Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaleidoskop Kebencanaan Nasional 2025 dan Outlook 2026: Ujian Ketangguhan di Negeri Rawan Bencana

Mujiburrahman Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 31 Desember 2025 - 20:27 WIB

Rabu, 31 Desember 2025 - 20:27 WIB

50 Views ㅤ

Kaleidoskop 2025 Tahun Pergolakan Global, Krisis Kemanusiaan, dan Ujian Nurani Negara (Google)

Mina News – Indonesia, negeri yang dilintasi dua sabuk geologi aktif dunia dan berada di kawasan iklim tropis yang dinamis, menutup tahun 2025 dengan catatan pahit sekaligus pelajaran berharga. Kerentanan terhadap bencana terbukti sebagai fakta konstan, sementara kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan nasional terus diuji oleh alam yang kian ekstrem.

Sepanjang 2025, ribuan kejadian bencana alam menghantam berbagai penjuru Nusantara, mengguncang kehidupan jutaan warga dari Aceh hingga Papua, dari pesisir hingga pegunungan, seolah menegaskan bahwa menghadapi bencana bukan semata persoalan teknis, melainkan juga soal ketangguhan kolektif sebagai sebuah bangsa.

Data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang tahun 2025 terjadi lebih dari 3.000 kejadian bencana di Indonesia. Mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan angin puting beliung.

Dominasi bencana jenis ini memperlihatkan dengan jelas dampak perubahan iklim global yang semakin terasa di tingkat lokal, sebagaimana kerap diingatkan para pakar klimatologi dan kebencanaan bahwa pola cuaca kini jauh lebih sulit diprediksi dibanding satu dekade lalu.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Kejadian besar pertama yang menjadi sorotan nasional adalah banjir dan longsor masif di wilayah Sumatra pada akhir November 2025. Dipicu oleh pengaruh Siklon Tropis Senyar, hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama berhari-hari tanpa jeda. Sungai-sungai besar meluap, lereng-lereng perbukitan runtuh, dan permukiman warga tak luput dari terjangan air dan material longsoran.

Ratusan orang dilaporkan meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, sementara lebih dari satu juta jiwa terpaksa mengungsi. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Para ahli hidrometeorologi menilai peristiwa ini sebagai kombinasi fatal antara anomali iklim, degradasi lingkungan, dan lemahnya daya dukung daerah aliran sungai.

Bencana besar berikutnya terjadi di jantung pemerintahan dan ekonomi nasional. Pada Maret 2025, Jakarta dan kawasan penyangganya kembali dilanda banjir besar pada puncak musim hujan. Ribuan rumah terendam, aktivitas ekonomi lumpuh, dan puluhan ribu warga harus dievakuasi.

Meski bukan peristiwa baru, banjir Jakarta 2025 kembali menegaskan persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi, mulai dari sistem drainase yang tidak memadai, alih fungsi lahan, hingga tekanan urbanisasi yang melampaui daya dukung lingkungan. Para pakar tata kota dan kebencanaan menyebut banjir Jakarta sebagai “bencana yang diproduksi manusia”, di mana faktor alam dan kebijakan tata ruang saling berkelindan.

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Ancaman tektonik kembali mengingatkan Indonesia akan posisinya di kawasan Cincin Api Pasifik. Pada 16 Agustus 2025, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,8 mengguncang Sulawesi Tengah. Meski tergolong gempa menengah, guncangan merusak ratusan rumah, tempat ibadah, dan fasilitas umum, serta menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Kejadian ini menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi tetap menyimpan potensi gempa yang signifikan akibat aktivitas sesar aktif. Para seismolog menegaskan pentingnya penguatan bangunan tahan gempa dan edukasi publik, terutama di daerah yang memiliki sejarah kegempaan tinggi.

Selain bencana alam, tahun 2025 juga diwarnai tragedi bencana non-alam yang mengguncang nurani publik. Runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada akhir September menjadi salah satu peristiwa paling memilukan.

Ratusan santri terjebak saat struktur gedung ambruk secara tiba-tiba, menewaskan puluhan orang dan melukai banyak lainnya. Tragedi ini memicu diskusi nasional tentang standar keselamatan bangunan, pengawasan konstruksi, serta tata ruang di kawasan rawan bencana. Para pakar teknik sipil menilai kejadian ini sebagai alarm keras bahwa mitigasi bencana tidak hanya terkait alam, tetapi juga kualitas pembangunan.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Bencana di sektor transportasi laut turut mencuat pada 2025. Pada 2 Juli, kapal penumpang KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Indonesia saat menghadapi cuaca buruk dan gelombang tinggi. Insiden ini menelan korban jiwa dan menyoroti persoalan keselamatan pelayaran, mulai dari kelaikan kapal, manajemen cuaca, hingga kesiapan awak dan sistem peringatan dini. Para ahli maritim mengingatkan bahwa dengan perubahan iklim yang meningkatkan intensitas gelombang dan badai laut, keselamatan transportasi laut harus menjadi prioritas nasional.

Memasuki outlook kebencanaan 2026, para pakar sepakat bahwa tantangan tidak akan semakin ringan. Kepala BNPB, dalam sejumlah pernyataan publiknya, menegaskan bahwa tren bencana hidrometeorologi diperkirakan tetap tinggi seiring pengaruh La Niña lemah hingga moderat dan peningkatan suhu global. Ia menekankan pentingnya penguatan mitigasi berbasis komunitas, integrasi data kebencanaan, serta kesiapsiagaan lintas sektor dari pusat hingga daerah.

Sementara itu, pakar klimatologi dan kebencanaan dari sejumlah perguruan tinggi menyebut tahun 2026 sebagai fase krusial bagi Indonesia untuk beralih dari pendekatan responsif menuju preventif.

Investasi pada sistem peringatan dini, restorasi lingkungan, penataan ruang berbasis risiko, dan pendidikan kebencanaan dinilai menjadi kunci untuk menekan dampak bencana di masa depan. Tanpa langkah struktural yang berani, Indonesia berpotensi terus berada dalam siklus darurat yang berulang.

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Menutup tahun 2025, kebencanaan nasional bukan sekadar catatan statistik atau rangkaian tragedi, melainkan cermin besar tentang relasi manusia dengan alam dan kualitas tata kelola pembangunan.

Tahun 2026 menghadirkan harapan sekaligus peringatan: bahwa bencana mungkin tak dapat dihindari, tetapi penderitaan akibatnya dapat dikurangi. Di sanalah ujian sejati ketangguhan Indonesia, bukan hanya pada kecepatan merespons, melainkan pada kesungguhan belajar, berbenah, dan menjaga kehidupan bersama di tengah negeri yang dinamis dan rawan bencana ini. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Rekomendasi untuk Anda