Oleh Muhammad Arroyan, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Fatah Pekalongan
PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa manusia memasuki ruang kehidupan yang serba cepat, terbuka, dan tanpa batas. Informasi hadir dalam jumlah yang melimpah, membentuk cara pandang, memengaruhi keputusan, serta mengarahkan pola hidup. Di tengah arus yang demikian kuat, manusia tidak lagi cukup hanya memiliki kecerdasan berpikir, tetapi juga memerlukan kejernihan batin agar tidak kehilangan arah.
Dalam perspektif pendidikan Islam, kebutuhan ini dijawab melalui penguatan dua potensi utama manusia, yaitu akal dan hati, yang keduanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami realitas, menimbang informasi, serta menyusun keputusan yang tepat. Di era digital, fungsi ini menjadi semakin penting karena manusia dihadapkan pada berbagai bentuk informasi yang tidak semuanya benar.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri
Kemampuan berpikir kritis menjadi kunci agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan, provokasi, maupun kepentingan tersembunyi yang dibungkus secara menarik. Dengan akal yang terlatih, manusia mampu membedakan antara fakta dan opini, antara kebenaran dan kepalsuan.
Allah ﷻ mengarahkan manusia untuk menggunakan akalnya dalam merenungi ciptaan-Nya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)
Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri
Ayat ini menegaskan bahwa aktivitas berpikir bukan sekadar upaya intelektual, melainkan jalan untuk mengenal kebesaran Allah. Semakin dalam seseorang menggunakan akalnya, semakin terbuka kesadarannya akan keteraturan dan hikmah di balik kehidupan.
Meskipun demikian, kemampuan berpikir tidak selalu menjamin ketepatan sikap. Dalam banyak keadaan, akal dapat dipengaruhi oleh keinginan sehingga digunakan untuk membenarkan sesuatu yang keliru. Di sinilah hati berperan sebagai pusat kesadaran yang menjaga arah agar tetap berada dalam kebenaran. Hati menentukan kualitas niat, mengarahkan kecenderungan, serta menjadi sumber ketenangan dalam menghadapi berbagai situasi.
Allah ﷻ kembali mengingatkan bahwa ketenangan sejati bersumber dari hati yang terhubung dengan-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika hati terjaga, manusia tidak mudah terguncang oleh perubahan zaman. Ia mampu menempatkan teknologi secara proporsional, tidak terjebak dalam arus yang melalaikan, serta tetap istiqamah dalam nilai-nilai keimanan.
Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang sangat relevan dalam kehidupan modern:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam dunia digital, di mana setiap ucapan dapat tersebar luas dan berdampak besar, hadits ini menjadi prinsip etika yang mendasar. Hati yang hidup akan menuntun seseorang untuk menjaga lisan dan tulisan agar tetap berada dalam koridor kebaikan.
Keterkaitan antara akal dan hati membentuk kesatuan yang tidak terpisahkan dalam diri manusia. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa akal berfungsi memahami kebenaran, sementara hati menentukan arah penerimaan dan pengamalannya. Tanpa keterhubungan ini, pengetahuan tidak akan bertransformasi menjadi amal yang bernilai.
Selain itu, dalam perspektif psikologi Islam, keseimbangan antara keduanya menjadi fondasi kesehatan jiwa. Menurut Malik Badri, menegaskan bahwa krisis manusia modern muncul ketika kecerdasan berkembang, tetapi spiritualitas terabaikan. Akibatnya, manusia memiliki banyak informasi, namun kehilangan ketenangan dan makna hidup.
Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia
Fenomena ini tampak dalam kehidupan digital yang dipenuhi dengan pencitraan, perbandingan sosial, dan dorongan untuk mendapatkan pengakuan. Akal digunakan untuk mengejar hal-hal eksternal, sementara hati tidak diarahkan kepada Allah. Kondisi ini melahirkan kegelisahan yang terus berulang tanpa menemukan penyelesaian.
Padahal, fungsi utama akal dan hati dalam Islam adalah mengantarkan manusia kepada penghambaan yang utuh. Akal mengenali tanda-tanda kebesaran Allah, sedangkan hati merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Ketika keduanya berjalan seiring, seluruh aktivitas, termasuk yang berlangsung di ruang digital, berubah menjadi bagian dari ibadah.
Dalam kerangka pendidikan Islam, integrasi ini menjadi tujuan utama. Abdurrahman An-Nahlawi, menegaskan bahwa pendidikan harus menggabungkan kekuatan berpikir dan kekuatan iman secara seimbang agar manusia tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Tanpa keseimbangan tersebut, pendidikan hanya melahirkan kecerdasan yang rapuh.
Hal ini didukung oleh pendapat Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, yang menjelaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian yang harmonis antara aspek intelektual, fisik, dan spiritual. Dalam konteks digital, keseimbangan ini menjadi fondasi agar manusia mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan tetap berada dalam koridor nilai-nilai ilahiyah.
Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang
Pendidikan yang berorientasi pada akal dan hati akan melahirkan manusia yang mampu berpikir jernih sekaligus memiliki kepekaan batin. Setiap ilmu yang dipelajari tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mengantarkan pada kesadaran akan tanggung jawab sebagai hamba Allah. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memperkuat iman.
Di tengah derasnya arus digital, manusia membutuhkan kompas yang mampu menjaga arah hidupnya. Akal berfungsi sebagai penunjuk jalan, sementara hati menjadi penentu tujuan. Ketika keduanya bekerja secara harmonis, manusia mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.
Kesadaran ini melahirkan sikap bijaksana dalam menggunakan teknologi. Setiap informasi disaring dengan pertimbangan yang matang, setiap interaksi dijaga nilainya, dan setiap aktivitas diarahkan untuk memberi manfaat. Dengan cara ini, dunia digital tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sarana untuk memperluas kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Lebih jauh, integrasi akal dan hati akan menumbuhkan kesadaran muraqabah, yaitu perasaan selalu diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan. Kesadaran ini menjadi benteng yang kokoh dalam menjaga perilaku, baik di ruang nyata maupun di ruang digital, sehingga manusia tetap berada dalam jalan yang diridhai-Nya.
Baca Juga: Meski Masih Kondisi Perang, Gaza Kembali Gelar Ujian Sekolah
Oleh sebab itu, keberhasilan manusia tidak ditentukan oleh sejauh mana ia menguasai teknologi, tetapi oleh kemampuannya mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi tersebut. Akal yang jernih akan membimbing pada pemahaman yang benar, sementara hati yang bersih akan menjaga agar setiap langkah tetap berada dalam kebaikan.
Dengan demikian, menjaga akal dan menyucikan hati merupakan dua upaya yang tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup seorang Muslim. Ketika akal digunakan untuk merenungi kebesaran Allah dan hati senantiasa dihidupkan dengan dzikir serta keikhlasan, maka setiap langkah kehidupan akan bernilai ibadah.
Inilah puncak kesadaran seorang hamba: menjadikan seluruh aktivitasnya, di tengah derasnya arus digital, sebagai perjalanan suci menuju Allah SWT dengan penuh ketundukan, kejernihan, dan harapan akan ridha-Nya. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: BAZNAS dan Kemdiktisaintek Siapkan Beasiswa S2 bagi 200 Mahasiswa Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic