Jambi, MINA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Sumatra hingga Jumat (25/9). Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Jumat sore, sebanyak 726 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Sumatra, dengan konsentrasi tertinggi berada di Sumatra Selatan sebanyak 487 titik.
Selain Sumatra Selatan, hotspot juga terdeteksi di sejumlah provinsi lainnya. Bangka Belitung mencatat 95 titik, Lampung 78 titik, Jambi 38 titik, Bengkulu delapan titik, Riau delapan titik, Sumatra Barat tujuh titik, Sumatra Utara tiga titik, dan Aceh dua titik. Data tersebut menunjukkan aktivitas panas masih tersebar di berbagai wilayah Sumatra.
Di Sumatra Selatan, dampak karhutla kembali dirasakan masyarakat Palembang. Kabut asap pekat menyelimuti sejumlah kawasan pada Jumat pagi dan membuat sebagian warga mengeluhkan mata pedih serta sesak. Kondisi kualitas udara juga sempat masuk kategori berbahaya dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 264,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 01.00 WIB.
Kabut asap bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.
Baca Juga: Jadwal Sepak Bola Hari Ini: Inggris vs Ceko, Pesta Gol Membayangi
Jarak pandang turun hingga sekitar 700 meter sehingga penerbangan Citilink dari Jakarta menuju Palembang tidak dapat mendarat dan harus kembali ke bandara asal.
Sementara itu, pemantauan Kementerian Kehutanan melalui data SiPongi hingga Kamis (24/9) pukul 21.15 WIB mencatat 25 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatra Selatan. Pada pemantauan yang sama, Riau dan Jambi tidak terdeteksi hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Data tersebut berbeda dengan jumlah hotspot BMKG karena menggunakan sumber satelit dan kriteria pemantauan yang berbeda.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering masih berlangsung di sebagian Sumatra. Hingga 21 September, Sumatra Selatan tercatat memiliki 1.485 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam pemantauan periode sebelumnya.
BMKG menyebut kondisi kering dan rendahnya kelembapan dapat meningkatkan risiko kebakaran, meskipun hujan masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Sumatra.
Masyarakat di wilayah terdampak karhutla diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap asap dan penurunan kualitas udara. Warga juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan serta mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk, aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini, Selasa 6 Oktober 2026
















Mina Indonesia
Mina Arabic