Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika Suara Perempuan Palestina Menyingkap Genosida

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:27 WIB

Selasa, 4 Agustus 2026 - 13:27 WIB

33 Views ㅤ

Aksi perempuan Palestina. (Maryword)

Al-Quds, MINA – DI TENGAH gempuran bom dan deru tank, di balik tembok Apartheid yang memisahkan desa dari ladang, dan di balik jeruji penjara yang mencekik, ada suara yang tak pernah padam. Suara itu adalah suara perempuan Palestina. Selain menjadi saksi hidup genosida, suara Perempuan Palestina juga menjadi benteng terakhir yang menjaga denyut kehidupan di tanah para nabi.

Mendengarkan suara mereka bukan sekadar tindakan empati. Ini adalah kewajiban moral dan kemanusiaan untuk memahami bentuk-bentuk genosida terhadap rakyat Palestina.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 30.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Zionis Israel. Hampir 25.000 di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Namun genosida tidak pernah semata-mata tentang angka. Ia adalah Tindakan terorganisir yang menyerang fondasi kehidupan. Mulai dari tanah, pekerjaan sehari-hari, dan seluruh sistem produksi serta reproduksi kehidupan Palestina.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Tanah dan Perempuan, Dua Sisi yang Tak Terpisahkan

“Semua orang, dari utara, selatan, timur, dan barat, terhubung untuk mempertahankan tanah ini, yang telah dan akan selalu menjadi Palestina. Kami adalah perempuan terakhir yang akan hidup dan menanggung pendudukan yang telah terjadi selama lebih dari 75 tahun genosida,” ujar Maryam Abu Daqqa, seorang perempuan aktivis Palestina.

Baginya, hubungan antara perempuan dan tanah adalah ikatan suci yang tak terputuskan. “Kami, perempuan, sedang dipindahkan dari tanah kami, yang memberi makan keluarga dan anak-anak kami,” tegasnya.

Samah Abu Nimah, seorang petani Palestina, membawa kita semakin dekat pada realitas pahit itu. Ia mengungkapkan bahwa pendudukan memberlakukan pembatasan ketat atas sumber daya alam, memaksa masuknya produk impor dengan harga yang melambung tinggi.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Perempuan Palestina merupakan 78% tenaga kerja di sektor pertanian. Mereka menanam, memanen, memasarkan, memelihara ternak, memerah susu, hingga memproduksi olahan susu. Ketika akses ke tanah direbut, maka seluruh rantai kehidupan itu runtuh.

Perampasan Tanah, Metode Brutal Penjajahan

Nariman Bajawwi, yang tinggal di Jenin, mengenang sejarah kelam sejak 1948.

“Ketika mereka mulai menyita tanah kami dan membawa pemukim untuk menetap, kaum Zionis berargumen bahwa ini adalah tanah tanpa rakyat untuk bangsa tanpa tanah,” ujarnya.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Namun argumen itu terbantahkan oleh sertifikat tanah atas nama perempuan Palestina yang terdaftar sejak tahun 1858. Ini Adalah sebuah fakta yang diabadikan oleh Majalah Caapire pada Hari Tanah Palestina 2022.

Khitam Saafin, yang saat itu berada di penjara, dengan tegas mengupas hubungan antara Zionisme dan perebutan tanah. Dalam tulisannya, ia menjelaskan bahwa pada tahun 1948, gerakan Zionis, dengan dukungan penuh kekuatan kolonial, menghancurkan lebih dari 500 desa Palestina dan mengusir paksa penduduknya, menggantikan mereka dengan pemukim Zionis.

“Begitulah pendirian Negara Israel diumumkan di negeri ini,” lanjutnya.

Ia melanjutkan kesaksiannya, “Pada tahun 1967, Israel melancarkan perang kolonial baru, menduduki Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, dan sebagian wilayah Lebanon. Hingga hari ini, negara itu terus mengendalikan Tepi Barat, mendirikan pemukiman melalui hukum militer. Ini adalah bagian dari rencana aneksasi yang diumumkan pada tahun 2020 oleh Benjamin Netanyahu, yang bertujuan menganeksasi 33 persen Tepi Barat ke Israel.”

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Nariman menambahkan bahwa tembok Apartheid yang membentang di seluruh Tepi Barat telah menyebabkan penyitaan dan pengambilalihan banyak wilayah. Desa-desa terpisah oleh tembok. Orang Palestina tidak bisa masuk atau keluar tanpa izin Israel. Petani kehilangan akses ke ladang zaitun mereka, yang merupakan pilar utama kehidupan ekonomi dan budaya Palestina.

