DI KAWASAN Teluk Persia, rudal melintas dan drone berseliweran. Di Washington, para politisi berdebat tentang strategi dan kedaulatan.
Namun jauh dari gemuruh perang, di dapur-dapur rumah warga Amerika Serikat, luka itu mulai terasa. Bukan luka tembak, bukan luka bakar, melainkan luka harga dan inflasi yang perlahan menggerogoti kehidupan sehari-hari.
Perang yang dilancarkan Presiden Donald Trump bersama Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 telah menciptakan gelombang kejut ekonomi yang menjalar ke seluruh negeri.
Inflasi merangkak naik, solar diesel mencetak rekor sepanjang masa, pengusaha kecil menjerit, dan pasar saham tertekan. Inilah harga yang harus dibayar oleh rakyat Amerika dari perang yang tak kunjung usai.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
Inflasi yang Tak Pernah Diminta
Sejak perang dimulai, inflasi konsumen AS merangkak naik. Pada April 2026, inflasi mencapai 3,8% year-on-year, tertinggi sejak Mei 2023. Hampir setengah dari kenaikan itu didorong oleh melonjaknya biaya energi.
Hingga Agustus 2026, inflasi masih bertahan di 3,4%, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Indeks harga produsen (PPI) bahkan naik 5,4% secara tahunan, dengan harga energi melonjak 24,4%. Kongres memperkirakan perang ini akan menambah 0,5 poin persentase pada inflasi awal tahun depan.
Bagi keluarga Amerika, ini bukan angka di layar berita. Ini adalah kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Harga makanan naik, biaya listrik meningkat, dan uang di rekening terasa semakin cepat habis.
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
Harga Solar Cetak Rekor, California Kehabisan Digit
Luka paling dalam terasa di pompa bensin. Diesel nasional AS menembus $6,23 per galon atau setara Rp110.458 per gallon, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Jika dikonversi ke liter, itu berarti Rp29.168 per liter. Setahun lalu, harganya hanya $3,55 per galon atau Rp16.619 per liter.
Di California, harga diesel mencapai $8,21 per galon atau Rp38.456 per liter. Beberapa stasiun bahkan mencatat $9,999 per gallon, angka maksimal yang mampu ditampilkan layar pompa mereka. Pompa diesel di California sudah kehabisan digit.
Sejak 1 Maret 2026, warga Amerika telah membelanjakan lebih dari $100 miliar lebih, untuk bensin dan diesel dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Setiap rumah tangga rata-rata mengeluarkan $760 (sekitar Rp13,4 juta) lebih untuk bahan bakar.
Baca Juga: Ukraina Catat 292 WNI Diduga Bergabung dengan Militer Rusia
Bagi sopir truk, petani, dan pedagang yang bergantung pada solar diesel, ini bukan sekadar kenaikan. Ini adalah pukulan yang mengancam kelangsungan hidup.
Pengusaha Menuju Kematian
Di sudut-sudut kota kecil Amerika, para pengusaha menghadapi tekanan ganda: biaya energi yang melonjak dan perang tarif dengan Kanada yang memperburuk situasi.
Mateo Kehler, pemilik pabrik keju artisanal Jasper Hill Farm di Vermont, menggambarkan situasinya sebagai “death by a thousand cuts”, kematian dari seribu luka. Biaya energi untuk truk dan mesin pertaniannya melonjak, sementara tarif hingga 50% menghantam peralatan yang ia impor dari Kanada. Pelanggan grosirnya di Kanada membatalkan pesanan liburan sebagai bentuk boikot terhadap kebijakan Trump.
Baca Juga: Demo Gen Z Jerman Berujung Ricuh di Hamburg, Frankfurt, dan Berlin
Darcy Lane, salah satu pendiri Revival Stillworks di Vancouver Island, menghadapi pajak 50% untuk peralatannya yang masuk ke AS. Peralatan senilai $250.000 hingga $2 juta itu kini dikenai bea masuk yang sangat besar.
“Kami punya pesanan senilai jutaan dolar yang seharusnya terjadi dalam 4-6 bulan ke depan, dan tiba-tiba ini terjadi lagi,” ujarnya.
Survei NFIB menunjukkan optimisme pengusaha kecil menurun pada Agustus 2026. Namun kemudian inflasi dan pajak menjadi masalah terbesar kedua setelah kualitas tenaga kerja. Sekitar 31% pengusaha kecil melaporkan telah menaikkan harga jual, dan hampir sebanyak itu berencana melakukannya dalam beberapa bulan mendatang.
Pasar Saham Tertekan, Biaya Pinjaman Naik
Baca Juga: Jelang Pemilu Sela AS, Demokrat Unggul di Survei
Pasar saham AS melemah seiring eskalasi perang. Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mencatat penurunan empat hari berturut-turut pada awal September 2026. Sektor konsumen dan industri paling terpukul, sementara energi justru menjadi salah satu sektor yang diuntungkan.
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak Oktober 2023, mencapai 4,95%. Ini berarti biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis semakin mahal, hipotek, pinjaman mobil, dan kartu kredit semuanya terpengaruh.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 mencapai 67-68%, naik dari hanya sekitar 40% sepekan sebelumnya. Bagi warga Amerika yang ingin membeli rumah atau memulai usaha, pintu itu semakin sempit.
Biaya Perang Melonjak ke Angka Rp674 Triliun
Baca Juga: AS Pindahkan 10 Pesawat Kargo Militer ke Israel, Persiapan Kemungkinan Serangan ke Iran
Menurut Congressional Budget Office (CBO), perang dengan Iran telah menelan biaya $38 miliar (Rp674 triliun lebih) hingga 1 Agustus 2026. Jika konflik berlanjut, biaya tambahan bisa mencapai $2-3 miliar per bulan.
Sebagian besar biaya terkait dengan pengisian ulang stok amunisi yang digunakan sejak perang dimulai, diperkirakan mencapai $21,7 miliar.
Namun, angka-angka ini tidak pernah muncul di meja makan keluarga Amerika. Yang mereka lihat adalah harga yang terus naik, gaji yang tak cukup, dan masa depan yang semakin tak pasti.
Korban Militer AS: 19 Tewas, 750 Terluka
Baca Juga: Flydubai Perpanjang Penangguhan Penerbangan Tel Aviv hingga 30 November
Di balik angka-angka ekonomi, ada nyawa yang melayang. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, sebanyak 19 anggota militer AS telah tewas dan lebih dari 750 lainnya terluka. Angka ini terus bertambah seiring konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Bagi keluarga para prajurit, luka itu bukan sekadar inflasi. Luka itu adalah kehilangan anggota keluarga tercinta yang tak tergantikan.
DPR AS Sahkan Resolusi: “Akhiri Perang Gagal Ini!”
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, Dewan Perwakilan Rakyat AS akhirnya mengesahkan resolusi kekuasaan perang yang mengarahkan Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan Amerika dari permusuhan dengan Iran. Resolusi ini disetujui dengan suara 220–204, dengan 7 anggota Partai Republik memilih mendukung usulan yang disponsori oleh Perwakilan Demokrat Seth Moulton.
Baca Juga: Kalah Pemilu Brasil, Flávio Bolsonaro Melarikan Diri ke AS
Ini menandai ketiga kalinya DPR AS menyetujui resolusi kekuasaan perang serupa, sebuah sinyal bahwa Kongres semakin tidak sabar dengan perang yang tak kunjung usai.
Perwakilan Gregory Meeks, anggota Demokrat dengan peringkat tertinggi di Komite Urusan Luar Negeri DPR, melancarkan kritik tajam.
“Ini sekarang adalah Resolusi Kekuasaan Perang ketiga yang telah disahkan oleh Dewan untuk mengakhiri perang ini, termasuk resolusi saya sendiri yang disahkan oleh kedua kamar. Presiden harus mengakhiri perang gagal ini dan menunjuk diplomat nyata, bukan pengembang properti, untuk bekerja secara multilateral pada solusi diplomatik yang membuka Selat (Hormuz) dan mengurangi ketegangan,” ujar Gregory Meeks.
Meeks menyebut kenaikan harga bensin dan suku bunga hipotek, inflasi, miliaran dolar pengeluaran pemerintah, serta korban militer AS sebagai biaya konflik yang tidak terelakkan.
Baca Juga: Komandan CENTCOM Paparkan Opsi Serangan Baru ke Iran
Implikasi Politik: Trump dan Pemilu November
Dampak ekonomi perang ini menjadi beban politik besar bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan Demokrat unggul 8 poin dari Republik dalam isu biaya hidup.
Trump sendiri mengakui bahwa harga BBM mungkin tidak turun signifikan hingga setelah pemilu.
Senator Demokrat Elizabeth Warren mengecam, “Donald Trump berjanji untuk menurunkan biaya pada hari pertama. Sebaliknya, dia terus membesarkan mereka. Pertama, tarifnya yang kacau mendorong harga menjadi lebih tinggi. Sekarang, perangnya dengan Iran semakin mendorong mereka.”
Baca Juga: Obama Kritik Kebijakan Trump di Hadapan Pendukung Demokrat Georgia
Begtilah kondisi ekonomi Amerika sekarang. Di Teluk Persia, rudal dan drone memang masih terus melintas. Sementara di Washington, para politisi berdebat tentang strategi dan kedaulatan. Di jalanan Amerika, rakyat biasa yang menanggung bebannya, sopir truk yang kehabisan solar, ibu rumah tangga yang harus memilih antara bensin atau makanan, dan pengusaha kecil yang melihat bisnisnya perlahan mati.
Perang ini mungkin tentang geopolitik. Tetapi lukanya tidak tergambar di peta. Lukanya ada di rekening yang menipis, di meja makan yang semakin berkurang, dan di mimpi yang perlahan pudar.
Dan kini, suara rakyat itu mulai terdengar di Kongres. Resolusi telah disahkan. Namun apakah perang akan berakhir, atau akankah luka ini terus menganga? []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic