Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Membawa Oleh-Oleh Haji

Redaksi Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 12 Juni 2026 - 10:02 WIB

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:02 WIB

57 Views ㅤ

oleh-oleh haji dan umrah (foto: IG)

oleh Dr. Deni Rahman, S.Sos.I, M.I Kom, Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, STAI Al-Fatah, Bogor.

 

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197)

Setiap selesai musim haji, jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia kembali ke kampung halaman masing-masing dengan membawa berbagai oleh-oleh dari Tanah Suci. Ada yang membawa air Zamzam, kurma, tasbih, sajadah, parfum Arab, atau cendera mata khas Makkah dan Madinah.

Di Indonesia, tradisi membawa oleh-oleh haji telah menjadi bagian dari budaya yang mengakar. Keluarga, tetangga, sahabat, bahkan rekan kerja biasanya menanti kepulangan jamaah dengan harapan mendapatkan buah tangan dari Baitullah.

Tradisi ini tentu bukan sesuatu yang keliru. Membawa hadiah dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain merupakan bagian dari akhlak yang dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”(HR. Al-Bukhari)

Namun di balik tradisi tersebut, terdapat sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting. Apakah oleh-oleh terbesar dari haji hanya berupa barang yang dibawa di dalam koper? Jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan ibadah haji jauh lebih berharga daripada apa pun yang dapat dibeli di pasar atau pusat perbelanjaan.

Air Zamzam akan habis diminum, kurma akan habis dimakan, parfum akan habis digunakan, tetapi nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama berhaji dapat terus hidup dan memberikan manfaat sepanjang hayat. Maka oleh-oleh terpenting dari haji bukanlah benda, melainkan perubahan diri.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Selama berada di Tanah Suci, seorang jamaah menjalani proses pendidikan spiritual yang sangat intens. Ia meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan berbagai kenyamanan dunia untuk memenuhi panggilan Allah. Ia mengenakan pakaian ihram yang sederhana, berdiri bersama jutaan manusia di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan berdesakan di Mina. Semua pengalaman tersebut sesungguhnya adalah pelajaran kehidupan yang sangat berharga.

Oleh-oleh yang seharusnya dibawa pulang adalah pertama, ketakwaan. Allah SWT menegaskan:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197)

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Ayat ini berada dalam rangkaian ayat-ayat tentang haji. Allah tidak mengatakan bahwa bekal terbaik adalah harta, kendaraan, atau fasilitas perjalanan. Allah justru menyebut takwa sebagai bekal yang paling utama. Artinya, tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah melahirkan manusia yang lebih bertakwa. Jika seseorang pulang dari Makkah dengan ketakwaan yang lebih kuat, maka itulah oleh-oleh paling berharga yang berhasil ia bawa pulang.

Kedua, Oleh-oleh kesabaran. Haji adalah ibadah yang mengajarkan kesabaran dalam berbagai bentuk. Jamaah harus menghadapi antrean panjang, kepadatan manusia, cuaca yang panas, perubahan jadwal, serta berbagai keterbatasan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.

Di tengah jutaan manusia yang berkumpul dalam ruang dan waktu yang sama, seseorang belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Ia belajar menahan amarah, mengendalikan ego, dan menghormati orang lain.

Kesabaran inilah yang seharusnya dibawa pulang ke rumah. Sebab kehidupan keluarga, pekerjaan, dan masyarakat juga membutuhkan kesabaran yang sama. Jika setelah berhaji seseorang menjadi lebih sabar menghadapi pasangan, anak-anak, tetangga, dan rekan kerja, maka sesungguhnya ia telah membawa salah satu oleh-oleh terbaik dari Tanah Suci.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Ketiga, Oleh-oleh kerendahan hati. Di Arafah, semua manusia berdiri dalam pakaian yang hampir sama. Tidak ada pembeda antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan orang miskin. Semua hadir sebagai hamba Allah yang membutuhkan ampunan-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Pengalaman ini seharusnya melahirkan kesadaran bahwa kemuliaan bukan terletak pada jabatan, kekayaan, atau popularitas, tetapi pada ketakwaan. Karena itu, oleh-oleh haji yang sesungguhnya adalah hati yang semakin rendah, bukan ego yang semakin tinggi.

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Keempat, Oleh-oleh persaudaraan dan kepedulian sosial. Selama berhaji, seorang jamaah menyaksikan betapa indahnya persaudaraan Islam. Ia bertemu dengan Muslim dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya. Meskipun berbeda latar belakang, mereka disatukan oleh satu tujuan yakni beribadah kepada Allah.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar. Karena itu, setelah pulang dari haji, seseorang seharusnya memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap sesama. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang haji yang terbaik. Beliau menjawab:

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ

“Memberi makan dan bertutur kata yang baik.”(HR. Ahmad dan Thabrani)

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Hadis ini menunjukkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari kualitas hubungan sosial. Orang yang hajinya mabrur akan lebih ringan membantu sesama, lebih santun dalam berbicara, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Kelima, Oleh-oleh komitmen untuk menjadi lebih baik. Banyak jamaah yang menangis ketika berada di Multazam, di Raudhah, atau saat wukuf di Arafah. Mereka berjanji kepada Allah untuk memperbaiki diri, meninggalkan dosa, dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Janji tersebut seharusnya tidak tertinggal di Tanah Suci. Ia harus dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya haji bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal dari kehidupan yang baru.

Masyarakat mungkin akan menikmati air Zamzam yang kita bagikan. Mereka mungkin akan menerima kurma, tasbih, atau sajadah yang kita bawa pulang. Namun oleh-oleh yang paling mereka rasakan bukanlah semua itu.

Keluarga akan merasakan oleh-oleh haji melalui kesabaran kita yang bertambah. Tetangga akan merasakannya melalui kepedulian kita yang meningkat. Masyarakat akan melihatnya melalui akhlak dan keteladanan yang kita tunjukkan. Itulah sebabnya oleh-oleh terbesar dari haji tidak dapat dibeli di toko mana pun di Makkah atau Madinah.

Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa

Oleh-oleh terbesar dari haji adalah hati yang lebih dekat kepada Allah, akhlak yang lebih baik, kepedulian yang lebih luas, dan ketakwaan yang semakin kuat. Jika semua itu berhasil kita bawa pulang, maka sesungguhnya kita telah membawa oleh-oleh yang nilainya jauh lebih mahal daripada apa pun yang dapat dimuat di dalam koper.

Itulah oleh-oleh yang tidak akan pernah habis, bahkan hingga akhir hayat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Internasional
Khutbah Jumat
Kolom