“Musim zaitun dianggap sebagai pilar utama dalam kehidupan rakyat Palestina,” jelas Samah.

“Beberapa keluarga bekerja sepanjang tahun untuk merawat tanah dan pohon zaitun, memanen dan memeras buah, memproduksi minyak, dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan finansial bagi kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Namun sejak eskalasi serangan Israel, hambatan itu berubah menjadi larangan total terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan air, tanah, dan peternakan.

Baca Juga: Sembilan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza

“Banyak kasus serangan pemukim terhadap petani tercatat. Sebagian besar korban adalah perempuan, yang sebagian besar cedera dialaminya,” tambah Samah.

Kriminalisasi, Penahanan, dan Pelanggaran Hak Asasi

Ruba Assi, seorang perempuan muda Palestina, pernah ditangkap dua kali, pertama saat masih mahasiswa, dan kedua pada Oktober 2023. Ia baru dibebaskan pada Februari 2024.

“Pertama kali, saya ditangkap tanpa dakwaan, murni masalah administratif. Namun setelah 7 Oktober, semuanya berbeda,” katanya dengan suara bergetar.

Baca Juga: Eisenkot Janji akan Segera Manfaatkan Mayoritas di Knesset ‘Lawan Pemerintahan 7 Oktober’

“Saat ini penjara adalah kuburan yang jauh lebih besar. Tidak ada kemanusiaan, tidak ada belas kasihan. Saat ini, ada begitu banyak orang di penjara, yang kita kenal, dan juga banyak yang tidak bisa kita identifikasi,” ia menyaksikan.

Perempuan yang ditangkap di Gaza tidak diizinkan menghubungi siapa pun. Mereka tidak tahu apakah anak-anak mereka masih hidup.

“Mereka diberi waktu lebih sedikit untuk menerima pengunjung, waktu di halaman lebih sedikit. Mereka hanya diizinkan keluar dari sel satu hari. Ada kekurangan makanan yang sangat parah. Tidak ada air di penjara, kami harus minum dari keran berkarat. Semua itu membuat orang di penjara mati lebih cepat,” ungkap Ruba.

Raya Raduan, aktivis dari Persatuan Komite Perempuan Palestina (UPWC), menambahkan bahwa sejak awal agresi, memang pendudukan secara khusus menargetkan perempuan.

Baca Juga: Blok Netanyahu Dipastikan Tak Dapat Koalisi Pascapemilu Israel

“Jika mereka menolak diperiksa, mereka bisa dipukuli. Militer mengancam akan melakukan pemerkosaan, pelecehan, dan penghinaan. Jika perempuan ini mengenakan hijab, polisi akan melepasnya. Tidak ada privasi sama sekali,” lanjutnya.

Mempertahankan Kehidupan di Tengah Genosida

Proyek genosida Israel tidak hanya membunuh secara massal, tetapi juga menghancurkan infrastruktur, budaya, sistem kesehatan, dan rantai pangan. Seluruh rakyat mengalami perjuangan untuk bertahan hidup dan berkabung kolektif di tengah reruntuhan.

Sammer Abu Safiya, yang tinggal di Gaza, membagikan refleksi yang menusuk kalbu, “Perang ini berdampak negatif pada semua warga Palestina dan terutama perempuan. Sekitar 63 perempuan tewas setiap hari dan 37 perempuan terluka setiap hari. Banyak anak kehilangan ibu mereka.”

Baca Juga: Warga Israel Unjuk Rasa Malam Ini Mendukung Pemerintahan Yahudi-Arab

Menurut statistik terbaru, ada sekitar 4.700 anak yatim piatu. Lebih dari 50% perempuan yang mengungsi tidak bisa hamil. Banyak wanita melahirkan selama perang.

“Perempuan juga kesulitan mengakses produk kebersihan dan makanan untuk mencegah kelaparan. Segala yang kami dapatkan adalah melalui bantuan kemanusiaan,” tambahnya.

“Tidak ada yang menerima belas kasihan. Banyak wanita hamil dan mereka harus menyusui anak mereka atau menggendong balita mereka, karena anak bahkan tidak bisa berbalik selama 6 jam, setiap gerakan acak bisa menyebabkan seluruh keluarga terbunuh,” ujarnya.

Raya Raduan melaporkan situasi mengerikan di rumah sakit. “Wanita melahirkan di tempat penampungan. Tidak ada kondisi kesehatan yang sesuai. Banyak dari mereka kehilangan bayinya. Karena tidak adanya sistem kesehatan yang baik, beberapa wanita memilih untuk mencabut ovarium mereka agar tidak bisa melahirkan lagi.”

