Sana’a, MINA – Kelompok Houthi menguasai Pulau Perim atau Mayyun yang berada di tengah Selat Bab el-Mandeb, Yaman, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Perkembangan tersebut mendorong Arab Saudi meminta dukungan Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman Houthi yang semakin mendekati jalur pelayaran strategis tersebut.
Pasukan Houthi dilaporkan mencapai Pulau Perim setelah pasukan pemerintah Yaman yang menguasai wilayah tersebut mundur. Pulau vulkanik itu membagi bagian tersempit Selat Bab el-Mandeb menjadi dua jalur pelayaran dan memiliki posisi strategis bagi lalu lintas kapal antara Laut Merah dan Teluk Aden. Arabnews melaporkan, Sabtu (12/9).
Penguasaan Pulau Perim merupakan bagian dari serangkaian kemajuan militer Houthi di pesisir barat Yaman. Sebelumnya, kelompok tersebut merebut kota pelabuhan Mokha serta sejumlah wilayah dan pulau di sekitar Laut Merah. Perkembangan itu memperkuat posisi Houthi di sepanjang jalur menuju Bab el-Mandeb.
Di tengah situasi tersebut, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan melakukan dua kali komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (10/9). Menurut laporan Axios yang dikutip sejumlah media, Riyadh meminta AS melakukan serangan militer terhadap posisi Houthi.
Baca Juga: Rabi Terkemuka Israel Sebut Lebih Baik Dipimpin Pemerintahan Arab daripada Zionisme
Namun, Trump dilaporkan tidak menyetujui permintaan untuk melakukan serangan langsung terhadap Houthi. Washington disebut lebih memilih memberikan dukungan intelijen dan bantuan penargetan kepada Arab Saudi, sementara pemerintah AS berupaya menghindari pembukaan front militer baru di tengah konflik yang lebih luas di kawasan.
Perkembangan ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan perdagangan internasional. Bab el-Mandeb merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian dari rute perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Gangguan di kawasan tersebut dapat meningkatkan waktu tempuh, biaya asuransi dan ongkos pengiriman kapal.
Tekanan terhadap sektor energi semakin besar setelah Arab Saudi menghentikan sementara pengoperasian pipa East-West menyusul serangan udara terhadap fasilitas tersebut. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu merupakan jalur penting bagi Saudi untuk mengalihkan ekspor minyak dari Teluk menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyerukan dukungan regional dan internasional untuk mempertahankan pesisir negara itu. Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi menyatakan perlindungan pesisir serta pengembalian kendali negara atas wilayah, pelabuhan dan perairan Yaman merupakan kepentingan bersama Yaman, Mesir, negara-negara Arab dan masyarakat internasional. []
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic