 577,71 hektare.
Baca Juga: Cuaca Jakarta Hari Ini Berawan, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan Ringan
Kabut asap tidak hanya menghambat upaya pemadaman, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas transportasi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Cuaca Sumatra Hari Ini, Waspadai Hujan Petir dan Angin Kencang
















Mina Indonesia
Mina Arabic