Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mayoritas Warga AS Salahkan Trump atas Memburuknya Ekonomi Akibat Perang

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 12 Mei 2026 - 08:44 WIB

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:44 WIB

51 Views ㅤ

Demonstari "No King" di Amerika Serikat (Foto: IG)

Washington, MINA – Mayoritas warga Amerika Serikat dilaporkan menyalahkan Presiden Donald Trump atas perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah serta memburuknya kondisi ekonomi domestik.

Meningkatnya harga bahan bakar dan kebutuhan pokok memicu kekhawatiran publik terhadap dampak konflik yang dinilai semakin membebani kehidupan masyarakat Amerika. Al-Jazeera melaporkan, Selasa (12/5).

Presiden Trump terus menegaskan dirinya tidak berada di bawah tekanan dan tidak terburu-buru untuk mengakhiri perang. Trump juga mengklaim ekonomi AS akan kembali normal setelah konflik berakhir dan harga minyak dunia akan turun.

Namun hingga kini belum ada kepastian kapan perang tersebut akan selesai, sementara tekanan ekonomi terus dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Lonjakan harga energi menjadi salah satu dampak paling nyata dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Harga bahan bakar di sejumlah wilayah AS mengalami kenaikan signifikan, yang kemudian berdampak pada meningkatnya biaya distribusi barang. Kenaikan harga solar dan transportasi turut memicu naiknya harga kebutuhan sehari-hari di berbagai sektor ritel dan logistik.

Perang di Timur Tengah telah memperburuk tekanan inflasi yang sebelumnya belum sepenuhnya pulih pascapandemi dan perlambatan ekonomi global.

Ketidakstabilan pasokan energi dunia akibat konflik Iran-Israel juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan resesi baru apabila perang berlangsung lebih lama. Sejumlah analis memperingatkan kebijakan luar negeri Trump kini mulai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat Amerika.

Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi

Di sisi lain, Gedung Putih tetap mempertahankan kebijakan tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran dengan alasan menjaga kepentingan strategis Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.

Namun, kritik terus bermunculan baik dari kalangan oposisi maupun masyarakat sipil yang mendesak pemerintah lebih fokus pada pemulihan ekonomi domestik dibanding memperluas konflik luar negeri yang dinilai semakin membebani rakyat Amerika. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran

Rekomendasi untuk Anda

Amerika
Amerika
Internasional
Amerika
MINA Sport
Internasional
Info MINA
Indonesia