Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 17 September 2026 - 16:39 WIB

Kamis, 17 September 2026 - 16:39 WIB

227 Views ㅤ

ilustrasi melestarikan alam (foto: Fpik)

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah Jumat pada kesempatan kali ini berjudul: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan.

Saat ini, sebagian masyarakat Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatra sedang menghadapi bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketika hutan terbakar, asapnya tidak mengenal batas teritorial. Ia masuk ke rumah, sekolah, pasar dan tempat ibadah, bahkan jauh sampai ke negeri tetangga.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Merajut Ishlah Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Sementara di Timur Tengah, terutama di Palestina, perang belum berhenti. Kemajuan dan kecanggihan teknologi militer justru digunakan untuk membunuh sesama manusia.

Khutbah selengkapnya silakan simak berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

 Khutbah ke-1:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menolong Agama Allah

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، اللّٰهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَة، مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ، وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللّٰهِ العَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الإِخْوَة أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ : أَعُوذُ بِاللَّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَقَالَ الَنَّبِيُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللّٰهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya hubungan dengan Allah Ta’ala saja, tetapi juga interaksi dengan sesama manusia, dan alam sekitar kita.

Melestarikan alam bukan sekadar persoalan lingkungan. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari perintah agama. Sebaliknya, merusak alam bukan sekadar persoalan ekologis. Hal itu juga menjadi bentuk kezaliman dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta-Nya, yakni Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala telah mengamanahkan bumi kepada manusia untuk dimakmurkan. Melestarikan alam bukan hanya untuk kehidupan hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Rizki Terbaik Berkah di Dunia, Bekal di Akhirat

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita merenungkan firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah Huud [11] ayat ke-61:

وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًاۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِۗ اِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ ۝٦١ (هود [١١]: ٦١)

“Kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Baca Juga: Khutbah Jumat: Menjaga Komitmen Baiat dan Perjanjian

Ayat di atas berbicara tentang kaum Tsamud (kaumnya Nabi Sholeh Alaihi Salam) yang memiliki kemampuan mengelola sumber daya alam, mengembangkan ilmu pertanian dan arsitektur bangunan, serta ilmu-ilmu lainnya sehingga mereka mampu memakmurkan bumi. Sebagain lain disebutkan dalam surah Al-Fajr ayat ke-9).

Imam Ath-Thabari Rahimahullah menjelaskan kalimat وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا (dan menjadikanmu pemakmurnya) yakni, manusia dirurunkan ke bumi, hidup dari hasil bumi, kemudian diberi amanah untuk memakmurkan bumi. Artinya, manusia bukan pemilik bumi, tetapi hanya diperintahkan untuk memakmurkannya.

Oleh karena itu, bumi boleh dimanfaatkan, tetapi tidak boleh dirusak. Kita boleh mengambil kayu, tetapi jangan membakar dan menggunduli hutan. Kita boleh mengambil hasil tambang, tetapi jangan eksploitasi berlebihan sehingga merusak alam. Kita boleh mengembangkan teknologi, tetapi jangan menjadikannya sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan manusia.

Meskipun ayat di atas berbicara tentang kaum Tsamud, namun secara kontekstual, ayat tersebut ditujukan kepada manusia di manapun berada untuk mengelola dan memakmurkan bumi ini.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan seharusnya menjadi sarana untuk menghadirkan kemaslahatan dan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, bukan menjadi jalan menuju kerusakan dan kehancuran.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memberikan teladan yang sangat indah tentang bagaimana melestarikan alam. Dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا (رواه البخارى)

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

“Jika Kiamat akan tiba, sementara di tangan kalian terdapat sebuah bibit tanaman, lalu ia masih sempat menanamnya sebelum Kiamat terjadi, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR Al-Bukhari)

Hadits di atas mengajarkan kepada kita semua untuk melestarikan alam, salah satunya dengan menanam bibit tanaman, meskipun ia tidak akan menikmati hasilnya. Sebab seorang Muslim beramal dan bekerja bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk semua umat manusia, termasuk generasi setelahnya.

Menanam bibit pohon mungkin tidak langsung menghasilkan buah. Tetapi ia akan memberikan naungan, udara segar, makanan bagi makhluk lainnya, menjaga air dalam tanah dan menjadi manfaat bagi manusia sesudahnya. Inilah prinsip kebermanfaatan yang perlu terus dilakukan seorang Muslim.

Melestarikan alam juga merupakan amal jariyah (sama seperti shadaqah jariyah) yang pahalanya akan terus mengalir, meski ia telah wafat, karena manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang, hingga generasi sesudahnya.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

Dengan kata lain, jika manusia merusak alam, mencemari lingkungan sehingga menimbulkan penderitaan bagi orang lain dan generasi sesudahnya, maka dosanya pun akan ia tanggung, meski ia telah tiada.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Saat ini, sebagian masyarakat Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatra sedang menghadapi bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ketika hutan terbakar, asapnya tidak mengenal batas teritorial. Ia masuk ke rumah, sekolah, pasar dan tempat ibadah, bahkan jauh sampai ke negeri tetangga.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Sementara di Timur Tengah, terutama di Palestina, perang belum berhenti. Kemajuan dan kecanggihan teknologi militer justru digunakan untuk membunuh sesama manusia.

Tidak hanya manusia, rumah-rumah hancur, sekolah rata, rumah sakit, masjid dan fasilitas umum lainnya menjadi sasaran kekejaman manusia-manusia durjana, yang tak mengertii peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Kerusakan lingkungan akibat perang menjadi penderitaan jangka panjang yang dirasakan masyarakat saat ini dan generasi setelah mereka.

Untuk memperbaiki kerusakan alam sebagaimana tergambar di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Pertama, manusia harus mengubah cara pandang. Alam ini adalah milik Allah Ta’ala dan diamanahkan kepada manusia untuk dikelola dan dimakmurkan.

Jika manusia mampu menjaga amanah alam ini, maka ia akan mendapat keberkahan darinya. Namun jika alam ini rusak, maka akibatnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Kedua, setiap kita memiliki tanggung jawab masing-masing dalam melestarikan alam ini. Sebagai anggota masyarakat, jangan melakukan hal-hal yang mencemari lingkungan. Sebagai pemimpin, membuat dan menegakkan aturan yang memastikan alam tetap lestari, tidak dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pengusaha juga memiliki tanggung jawab, tidak melakukan eksploitasi sumber daya alam, tidak membakar hutan, tidak membuang limbah sembarangan serta memastikan usahanya tidak menimbulkan pencemaran, kerusakan dan penderitaan masyarakat.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Keuntungan ekonomi tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan keselamatan manusia dan menimbulkan bencana bagi masyarakat.

Ketiga, pendidikan lingkungan harus dimulai dari keluarga. Anak-anak perlu ditanamkan semangat untuk membuang sampah pada tempatnya, memungut sampah adalah amal shaleh, menanam pohon adalah ibadah, menghemat air adalah kebaikan, dan menjaga kebersihan adalah bagian dari cabang keimanan.

Jangan sampai anak-anak kita hanya mewarisi gedung-gedung tinggi, tetapi kehilangan udara yang segar, sungai dan sumber air yang bersih serta lingkungan yang sehat.

Keempat, dalam menghadapi perang dan konflik, umat Islam harus terus menjaga persatuan dan kesatuan, menyuarakan kebenaran dan keadilan, serta berupaya mencegah agar perang tidak terjadi.

Umat Islam juga perlu menghidupkan rasa empati, sehingga bisa melakukan aksi nyata dalam membantu saudara-saudaranya yang sedang tertimpa kesusahan.

Kelima, kita mulai dari hal yang kecil, mulai dari sekarang, mulai dari diri kita sendiri dan dilakukan dengan istiqamah dan berjamaah.

Sebuah langkah kebaikan yang dilakukan secara konsisten dan menjadi gerakan bersama akan tumbuh menjadi kekuatan besar. Sesuatu yang semula tampak kecil, jika dilakukan konsisten dan berjamaah, insya-Allah akan memberikan manfaat yang luas dan hasil yang nyata bagi kehidupan.

Semoga kita mampu melestarikan alam, menebar kebaikan, sehingga mampu menjaga kehidupan hari ini dan generasi sesudah kita. Aamiin ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآ مُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَا بِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ اللهُ تَعاَلَى أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم  ،إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ انْصُرْ اِخْوَانَنَآ المُجَا هِدِيْنَ فِى فِلِسْطِيْنِ وَفِى كُلِّ مَكَانٍ .اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً ، يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat