DI AKHIR zaman ini, peran orang tua tidak semakin ringan, justru semakin berat dan penuh jebakan. Dunia menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan kemewahan yang perlahan mengikis kesadaran banyak orang tua tentang hakikat pendidikan anak. Fitnah dunia tidak lagi datang dalam bentuk kemiskinan semata, tetapi justru melalui kelimpahan yang membutakan. Anak-anak tumbuh di rumah yang lengkap fasilitasnya, tetapi miskin arah hidupnya. Orang tua sibuk memenuhi kebutuhan materi, namun lalai membangun fondasi iman dan akhlak.
Fitnah terbesar akhir zaman bukanlah kekurangan, melainkan keterlenaan. Banyak orang tua merasa telah berhasil mendidik anak hanya karena mampu menyekolahkan mereka di tempat terbaik, membelikan gawai tercanggih, dan memastikan masa depan finansialnya aman. Padahal, pendidikan sejati bukan sekadar soal kecerdasan intelektual, tetapi tentang siapa anak itu kelak ketika jauh dari pengawasan orang tuanya. Apakah ia mengenal Allah, mencintai kebenaran, dan takut berbuat dosa?
Ironisnya, dunia modern sering menjebak orang tua dalam standar kesuksesan yang sempit. Anak dinilai berhasil jika berprestasi akademik, cepat mandiri secara ekonomi, dan diakui oleh masyarakat. Namun, sedikit yang bertanya: bagaimana kualitas imannya? Bagaimana adabnya kepada orang tua? Bagaimana sikapnya terhadap halal dan haram? Pendidikan anak akhirnya tereduksi menjadi perlombaan duniawi yang melelahkan, sementara ruh tarbiyah Islamiyah terpinggirkan.
Fitnah dunia juga hadir melalui kesibukan yang tak berkesudahan. Orang tua bekerja dari pagi hingga malam, pulang dalam keadaan lelah, lalu menyerahkan anak pada layar-layar digital. Gawai menjadi “pengasuh” baru yang diam-diam membentuk cara berpikir, pola bicara, bahkan nilai hidup anak. Tanpa disadari, algoritma media sosial lebih dominan mendidik anak daripada ayah dan ibunya sendiri. Di sinilah tragedi besar pendidikan akhir zaman bermula.
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak orang tua merasa tidak berdaya menghadapi perubahan zaman. Mereka beralasan, “Sekarang memang zamannya seperti ini.” Kalimat ini tampak realistis, namun sejatinya merupakan bentuk menyerah. Padahal, zaman boleh berubah, tetapi kewajiban mendidik anak tetap sama: menanamkan tauhid, membangun akhlak, dan membiasakan ketaatan. Orang tua yang menyerah pada arus zaman sejatinya sedang membiarkan anaknya hanyut tanpa kompas.
Fitnah dunia juga membutakan orang tua dari keteladanan. Di akhir zaman, anak lebih banyak mendengar nasihat daripada melihat contoh. Orang tua menyuruh shalat, tetapi sering menunda. Menyuruh jujur, tetapi terbiasa berdalih. Melarang berlebihan dalam dunia digital, tetapi dirinya tak lepas dari layar. Anak-anak belajar bukan dari apa yang diperintahkan, melainkan dari apa yang dicontohkan. Ketika teladan hilang, nasihat pun kehilangan wibawanya.
Dalam kondisi seperti ini, pendidikan anak sering berubah menjadi proyek ambisi orang tua, bukan amanah dari Allah. Anak dituntut memenuhi mimpi orang tuanya, bukan diarahkan menemukan jalan ketaatan kepada Rabb-nya. Anak dipaksa unggul dalam segala hal, tetapi tidak diajarkan untuk tunduk kepada kebenaran. Akibatnya, lahirlah generasi yang percaya diri secara duniawi, namun rapuh secara spiritual.
Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang menentukan arah hidupnya. Di akhir zaman, fitrah itu diuji oleh fitnah yang sangat halus: normalisasi maksiat, relativisme moral, dan pemisahan agama dari kehidupan. Jika orang tua tidak sadar, anak akan tumbuh dengan nilai yang asing dari Islam, meskipun namanya Islami dan rumahnya bernuansa religius.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Namun, di tengah gelapnya tantangan, harapan tetap ada. Orang tua akhir zaman bukan ditakdirkan untuk kalah, melainkan diuji untuk bangkit. Pendidikan anak di era fitnah dunia menuntut kesadaran baru: bahwa keberhasilan sejati bukanlah seberapa tinggi gelar anak, melainkan seberapa lurus jalannya menuju Allah. Bukan seberapa mapan hidupnya, tetapi seberapa kuat imannya saat sendirian.
Langkah pertama adalah meluruskan kembali niat mendidik. Anak bukan sekadar titipan yang harus sukses dunia, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Orang tua perlu kembali hadir secara utuh dalam kehidupan anak: mendengar keluh kesahnya, menemani proses tumbuhnya, dan mendoakannya dengan sungguh-sungguh. Doa orang tua adalah benteng terkuat di tengah badai fitnah.
Langkah berikutnya adalah membangun rumah sebagai madrasah iman. Rumah bukan hanya tempat istirahat, tetapi pusat pembentukan karakter. Shalat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dialog tentang nilai hidup, dan pembiasaan adab harus dihidupkan kembali. Anak tidak cukup hanya disuruh “menjadi baik”, tetapi perlu dibimbing, disabarkan, dan dipeluk ketika jatuh.
Akhirnya, orang tua perlu menyadari bahwa mendidik anak di akhir zaman adalah perjuangan panjang, bukan proyek instan. Akan ada lelah, kecewa, dan air mata. Namun, setiap kesabaran akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Di tengah dunia yang membutakan, orang tua yang sadar dan berjuang adalah lentera yang akan menerangi jalan anak-anaknya menuju keselamatan.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan anak bukanlah dunia yang berlimpah, tetapi orang tua yang hadir, sadar, dan takut kepada Allah.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
















Mina Indonesia
Mina Arabic