QAILULAH atau tidur siang singkat telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sejak abad ke 7. Banyak yang mengira qailulah atau istilah kerennya “power nap” yang bertujuan untuk memulihkan energi adalah temuan baru dunia kerja modern, dari kantor-kantor teknologi Silicon Valley hingga badan antariksa Amerika, NASA. Padahal, praktik ini sudah diparktekkan oleh para sahabat berdasarkan hadis dari Rasulullah SAW.
Sunnah yang Mulai Terlupakan
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kebiasaan para sahabat menjelang waktu Zhuhur di tengah teriknya siang:
“Mereka (para sahabat) biasa berkumpul, kemudian tidur siang.”
Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Rasulullah SAW bahkan menganjurkan qailulah secara khusus:
“Beristirahat siang-lah (qailulah) kalian, karena sesungguhnya setan tidak beristirahat siang.”
(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada
Tradisi Beberapa Negara Maju
Kebiasaan ini rupanya diakui terpisah oleh banyak bangsa, jauh sebelum istilah “power nap” populer. Jepang mengenal inemuri — tidur sambil tetap “hadir” di rapat atau kereta, dianggap tanda kerja keras, bukan malas. Tiongkok punya wushui , berakar dari teori yin-yang pengobatan tradisional, dengan pukul 13.00–15.00 sebagai jam istirahat resmi di banyak perusahaan seperti Huawei.
Spanyol punya siesta, jeda istirahat yang secara tradisional bisa 2–3 jam agar pekerja sempat pulang dan makan, meski tidur sesungguhnya biasanya hanya 20–30 menit dan tradisi ini kini menyusut di kota besar. Adapun Google dan Uber di Amerika Serikat menyediakan kapsul tidur (nap pods) di kantor pusat murni atas kalkulasi bisnis: riset menyebut kurang tidur merugikan produktivitas perusahaan AS hingga puluhan miliar dolar per tahun. Bedanya, keempat praktik itu baru dilembagakan dalam beberapa dekade terakhir, sementara qailulah sudah diajarkan Rasulullah SAW 14 abad silam sebagai sunnah, lengkap dengan keutamaannya — bukan sekadar strategi produktivitas.
Ketika NASA Membuktikan Manfaatnya
Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi
Penelitian klasik badan antariksa AS (NASA) pada pertengahan 1990-an terhadap para pilot pesawat menjadi salah satu rujukan paling sering dikutip soal manfaat tidur siang singkat. Dalam studi tersebut, pilot diberi kesempatan tidur siang selama maksimal 40 menit di sela penerbangan panjang. Hasilnya, menurut ringkasan Sleep Foundation, tidur siang sekitar 26 menit terbukti paling optimal: meningkatkan kewaspadaan (alertness) hingga 54 persen dan performa kerja hingga 34 persen, dibanding kelompok yang tidak tidur siang sama sekali.
Riset-riset turunan lain yang dirangkum Sleep Foundation juga menunjukkan tidur siang singkat memperbaiki daya ingat, kreativitas, waktu reaksi, konsentrasi, bahkan menurunkan tekanan darah — asalkan durasinya dijaga singkat.
Kuncinya: Singkat dan Tepat Waktu
Para peneliti tidur sepakat, manfaat qailulah/power nap akan hilang justru jika tidur siang dilakukan terlalu lama. Tidur lebih dari 30 menit berisiko masuk ke fase tidur dalam, sehingga saat bangun tubuh justru terasa lebih lemas (sleep inertia) — bukan segar. Karena itu, durasi 15–30 menit sebelum masuk waktu Zhuhur adalah kombinasi yang paling sesuai, baik menurut tuntunan sunnah maupun riset kedokteran tidur modern.
Baca Juga: Pakai Masker: Menjaga Amanah Tubuh Titipan Allah
Bagi seorang Muslim, qailulah bukan sekadar strategi produktivitas ala korporasi, melainkan sunnah yang bila diniatkan mengikuti petunjuk Nabi SAW, sekaligus membawa pahala mengikuti sunnah.
Menerapkannya di Tengah Kesibukan Kerja
Bagi pekerja kantoran atau pengusaha yang tidak selalu punya keleluasaan waktu, qailulah tetap bisa diterapkan secara sederhana: menyisihkan 15–20 menit sebelum atau setelah shalat Zhuhur untuk memejamkan mata di ruangan yang tenang dan minim cahaya, tanpa harus benar-benar tertidur lelap. Beberapa ulama juga menganjurkan qailulah dilakukan setelah berwudhu, sehingga tubuh lebih segar begitu bangun dan langsung siap menunaikan shalat.
Dengan menghidupkan kembali sunnah yang sempat “dipinjam” dan dinamai ulang oleh dunia korporasi modern ini, seorang Muslim sejatinya sedang kembali kepada petunjuk yang sudah lebih dulu diajarkan Rasulullah SAW — dengan bonus pahala yang tidak dimiliki oleh sekadar power nap biasa.[]
Baca Juga: Tren Morning Routine Sunnah Rasululllah Di Pagi Hari Yang Baru Terungkap
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic