Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗۗ وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ ١٤٠ (ال عمران [٣]: ١٤٠)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Ali Imran [3]: 140)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan frasa وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ sebagai ketetapan Allah Ta’ala bahwa kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan keruntuhan, akan terjadi silih berganti di antara manusia.
Ayat di atas merupakan tasliyah (hiburan) kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam dan para sahabat sekembalinya dari Perang Uhud (3 H). Kekalahan yang dialami kaum Muslimin tidak berarti bahwa keadaan tersebut akan berlangsung selamanya, sebagaimana kemenangan tidak menjadi jaminan bahwa suatu kelompok akan selalu berada di atas seterusnya.
Pergiliran merupakan sunnatullah dalam perjalanan sejarah peradaban. Melalui pergiliran itu, Allah Ta’ala hendak menguji manusia dan memperlihatkan siapa yang tetap beriman dan bersabar dalam setiap keadaan.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Allah Ta’ala mengaitkan pergiliran keadaan itu dengan ujian keimanan dan sikap terhadap kezaliman. Ukuran keberhasilan perjuangan bukan sekadar mendapat kemenangan dan kekuasaan, tetapi apakah keduanya digunakan untuk menegakkan keadilan, atau justru melahirkan kezaliman.
Pesan ayat di atas menarik dan relevan ketika membaca dinamika geopolitik dunia saat ini. Tidak ada kekuatan dan kekuasaan manusia yang memiliki jaminan akan terus langgeng. Sebab pengaruh, dukungan masyarakat dan konfigurasi kekuatan dan kekuasaan dapat berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perubahan tersebut dapat dilihat antara lain dari mulai bergesernya pandangan sebagian besar masyarakat Amerika Serikat (AS) terhadap Israel dan meningkatnya perhatian terhadap Palestina. Sejumlah survei menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel tidak lagi memiliki pola yang sama seperti beberapa dekade sebelumnya, terutama di kalangan generasi muda.
Karena itu, perubahan kekuatan dunia hendaknya dicermati sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah yang menjadi pelajaran berharga. Tugas manusia adalah membaca perubahan itu dengan seksama dan penuh kesadaran bahwa kekuasaan dunia hanyalah sementara, sementara setiap kekuasaan akan dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Isu Palestina Menembus Kotak Suara
Dari kehancuran dan genosida di Gaza hingga ruang-ruang kampanye di Michigan dan Minnesota, isu Palestina perlahan tapi pasti menemukan jalannya menuju jantung politik negeri adidaya. Pemilu sela Amerika Serikat 2026 memang belum mencapai hari pencoblosannya pada 3 November mendatang. Namun sejumlah pemilu pendahuluan Demokrat telah memberikan sinyal penting bahwa isu Israel-Palestina kini menjadi perdebatan politik domestik Amerika.
Hal yang menarik bukan sekadar munculnya kandidat yang mengkritik kebijakan Israel, melainkan perubahan lingkungan politik tempat mereka bertarung. Dukungan terhadap Israel yang selama puluhan tahun dibangun, kini menghadapi perdebatan terbuka, terutama di dalam tubuh pemilih Partai Demokrat.
Salah satu gambaran paling mencolok terlihat di wilayah Michigan. Abdul El-Sayed berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan Demokrat untuk kursi Senat Amerika Serikat pada Agustus 2026, mengalahkan anggota DPR Haley Stevens, seorang politisi yang dikenal pro-Israel.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Kemenangan tersebut menjadi perhatian publik karena Haley Stevens memiliki dukungan dana yang sangat besar dari kelompok-kelompok pro-Israel. Media Associated Press (AP) melaporkan, lembaga lobi Israel-Amerika AIPAC dan kelompok afiliasinya mengeluarkan hampir 30 juta dolar AS (setara Rp.536,25 miliar) untuk mendukung Stevens.
El-Sayed menjadikan krisis Palestina sebagai bagian penting dari kampanyenya. Ia secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah pimpinan Donald Trump atas dukungan militer yang tidak bersyarat kepada Israel yang dianggapnya tidak berpihak kepada kepentingan domestik AS.
Fenomena serupa juga muncul di Minnesota. Peggy Flanagan memenangkan pemilihan pendahuluan Demokrat untuk kursi Senat setelah mengalahkan anggota DPR Angie Craig, kandidat yang diasosiasikan pro-Israel.
Flanagan menyatakan ingin menjamin keamanan Israel, sekaligus mendukung pemerintah federal memberi bantuan senjata kepada Zionis Israel.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Di Philadelphia, kemenangan anggota parlemen Chris Rabb dalam pemilihan pendahuluan Demokrat juga menunjukkan menguatnya kelompok progresif dalam politik Amerika. Dalam laporan beberapa media AS, Rabb memperoleh suara mayoritas dengan kampanye-kampanyenya yang pro-Palestina.
Rangkaian kemenangan tersebut menunjukkan bahwa kandidat yang membawa kritik terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang mendukung Zionis Israel, kini memiliki mendapat tempat di hati masyarakat AS.
