SEPANJANG tahun 2025, dunia dikejutkan oleh rangkaian peristiwa besar, mulai dari gejolak politik di berbagai negara, konflik berkepanjangan Rusia–Ukraina yang terus memanas, hingga pecahnya konflik baru antara Thailand dan Kamboja.
Gelombang Protes Besar: Gen Z di Garis Depan Perubahan
Gelombang protes politik dan perubahan pemerintahan melanda sejumlah negara sepanjang 2025. Aksi bertajuk “No Kings” digelar di lebih dari 2.100 lokasi di Amerika Serikat serta puluhan negara lain. Aksi ini sebagai bentuk perlawanan publik terhadap kebijakan domestik Presiden Donald Trump, terutama terkait kekhawatiran menguatnya otoritarianisme dan kemunduran demokrasi (democratic backsliding) di negara adidaya tersebut.
Demonstrasi besar ini tidak hanya memengaruhi stabilitas politik domestik AS, tetapi juga membentuk persepsi global terhadap kondisi demokrasi Amerika.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sementara itu, di berbagai negara Asia dan Afrika, termasuk kawasan Afrika Barat, generasi muda atau Gen Z memimpin protes besar menentang korupsi, pengangguran, pembatasan kebebasan, dan pemerintahan yang tak responsif. Aksi-aksi ini bahkan menggulingkan pemerintahan di beberapa negara seperti Nepal dan Madagascar.
Konflik Geopolitik yang Kian Memanas
Konflik Rusia–Ukraina terus berlanjut sepanjang 2025. Upaya perundingan damai yang melibatkan AS dan sejumlah pihak internasional masih belum membuahkan hasil konkret.
Selain itu, konflik baru antara Thailand dan Kamboja menambah daftar ketegangan geopolitik tahun ini. Sengketa wilayah perbatasan, khususnya di sekitar kawasan candi dan garis batas yang belum disepakati secara jelas, kembali memicu bentrokan bersenjata.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Meski sempat terjadi gencatan senjata, situasi tetap rapuh karena saling tuding pelanggaran, sementara ASEAN terus mendorong jalur diplomasi guna mencegah eskalasi lebih luas.
Penderitaan Warga El Fasher, Sudan
El Fasher, ibu kota Darfur Utara, menjadi kota besar terakhir di wilayah Darfur yang masih dikuasai Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF). Kondisi ini menjadikan El Fasher target utama serangan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Pertempuran berkepanjangan membuat ratusan ribu warga sipil terjebak tanpa perlindungan memadai. Situasi kemanusiaan kian memprihatinkan akibat keterbatasan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan. Rumah sakit kekurangan tenaga medis serta obat-obatan, sementara ancaman kelaparan akut, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan, terus meningkat.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Teror Penembakan Perayaan Hanukkah di Australia
Menjelang akhir tahun, dunia dikejutkan oleh aksi teror penembakan di Sydney, Australia, pada 14 Desember 2025. Serangan terjadi saat perayaan Hanukkah di Bondi Beach yang dilakukan oleh ayah dan anak, Sajid Akram, tewas ditembak polisi, serta Naveed Akram yang berhasil ditangkap dan ditahan.
Insiden ini menewaskan sedikitnya 15 warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Seorang warga sipil bernama Ahmed Al Ahmed tampil sebagai pahlawan setelah dengan berani menghadang dan melucuti senjata salah satu pelaku. Aksinya mendapat pujian luas karena dinilai berhasil mencegah jatuhnya korban yang lebih besar. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic