Muslim Sri Lanka Dilanda Ketakutan Pasca bom Paskah

Muslim Sri Lanka. (Foto: dok. Daily Mirror)

Mohamed Hasan baru saja meninggalkan rumahnya di Kolombo untuk pergi shalat di masjid. Baru kali ini ia meninggalkan rumah sejak serangkaian ledakan mematikan melanda Sri Lanka pada Ahad Paskah, 21 April 2019. Ia takut mendapat serangan karena dia seorang Muslim.

Dia bekerja di percetakan, tetapi keluarga pria berusia 41 tahun itu memohon padanya untuk tetap tinggal di rumah.

“Mereka khawatir jika saya pergi, apakah ssaya bisa pulang masih hidup?” dia mengatakan kepada kantor berita AFP di luar Masjid Jumma di Dematagoda, tempat dia memberanikan diri shalat sebentar.

Lebih dari 350 orang tewas dalam pembantaian yang terjadi dalam serangan Paskah terhadap gereja dan hotel, yang telah diklaim oleh kelompok Islamic State (ISIS). Namun, kelompok bersenjata itu tidak memberikan bukti.

Pada hari Selasa, 23 April 2019, Menteri Pertahanan Sri Lanka Ruwan Wijewardene mengatakan, pengeboman itu sebagai pembalasan atas serangan baru-baru ini terhadap masjid-masjid di Selandia Baru.

Komentar Wijewardene kepada para politisi di parlemen itu disampaikan tanpa memberikan bukti atau menjelaskan dari mana informasi tersebut berasal.

Serangan pada Hari Paskah itu adalah yang terburuk sejak perang saudara di negara itu berakhir pada 2009.

Serangan tersebut telah membuat orang-orang Sri Lanka merasa ngeri dan dikutuk oleh kelompok-kelompok Muslim dunia internasional.

Zareena Begum, muslimah berusia 60 tahun mengatakan, dia hampir tidak tidur sejak akhir pekan.

“Saya tahu orang-orang marah kepada Muslim. Bayi yang digendong di tangan ibu mereka terbunuh,” kata wanita bergaun hitam dan berjilbab putih itu sambil menangis di luar masjid. “Saya tidak pernah membayangkan kebencian seperti itu ada di dalam hati orang-orang ini (yang menyerang). Kebencian tidak boleh menabur kebencian lebih banyak lagi.”

Ia menambahkan bahwa keluarganya berkumpul di rumah. “Kami takut keluar.”

Ketegangan yang berlangsung lama

Populasi Sri Lanka yang sekitar 22 juta penduduk adalah terdiri dari banyak etnis dan agama, yang didominasi oleh mayoritas Buddha Sinhala.

Muslim merupakan 10 persen dari populasi negara itu dan merupakan minoritas terbesar kedua setelah Hindu. Sekitar tujuh persen orang Sri Lanka adalah orang Kristen.

Ketegangan etnis dan agama marak terjadi di negara itu. Mereka melalui penderitaan saat pemberontakan bersenjata Tamil terjadi selama beberapa dekade dan baru-baru ini telah menyaksikan pecahnya kekerasan sektarian.

Umat ​​Muslim telah menerima serangan kekerasan sporadis dan kebencian sejak perang saudara berakhir pada 2009.

Para biksu Buddha garis keras memimpin kampanye melawan komunitas Muslim. Pada 2013 dan 2018, bisnis Muslim diserang.

Rumor bahkan menyebar bahwa warga Buddha Sinhala bisa menjadi mandul jika  mengenakan pakaian dalam yang dibeli dari toko-toko Muslim, termasuk makanan yang dijual oleh Muslim akan menyebabkan kemandulan.

Setelah serangan itu, para pemimpin Sri Lanka, termasuk Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, mendesak perdamaian dan solidaritas.

“Mayoritas Muslim mengutuk ini dan mereka sama marahnya dengan orang Tamil dan Sinhala tentang apa yang terjadi,” kata Wickremesinghe pada hari Selasa, menyerukan persatuan.

Namun di masjid Jumma ada suasana kecemasan. Beberapa jamaah mengatakan, mereka berharap polisi akan “menjaga setiap warga negara di masa kritis seperti itu.”

Hilmy Ahamed, Wakil Presiden Dewan Muslim yang berpengaruh di Sri Lanka, mengatakan, komunitas itu bersiap menghadapi serangan balasan.

“Ratusan orang dimakamkan (jadi) akan ada ledakan emosi dan beberapa di antaranya bisa dibenarkan,” kata Ahamed.

“Kami telah meminta pemerintah untuk memastikan keamanan dipertahankan. (Serangan) ini tidak dilakukan oleh komunitas Muslim, tetapi oleh beberapa elemen pinggiran.”

“Bukan musuhmu”

Ahamed dan para pemimpin Muslim lainnya mengatakan, mereka telah memperingatkan pemerintah Sri Lanka bertahun-tahun sebelumnya tentang pemimpin National Thowheed Jamath, sebuah kelompok yang menurut pemerintah adalah tersangka utama dalam serangan itu.

Pemimpin kelompok itu, Zahran Hashim, dikenal oleh para pemimpin Muslim sebagai “garis keras”.

“Orang ini adalah seorang penyendiri dan dia telah meradikalisasi anak-anak muda dengan alasan melakukan kelas-kelas Al-Quran,” kata Ahamed.

RF Ameer, Muslim yang berada di Masjid Jumma mengatakan, masyarakat hanya menginginkan keselamatan.

“Kita hidup dalam ketakutan terus-menerus karena jika seseorang melihat kita mengenakan topi puutih, mereka akan menganggap kita sebagai musuh mereka,” katanya, dahinya berkerut karena khawatir.

“Tapi kami ingin memberi tahu semua orang bahwa kami bukan musuhmu. Ini adalah tanah air kami, ini dikenal sebagai mutiara Asia. Kami ingin tetap seperti itu.” (AT/RI-1/P2)

 

Sumber: Al Jazeera

 

Mi’raj News Agency (MINA)