Tel Aviv, MINA – Panglima Militer Pendudukan Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menyerang Iran dalam jangka waktu antara dua pekan hingga dua bulan, demikian dilaporkan Army Radio, Ahad (1/2).
Ini berarti bahwa serangan langsung tidak mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan, menurut stasiun radio tersebut.
Army Radio mengklaim Amerika Serikat tidak berbagi semua yang dimilikinya dengan Israel dan mengesampingkannya dari proses pengambilan keputusan.
Namun, The Times of Israel melaporkan bahwa Zamir telah mengunjungi AS pada akhir pekan untuk melakukan pembicaraan tentang Iran dengan para pejabat pertahanan AS.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Pemerintahan Trump telah mengancam serangan terhadap Iran sejak otoritas Iran secara brutal menekan protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi, dengan ribuan orang tewas.
Puluhan pertemuan dan konsultasi antara Israel dan AS dilaporkan telah diadakan di berbagai tingkatan, untuk mengoordinasikan potensi serangan dan mempersiapkan kemungkinan tanggapan dari Teheran.
Kunjungan-kunjungan tersebut termasuk kunjungan Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper, ke Israel, diikuti oleh kunjungan Kepala Intelijen Militer Israel (Aman), Shlomi Binder, ke Amerika Serikat.
Meskipun Washington dan Teheran sama-sama menyatakan mereka masih terbuka untuk negosiasi, Army Radio mengutip pejabat keamanan senior yang mengatakan beberapa pekan mendatang akan tetap tegang.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Mereka mengaitkan hal ini dengan peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran yang akan datang, yang berlangsung antara 1 dan 11 Februari, dan peringatan 40 hari pembunuhan ribuan demonstran Iran bulan lalu.
Army Radio juga melaporkan tentang perbedaan pendapat di dalam kepemimpinan Iran saat ini. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dikabarkan menentang pemberian konsesi dalam negosiasi dengan Amerika Serikat dan tetap berkomitmen pada posisi garis keras, sementara pejabat lain dalam sistem Iran lebih menyukai pendekatan yang lebih fleksibel dalam negosiasi.
Terlepas dari perbedaan internal ini, Israel dilaporkan juga khawatir bahwa AS mungkin mencapai kesepakatan dengan Iran yang terbatas hanya pada masalah nuklir, sementara mengecualikan rudal balistik.
Pejabat Israel memperingatkan Presiden AS Donald Trump “dapat mengatakan bahwa ia telah mencapai kesepakatan yang lebih baik daripada (mantan presiden Barack) Obama, tetapi itu tetap akan menjadi kesepakatan yang buruk bagi Israel dan seluruh kawasan, karena Iran akan terus memproduksi rudal dalam jumlah besar dan akan terus mengoperasikan proksi mereka.” []
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
















Mina Indonesia
Mina Arabic