BAGI umat Islam, Masjidil Aqsha bukan sekadar situs bersejarah di Palestina, tetapi salah satu tempat ibadah paling mulia di muka bumi. Keutamaannya tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya, melainkan pada besarnya pahala shalat yang dijanjikan di dalamnya.
Dalam hadits riwayat Abu Dzar Al-Ghifari yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram. Kedudukannya yang begitu awal dalam sejarah tauhid menunjukkan kemuliaannya dalam syariat Islam.
Keutamaan itu semakin ditegaskan dalam riwayat tentang Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Ketika beliau selesai membangun Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah agar siapa pun yang datang untuk shalat di sana semata-mata karena ibadah, diampuni dosanya seperti hari ia dilahirkan.
Rasulullah ﷺ menyatakan harapan bahwa doa tersebut dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa shalat di Masjidil Aqsha bukan hanya bernilai pahala besar, tetapi juga menjadi sebab penghapusan dosa.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa satu shalat di Masjid Nabawi lebih utama daripada empat shalat di Masjidil Aqsha. Dari perbandingan ini, para ulama menjelaskan bahwa pahala shalat di Masjidil Aqsha setara dengan sekitar 250 kali lipat dibandingkan shalat di masjid biasa.
Dengan keutamaan sebesar ini, Masjidil Aqsha menjadi salah satu dari tiga masjid yang memiliki nilai ibadah istimewa dalam Islam. Shalat di dalamnya bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan meraih pahala berlipat dan ampunan yang agung.
Hadits lain menyebutkan bahwa satu shalat di Masjid Nabawi lebih utama daripada empat shalat di Masjidil Aqsha. Ini menunjukkan bahwa pahala shalat di Masjidil Aqsha setara dengan sekitar 250 kali shalat di masjid biasa. Keutamaan ini menempatkannya sebagai salah satu pusat ibadah paling mulia dalam Islam.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
تَذَاكَرْنَا وَ نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ أَمَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلاَةٌ فِيْ مَسْجِدِيْ أَفْضَلُ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى هُوَ وَلَيُوْشَكَنَّ لأَنْ يَكُوْنَ لِلرَجُلِ مِثْلُ شَطْنِ فَرَسِهِ (وَفِيْ رِوَايَةٍ “مِثْلُ قَوْسِهِ”) مِنَ الأَرْضِ حَيْثُ يُرَى مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba masanya, seseorang memiliki tanah seukuran kekang kudanya (dalam riwayat lain : seperti busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari dunia seisinya” [HR Ibrahim bin Thahman dalam kitab Masyikhah Ibnu Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab Mu’jamul Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, dan Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi dan Al-Albani sepakat dengan beliau]
Hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang pahala shalat di Masjidil Aqsha. Hadits ini menunjukkan, shalat di Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti empat shalat di Masjid Aqsha. Pahala shalat di Masjidil Aqsha setara dengan 250 kali (di masjid lainnya).
Tiga Masjid Tujuan Safar Ibadah
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa perjalanan ibadah secara khusus dianjurkan hanya ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Hadits ini menegaskan kedudukan Masjidil Aqsha sebagai bagian dari tiga masjid paling utama dalam Islam.
Artinya, hubungan umat Islam dengan Masjidil Aqsha bukan sekadar emosional atau politis, tetapi memiliki landasan teologis yang kuat.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim]
Dalam sejumlah riwayat, Masjidil Aqsha juga dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman. Disebutkan bahwa Dajjal tidak akan mampu memasuki masjid ini, sebagaimana ia juga tidak dapat memasuki Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Hal ini menunjukkan penjagaan khusus Allah terhadap tempat-tempat suci tersebut.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Selain itu, kemakmuran Baitul Maqdis disebut memiliki keterkaitan dengan rangkaian peristiwa besar menjelang akhir zaman. Semua ini memperlihatkan bahwa Masjidil Aqsha memiliki dimensi spiritual yang melampaui ruang dan waktu.
Sejak pertengahan abad ke-20, wilayah Yerusalem (Al-Quds) mengalami dinamika politik yang panjang dan kompleks. Pembatasan akses, perluasan pemukiman, dan berbagai ketegangan menjadikan Masjidil Aqsha bukan hanya simbol kesucian, tetapi juga simbol ujian bagi umat Islam.
Namun dalam perspektif keimanan, ujian tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan harapan akan pertolongan Allah dan kewajiban umat untuk kembali kepada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Lebih dari Sekadar Bangunan, Masjidil Aqsha adalah warisan para nabi, salah satu dari tiga masjid paling utama, tempat ibadah dengan pahala berlipat, simbol keteguhan umat di tengah ujian sejarah.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Memahami keutamaannya bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian yang dilandasi ilmu. Sebab kecintaan yang kokoh selalu berdiri di atas pemahaman yang benar.
Masjidil Aqsha bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah bagian dari iman hari ini, dan harapan untuk masa depan. []
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic