Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaleidoskop 2025: Gelombang Protes Gen Z hingga Konflik Geopolitik yang Kian Memanas

sri astuti Editor : Rudi Hendrik - Selasa, 30 Desember 2025 - 23:40 WIB

Selasa, 30 Desember 2025 - 23:40 WIB

11 Views ㅤ

Generasi muda Nepal menggelar demonstrasi besar-besaran yang berhasil meruntuhkan pemerintahan PM Khadga Prasad Sharma Oli. (Foto: X/Aljazeera)

SEPANJANG tahun 2025, dunia dikejutkan oleh rangkaian peristiwa besar, mulai dari gejolak politik di berbagai negara, konflik berkepanjangan Rusia–Ukraina yang terus memanas, hingga pecahnya konflik baru antara Thailand dan Kamboja.

Gelombang Protes Besar: Gen Z di Garis Depan Perubahan

Gelombang protes politik dan perubahan pemerintahan melanda sejumlah negara sepanjang 2025. Aksi bertajuk “No Kings” digelar di lebih dari 2.100 lokasi di Amerika Serikat serta puluhan negara lain. Aksi ini sebagai bentuk perlawanan publik terhadap kebijakan domestik Presiden Donald Trump, terutama terkait kekhawatiran menguatnya otoritarianisme dan kemunduran demokrasi (democratic backsliding) di negara adidaya tersebut.

Demonstrasi besar ini tidak hanya memengaruhi stabilitas politik domestik AS, tetapi juga membentuk persepsi global terhadap kondisi demokrasi Amerika.

Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global

Sementara itu, di berbagai negara Asia dan Afrika, termasuk kawasan Afrika Barat, generasi muda atau Gen Z memimpin protes besar menentang korupsi, pengangguran, pembatasan kebebasan, dan pemerintahan yang tak responsif. Aksi-aksi ini bahkan menggulingkan pemerintahan di beberapa negara seperti Nepal dan Madagascar.

Konflik Geopolitik yang Kian Memanas

Konflik Rusia–Ukraina terus berlanjut sepanjang 2025. Upaya perundingan damai yang melibatkan AS dan sejumlah pihak internasional masih belum membuahkan hasil konkret.

Selain itu, konflik baru antara Thailand dan Kamboja menambah daftar ketegangan geopolitik tahun ini. Sengketa wilayah perbatasan, khususnya di sekitar kawasan candi dan garis batas yang belum disepakati secara jelas, kembali memicu bentrokan bersenjata.

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem

Meski sempat terjadi gencatan senjata, situasi tetap rapuh karena saling tuding pelanggaran, sementara ASEAN terus mendorong jalur diplomasi guna mencegah eskalasi lebih luas.

Penderitaan Warga El Fasher, Sudan

El Fasher, ibu kota Darfur Utara, menjadi kota besar terakhir di wilayah Darfur yang masih dikuasai Angkatan Bersenjata Sudan (Sudanese Armed Forces/SAF). Kondisi ini menjadikan El Fasher target utama serangan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

Pertempuran berkepanjangan membuat ratusan ribu warga sipil terjebak tanpa perlindungan memadai. Situasi kemanusiaan kian memprihatinkan akibat keterbatasan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan. Rumah sakit kekurangan tenaga medis serta obat-obatan, sementara ancaman kelaparan akut, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan, terus meningkat.

Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun

Teror Penembakan Perayaan Hanukkah di Australia

Menjelang akhir tahun, dunia dikejutkan oleh aksi teror penembakan di Sydney, Australia, pada 14 Desember 2025. Serangan terjadi saat perayaan Hanukkah di Bondi Beach yang dilakukan oleh ayah dan anak, Sajid Akram, tewas ditembak polisi, serta Naveed Akram yang berhasil ditangkap dan ditahan.

Insiden ini menewaskan sedikitnya 15 warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Seorang warga sipil bernama Ahmed Al Ahmed tampil sebagai pahlawan setelah dengan berani menghadang dan melucuti senjata salah satu pelaku. Aksinya mendapat pujian luas karena dinilai berhasil mencegah jatuhnya korban yang lebih besar. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur

Rekomendasi untuk Anda

Afrika