Baca Juga: Hari Ke-8 Blokade Militer Israel di Hebron, Ratusan Keluarga Palestina Terusir

Ia berbicara tentang rasa sakit yang tak terperi. “Salah satu rekan kami, putranya meninggal karena kelaparan. Ketika saya berbicara tentang perempuan Palestina, saya tidak tahu harus berkata apa. Namun mereka sudah berada di garis depan selama 75 tahun sekarang. Sejak awal agresi, mereka menghadapi kekerasan di jalanan dan di rumah mereka.”

Dalam merawat keluarga dan komunitas, perempuan menghadapi kesulitan pengungsian paksa. “Perempuan perlu beradaptasi, memasak untuk anak-anak, menjalani hidup mereka, tetapi mereka tidak dapat menemukan air bersih. Mereka tidak bisa menemukan kamar mandi. Mereka tidak bisa menemukan gas yang mereka butuhkan untuk memasak. Mereka tidak bisa mandi,” kata Sammer.

Keadaan Darurat Global

Maryam Abu Daqqa mengingatkan dunia, “Perempuan tidak bisa tidur atau beristirahat. Kita sedang dibantai sebagai sebuah bangsa.”

Baca Juga: Pemukim Israel Serang Petani Zaitun Palestina Saat Panen

Ia menekankan bahwa perjuangan perempuan Palestina adalah perjuangan yang terus-menerus sampai martabat kembali ditegakkan.

“Di banyak bagian dunia, kami dianggap teroris, tetapi kami sedang melawan imperialisme, yang telah diberlakukan sejak Perjanjian Balfour. Seruan gencatan senjata terlalu lemah. Sungguh disayangkan bahwa di abad ke-21 ini, kita masih menghadapi bentuk-bentuk rasisme dan kolonialisme baru,” ujarnya.

Beberapa bulan lalu, Maryam sendiri dianiaya di Prancis, dibuntuti, dipukuli, diseret, dan dideportasi.

“Inikah Prancis yang sangat demokratis, seperti yang dikatakan beberapa orang?,” sindirnya dengan getir.

Raya Raduan menyoroti standar ganda komunitas internasional. “Dunia panik karena ada klaim pemerkosaan pada 7 Oktober, tapi sekarang dunia tidak melakukan apa-apa ketika perempuan Palestina menghadapi kematian.”

Ia menegaskan bahwa wacana feminis telah digunakan sebagai alat di Global North untuk membenarkan imperialisme, menempatkan kehidupan perempuan dalam hierarki berbasis rasisme.

Maryam menyerukan, “Kita membutuhkan feminisme untuk membentuk front global yang luas yang berani menghadapi situasi ini dan mengecamnya kepada dunia.”

Feminisme akar rumput, lebih dari sebelumnya, kini tegas dalam garis anti-imperialisme, membangun solidaritas penuh dengan perjuangan rakyat Palestina untuk kedaulatan dan penentuan nasib sendiri, serta untuk gencatan senjata segera.

Ruba Odeh, dari World March of Women Palestine, menegaskan, “Kami menuntut diakhirinya genosida di Gaza dan Tepi Barat untuk bergerak menuju kebebasan dan mencapai negara bebas dengan ibu kotanya sendiri. Sebagian perjuangan Palestina untuk hak kedaulatan di tanah kami dilakukan oleh perempuan. Zionis selalu berusaha meminimalkan kekuatan Palestina, berusaha mengendalikan sumber daya air kita. Namun kami menampilkan perjuangan, keteguhan, dan ketahanan perempuan Palestina.”

Suara yang Tak Pernah Padam

Di balik reruntuhan Gaza, di balik tembok Apartheid Tepi Barat, dan di balik jeruji penjara Israel, perempuan Palestina tetap berdiri. Mereka adalah ibu yang kehilangan anak, pengantin yang kehilangan suami, petani yang kehilangan ladang. Tapi mereka semua adalah para pejuang yang tak pernah kehilangan semangat untuk terus berjuang, dan tak kenal kata kata menyerah.

Suara mereka bukan sekadar kesaksian, tapi adalah kebenaran yang menembus kebisingan propaganda global. Dengarkan mereka. Percayai mereka. Dan jadikan perjuangan mereka sebagai perjuangan kita semua.

Palestina akan merdeka, dari sungai hingga laut. Dan perempuan-perempuan di tanah suci akan menjadi saksi dan pelaku kemenangan itu.

Sumber: Helena Zelic dan Tica Moreno. Viacampesina.

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Rekomendasi untuk Anda