PERNIKAHAN dalam Islam bukan sekadar akad seremonial atau ikatan sosial biasa. Ia adalah perjanjian yang kokoh (mitsaqan ghalidza) antara sepasang manusia di hadapan Allah. Tujuannya mulia, yaitu menciptakan keluarga yang sakinah (tenang, nyaman, menggembirakan), mawaddah (diliputi cinta yang mendalam), dan rahmah (dipenuhi kasih sayang) dalam ridha Allah.
Dari rahim keluarga yang teduh seperti inilah diharapkan lahir generasi penerus yang shalih dan shalihah, investasi dunia sekaligus akhirat yang tak ternilai.
Namun, keluarga bukanlah institusi tanpa aturan. Ia memiliki tata kelola yang jelas. Suami dan istri harus memahami hak dan kewajiban mereka, bukan untuk saling menuntut, tetapi untuk saling melengkapi. Bukan untuk saling mengungguli, tetapi untuk saling menguatkan.
Sepasang suami-istri yang bijak mendasari interaksi mereka dengan semangat keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan yang terpenting: mendahulukan kewajiban daripada menuntut hak. Tidak boleh ada ruang bagi kezaliman, ketidakadilan, kebencian, atau hal-hal buruk lain yang dapat merusak fondasi rumah tangga.
Baca Juga: 4 Amalan Muslimah yang Membuka Pintu Surga
Allah SWT mengingatkan para suami, yang Allah tetapkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, dengan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An-Nisa [4]: 19).
Ayat ini mengajarkan bahwa pergaulan suami-istri harus dilandasi kebaikan (ma’ruf). Bahkan ketika rasa suka itu mulai pudar, masih ada kebaikan besar yang mungkin tersembunyi di balik rasa tidak suka tersebut.
Baca Juga: Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga
Lalu, apa saja nasihat praktis yang dapat menjadi pedoman bagi para suami dalam memperlakukan istrinya dengan baik, dalam mengarungi bahtera rumah tangga?
Nasihat Pertama: Perlakukan Istri dengan Baik, Karena Ia Amanah dari Allah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan para suami dalam sabdanya, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan istri, karena sesungguhnya kamu mengambil mereka dengan amanat Allah, dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajibanmu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”
Istri adalah titipan suci dari Allah. Ia bukan budak, bukan pembantu, bukan pelampiasan nafsu. Ia adalah mitra hidup yang harus dihormati, dijaga, dan dimuliakan. Setiap suami hendaknya menyadari bahwa istri yang dinikahinya adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
Nasihat Kedua: Berikan Perlindungan dan Kenyamanan, Bukan Sekadar Harta
Hal pokok yang dibutuhkan seorang istri bukanlah semata-mata harta benda. Makanan, pakaian, dan uang memang penting, tetapi jauh lebih esensial dari itu semua adalah rasa aman dan nyaman.
Seorang istri akan merasa nyaman jika suaminya hadir di rumah, bukan justru gelisah dan takut ketika suami ada di sisi. Bahkan ketika fisiknya sedang sakit, ia tetap merasa tenang karena tahu ada suami yang sigap, siap menjaga, dan siap mengantarnya ke mana pun.
Seringkali, kebahagiaan istri tidak terletak pada kemewahan rumah. Walau tinggal di rumah sewaan yang sederhana, dengan peralatan seadanya, hatinya bisa tetap bahagia jika suami yang mendampingi adalah sosok yang murah senyum, penuh canda tawa, suka menghibur, turun tangan membantu pekerjaan rumah, dan menjadi teladan kebaikan.
Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?
Suami yang baik juga akan selalu berusaha melihat sisi positif istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai suatu akhlak pada istrinya, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai.” (HR Muslim).
Seandainya ada kekurangan, ingatlah bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokuslah pada kebaikan yang lebih banyak, niscaya rumah tangga akan dipenuhi keberkahan.
Nasihat Ketiga: Ajak Istri untuk Rajin Beribadah
Suami adalah pemimpin, dan salah satu tanggung jawab terbesarnya adalah memimpin keluarga dalam ketaatan kepada Allah. Allah berfirman:
Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat, dan bersabarlah dalam menunaikannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaha [20]: 132).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan memberikan teladan tentang bagaimana membangunkan istri untuk shalat malam, “Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di malam hari, lalu mengerjakan shalat, dan ia membangunkan istrinya, lalu istrinya ikut shalat. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud).
Ini bukan tentang memaksa, tetapi tentang kasih sayang yang ingin mengajak pasangan meraih pahala bersama. Suami yang shalih adalah mereka yang tidak hanya sibuk dengan ibadah pribadi, tetapi juga peduli dengan kualitas ibadah keluarganya.
Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!
Nasihat Keempat: Luruskan Perilaku Istri yang Kurang Baik dengan Cara yang Santun
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan wasiat yang sangat indah tentang bagaimana memperlakukan istri, “Berwasiatlah kepada istri dengan kebaikan. Sesungguhnya ia diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau mencoba meluruskannya dengan paksa, niscaya akan patah. Jika engkau biarkan, ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kepada istri dengan kebaikan.” (HR Muslim).
Makna dari sabda ini sangat dalam: bahwa wanita memiliki karakter tertentu yang mungkin berbeda dari pria. Bukan berarti karakter itu salah, tetapi perlu dipahami dan disikapi dengan bijak, bukan dengan kekerasan atau paksaan.
Seorang suami yang baik tidak akan serta-merta marah ketika istrinya melakukan kesalahan. Ia akan menasihati dengan lembut, membimbing dengan hikmah, dan mengoreksi dengan penuh kasih sayang. Ia paham bahwa membangun kebiasaan baik memerlukan proses, dan proses itu berjalan lebih baik dalam suasana cinta, bukan dalam tekanan.
Baca Juga: Sebotol Parfum untuk Al-Aqsa
Nasihat Kelima: Jaga Jarak dengan Wanita Lain yang Bukan Mahram
Kepercayaan seorang istri kepada suaminya adalah anugerah yang harus dijaga dengan baik. Istri yang percaya sepenuhnya pada suaminya, baik saat bekerja maupun saat beraktivitas, adalah aset yang tak ternilai.
Cara terbaik menjaga kepercayaan itu adalah dengan selalu berkata jujur dalam segala hal, berperilaku saleh di mana pun berada dan tidak berdekatan atau bercanda dengan wanita yang bukan mahram, apalagi istri orang lain
Selingkuh, bermaksiat, dan bermain api di belakang istri adalah jalan menuju keretakan. Dan keretakan yang dibiarkan akan menjadi pecah, kehancuran rumah tangga yang sulit, bahkan mustahil, untuk diperbaiki. Na’udzubillahi min dzalik.
Baca Juga: Siapa Bilang IRT Enggak Bisa Punya Penghasilan Sendiri? Ini Rahasia Financial Freedom dari Rumah!
Ingatlah wahai para suami, canda dan tawamu adalah untuk istri dan anak-anakmu. Waktu luangmu, bercengkerama, dan kasih sayangmu adalah untuk mereka. Istrimu adalah belahan jiwamu, separuh hatimu, bagian terpenting dari kehidupammu.
Rasulullah Teladan Terbaik bagi Para Suami
Bagaimanakah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap istri-istrinya? Beliau adalah teladan terbaik dalam memperlakukan pasangan hidup. Tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah kasar, dan tidak pernah menyakiti hati mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR At-Tirmidzi).
Baca Juga: Artis Berhijab, Hijrah yang Menggugah
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hendaklah pasangan saling memperbaiki ucapan, perbuatan, dan penampilan sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menginginkan dari pasanganmu, maka lakukanlah untuknya.
Imam Al-Qurthubi menyatakan, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik: penuhi hak-haknya, jangan bermuka masam tanpa sebab, lembut dalam ucapan, dan jangan kasar.”
Tafsir Al-Manar menambahkan, “Wajib atas suami yang beriman berbuat baik kepada istrinya, memberi mahar, tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap pertemuan. Semua itu adalah bagian dari pergaulan yang baik dalam keluarga.”
Bentuk Perlakuan Baik yang Konkret
Baca Juga: Hal-Hal Menakjubkan Seputar Menyusui yang Wajib Ayah dan Bunda Ketahui
Di antara bentuk perlakuan baik suami kepada istri yang dapat dipraktikkan sehari-hari antara lain:
- Melapangkan nafkah, memberi dengan ikhlas, bukan dengan perhitungan sempit dan penuh hitungan
- Meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, istri adalah mitra, bukan bawahan yang harus selalu menuruti
- Menutup aib istri, tidak menceritakan kekurangannya kepada orang lain, baik keluarga maupun teman
- Menjaga penampilan diri di depan istri, sebagaimana ia ingin tampil baik di depan suaminya
- Membantu tugas-tugas istri di rumah, sebagai bentuk kasih sayang, bukan karena terpaksa atau gengsi
Dengan praktik-praktik sederhana ini, hubungan keluarga akan menjadi harmonis. Kebahagiaan dan ketenangan akan menyertai setiap langkah.
Penutup
Perselisihan suami-istri adalah hal yang manusiawi. Namun perlu diketahui bahwa di balik setiap pertengkaran kecil yang tidak segera diselesaikan, ada iblis yang gembira.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu ia mengirim pasukannya. Setiap pasukan kembali melapor. Ada yang berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang pasukan lain melapor, ‘Aku mendatangi seorang lelaki dan aku tidak akan membiarkannya hingga aku menceraikan dia dan istrinya.’ Maka iblis mendekat seraya berkata, ‘Sangat bagus kerjamu.'” (HR Muslim).
Perceraian adalah prestasi tertinggi setan. Karena itu, Islam sangat mencegah segala hal yang dapat memicu perselisihan.
Jika terjadi cekcok, selesaikanlah bersama. Usahakan tidak melibatkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang dapat menjadi penengah yang adil, sebaiknya dari pihak orang tua atau ulama yang dapat memberi nasihat terbaik.
Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Apa hak istri terhadap suaminya?” Beliau menjawab:
“Memberi makan apa yang kamu makan, memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar wajahnya, tidak membencinya, serta tidak boleh menjauhinya.”
Demikianlah nasihat praktis bagi para suami. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang menjadi tempat kembali yang sejuk, yang dipenuhi cinta karena Allah, dan yang kelak dikumpulkan kembali bersama di surga-Nya yang abadi.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic