Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Empat Hal yang Menentramkan Hati

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 15 Januari 2026 - 21:22 WIB

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:22 WIB

238 Views ㅤ

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (foto: Ardan/MINA)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Empat Hal yang Menentramkan Hati.

Sesungguhnya, ketenangan hati tidak lahir dari banyaknya harta dan kepemilikan, melainkan dari benarnya hubungan dengan Allah.

Harta, jabatan, dan popularitas tidak menjamin hati menjadi tenteram. Betapa banyak orang yang bergelimang kekayaan tetapi hidup dalam kegelisahan; betapa banyak orang yang berilmu namun jiwanya tetap gundah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Hal itu karena hati tidak diciptakan untuk bergantung kecuali kepada Allah ﷻ.

Khutbah selengkapnya silakan membaca teks khutbah berikut:

Khutbah ke-1:

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah ﷻ, Rabb Yang Maha Perkasa, sumber ketenangan hati, satu-satunya tempat bergantung dan berlindung bagi seluruh makhluk-Nya. Dengan rahmat-Nya hati menjadi tenteram, dan dengan mengingat-Nya kegelisahan sirna.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta seluruh umat Islam hingga akhir zaman.

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab ketakwaan itulah kunci ketenteraman hati.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib akan menyampaikan khutbah berjudul “Empat Hal yang Menentramkan Hati” Sebagai landasannya, marilah kita merenungkan firman Allah  dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut [29] ayat ke 45, yang berbunyi:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ (العنكبوت [٢٩]: ٤٥)

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Secara tekstual, ayat ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ sebagai penguat, penenang, dan peneguh hati beliau dalam menghadapi beratnya dakwah dan kerasnya penentangan kaum musyrikin. Namun secara kontekstual, kandungan ayat ini juga berlaku bagi seluruh umat beliau hingga akhir zaman, sebagai pedoman dalam meraih ketenangan jiwa dan kelurusan hidup.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Pada ayat ini Allah  menghimpun di dalamnya prinsip-prinsip besar pembinaan hati dan perbaikan perilaku. Di dalam ayat ini terdapat arahan tentang hubungan seorang hamba dengan Al-Qur’an, dengan shalat, dengan dzikir, dan dengan kesadaran bahwa Allah  senantiasa mengawasi setiap amal perbuatannya.

Sesungguhnya, ketenangan hati tidak lahir dari banyaknya harta dan kepemilikan, melainkan dari benarnya hubungan dengan Allah. Harta, jabatan, dan popularitas tidak menjamin hati menjadi tenteram. Betapa banyak orang yang bergelimang kekayaan tetapi hidup dalam kegelisahan; betapa banyak orang yang berilmu namun jiwanya tetap gundah. Hal itu karena hati tidak diciptakan untuk bergantung kecuali kepada Allah ﷻ.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Melalui ayat ini, Allah  mengisyaratkan kepada kita empat hal utama yang apabila dihidupkan dalam diri seorang Muslim, akan melahirkan ketenteraman hati sekaligus menjaga dirinya dari penyimpangan hidup. Keempat hal tersebut adalah:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Pertama: Membaca dan Memahami Al-Qur’an

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar selalu membaca dan memahami Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan memahami pesan-pesan Al-Qur’an, ia dapat memperbaiki dan membina dirinya sesuai dengan tuntutan Allah .

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Al-Qur’an adalah obat bagi hati, penawar kegelisahan, dan cahaya dalam kegelapan jiwa. Hati yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah resah, walau lisannya sibuk berdzikir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه مسلم)

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi implementasikan dalam kehidupan. Di sanalah hati menemukan arah dan ketenangan.

Kedua: Menunaikan Shalat dengan Benar

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Al-Marāghī menegaskan bahwa shalat yang ditegakkan dengan khusyuk akan menata jiwa, meluruskan perilaku, dan menenangkan hati. Oleh karena itu, shalat tidak boleh berhenti pada gerakan lahiriah semata, tetapi harus menghadirkan kesadaran batin dan ketundukan hati kepada Allah .

Hendaknya shalat yang kita kerjakan mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar. Jangan sampai shalat yang seharusnya menjadi penjaga kehidupan justru menjadi ibadah yang kosong dari pengaruh.

Diriwayatkan bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi ﷺ: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulan shalat malam, tetapi di siang hari ia mencuri.” Maka Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ صَلَاتَهُ سَتَنْهَاهُ   رواه أحمد

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

“Sesungguhnya shalatnya itu kelak akan mencegahnya (dari perbuatan itu).” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa shalat yang benar pasti memiliki daya cegah. Jika shalat dikerjakan dengan benar, maka maksiat akan ditinggalkan. Sebaliknya, apabila seseorang rajin melaksanakan shalat tetapi masih terus terjerumus dalam kemaksiatan, maka yang perlu diperbaiki adalah kualitas shalatnya.

Lebih dari itu, shalat berjamaah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan kehidupan sosial seorang Muslim. Dalam shalat berjamaah, kaum Muslimin berdiri sejajar dalam satu saf, menghadap kiblat yang sama, tunduk kepada Rabb yang sama. Di sanalah tertanam nilai persamaan, kebersamaan, dan persaudaraan umat Islam.

Dengan demikian, shalat yang ditegakkan secara benar, terlebih lagi shalat yang dihidupkan dalam jamaah, bukan hanya ibadah individual, tetapi juga pondasi keteguhan moral dan kekuatan umat. Dari shalat yang lurus akan lahir pribadi yang lurus, dan kehidupan berjamaah yang terjaga sehingga lahir masyarakat yang dirahmati Allah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Ketiga: Selalu Berdzikir dan Mengingat Allah

Menurut Ibnu Katsir, dzikir adalah ruh dari seluruh ibadah. Shalat tanpa dzikir adalah tubuh tanpa nyawa.

Allah  berfirman dalam ayat lain:

أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ (الرعد: ٢٨)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa ketenteraman hati yang dimaksud dalam ayat ini bukan sekadar ketenangan emosional, melainkan keteguhan iman dan hilangnya kegelisahan batin, karena hati telah bersandar sepenuhnya kepada Allah dan tidak lagi bergantung pada makhluk.

Imam Ibn al-Qayyim menegaskan bahwa dzikir memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hati. Menurut beliau, dzikir dapat menghidupkan hati yang mati, menenangkan jiwa yang gelisah, menguatkan iman, serta menjadi benteng dari godaan setan dan dorongan hawa nafsu.

Hati yang selalu ingat Allah, tidak akan mudah gelisah, tidak mudah putus asa dan tidak mudah berbuat zalim. Karena ia sadar bahwa Allah bersamanya.

Keempat: Merasa Diawasi Allah dalam Setiap Perbuatan

Ayat ke 45 surat Al-Ankabut di atas ditutup dengan firman Allah:  وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ “Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

Inilah yang disebut maqām muraqabah, yaitu kesadaran seorang hamba bahwa dirinya senantiasa diawasi oleh Allah ﷻ. Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui akan melahirkan kehati-hatian dalam setiap ucapan dan perbuatan, dan dari sinilah lahir ketenangan sejati. Orang yang takut kepada Allah tidak hidup dalam kegelisahan, karena ia senantiasa menjaga dirinya dalam ketakwaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ (رواه الترمذي)

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan, bahwa hadist ini menunjukkan kewajiban takwa dalam semua keadaan, baik saat sendiri atau di keramaian manusia, saat lapang atau sempit, saat kuat atau lemah, saat diketahui orang atau tersembunyi, hendaklah kita bertakwa kepada Allah, karena Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Semoga dengan mengamalkan empat hal tersebut, yaitu membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, menegakkan shalat dengan benar, memperbanyak dzikir, serta senantiasa merasa diawasi oleh Allah ﷻ, hati kita dianugerahi ketenteraman dan ketenangan. Dengan ketenangan itu, semoga kita mampu meningkatkan kualitas ibadah dan mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، إِنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ. فَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ احْيِى الْمُسْلِمِيْنَ وَاِمَامَهُمْ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَيْ حِزْبِ اللّٰهِ حَيَاةً كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَمُنْكَرٍ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ . اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ- وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Tausiyah
Hikmah