Suara Publik Amerika Mulai Bergeser
Lembaga survey opini publik di AS, Gallup pada Februari 2026 menemukan bahwa 41 persen warga Amerika mengatakan lebih bersimpati kepada Palestina dalam krisis Timur Tengah, sedangkan 36 persen tetap bersimpati kepada Israel. Angka tersebut merupakan perubahan besar dibandingkan 2025 lalu ketika simpati kepada Israel masih unggul 46 persen berbanding 33 persen.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Lembaga survey tersebut juga menyatakan, sepanjang 2001 hingga 2018, Israel secara konsisten memiliki keunggulan signifikan dalam ukuran simpati publik Amerika Serikat, dengan rata-rata selisih mencapai 43 poin. Perubahan signifikan mulai terlihat sejak 2019, beberapa tahun sebelum serangan 7 Oktober 2023 dan perang Gaza.
Artinya, perubahan yang terjadi tidak semata-mata sebagai reaksi spontan terhadap satu peristiwa. Perang Gaza 7 Oktober 2023 tampaknya mempercepat dan memperbesar perubahan yang sudah mulai berkembang beberapa tahun sebelumnya dalam masyarakat Amerika Serikat.
Lembaga survey lainnya, Pew Research Center memberikan gambaran yang lebih rinci. Survei dilakukan pada 4–17 Mei 2026 terhadap 12.574 responden pendukung Partai Republik. Hasilnya, hanya 32 persen yang memiliki pandangan positif terhadap pemerintah Israel, sementara 62 persen berpandangan negatif dan bahkan mengecam negara Zionis itu.
Perubahan tersebut terjadi di kalangan warga AS berusia 18–29 tahun, 58 persen mempunyai pandangan positif terhadap rakyat Palestina, sementara hanya 32 persen masih mempunyai pandangan positif terhadap Israel.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Sementara di kalangan pendukung Partai Demokrat, kesenjangannya lebih besar, yakni 72 persen berpandangan positif terhadap rakyat Palestina dan 26 persen bersimpati terhadap rakyat Israel.
Namun, ada satu hal yang menarik dari survey tersebut, yaitu sebanyak 84 persen warga Amerika tetap memiliki pandangan negatif terhadap gerakan Hamas. Hal itu menunjukkan bahwa meningkatnya simpati rakyat AS kepada Palestina tidak berkaitan dengan perjuangan yang dilakukan Hamas.
Dengan demikian, isu Palestina kini tidak hanya hidup di antara aktivis, komunitas Arab-Amerika, atau kelompok Muslim Amerika saja. Ia mulai menjadi bagian dari percakapan publik yang lebih luas di kalangan masyarakat AS.
Masa Depan AS
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Perubahan tersebut membawa perubahan signifikan bagi politik Amerika Serikat. Selama beberapa dekade, dukungan kuat terhadap Israel relatif dapat dipertahankan sebagai salah satu titik temu antara Demokrat dan Republik, tetapi kini perbedaan semakin terlihat, terutama pada generasi muda dan basis progresif yang lebih kritis.
Sejarawan Rashid Khalidi, dalam wawancara dengan surat kabar Prancis Le Monde pada Mei 2026 menilai, perubahan pandangan generasi muda Amerika Serikat terhadap Israel merupakan perubahan yang bersifat struktural, bukan semata-mata akibat pergantian figur politik. Ia juga menilai perubahan opini publik akan berubah menjadi perubahan kebijakan luar negeri.
Dalam beberapa tahun mendatang, persoalan utamanya bukan sekadar apakah Amerika akan menjadi “pro-Palestina” atau “pro-Israel”. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah dukungan Amerika terhadap Israel tetap dapat dipertahankan sebagai konsensus politik lintas generasi dan lintas partai, atau justru berubah menjadi salah satu isu yang semakin terpolarisasi.
Jika generasi muda Amerika Serikat terus membawa pandangan yang berbeda ke dalam ruang pemilu, parlemen, universitas, media, dan pemerintahan, maka politik luar negeri AS berpotensi mengalami perubahan besar dan mendasar.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Perubahan yang terjadi mungkin bukan sekadar angka dalam survei, melainkan cara pandang masyarakat terhadap kekuasaan, kebijakan luar negeri dan isu-isu sosial lainnya. Palestina yang selama ini sering dipandang sebagai isu jauh di Timur Tengah, kini semakin hadir dalam percakapan tentang siapa yang dipercaya masyarakat Amerika Serikat untuk membawa aspirasi mereka ke parlemen.
Di tengah dinamika perubahan politik Amerika Serikat itu, suara Palestina ternyata bukan hanya terdengar dari Gaza, Ramallah, atau Yerusalem. Ia juga terdengar di ruang-ruang kampanye, dalam perdebatan kandidat, dalam hasil pemilihan pendahuluan, dan perubahan cara pandang sebagian besar rakyatnya.
Kotak suara mungkin belum memberikan jawaban akhirnya. Tetapi satu hal sudah terlihat, isu Palestina kini tidak hanya hadir ruang aktivisme, namun dan kini telah mulia mengetuk pintu-pintu kekuasaan di Amerika Serikat. []
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَاب
Baca Juga: Doa Memohon Kekayaan yang Meningkatkan Takwa dan Memperluas Manfaat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic