Oleh Nurokhim, Alumnus S3 Islamic Studies, UIN Walisongo Semarang
Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad Saw.), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat tersebut menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya membawa ajaran keagamaan, tetapi juga rahmat bagi seluruh alam. Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan, Allah menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi semesta. Siapa yang menerima dan mensyukuri rahmat tersebut akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, sedangkan mereka yang menolak dan mengingkarinya akan mengalami kerugian.
Islam bukan sekadar agama samawi yang bersifat teoritis, tetapi agama yang membumi dan aplikatif dalam berbagai aspek kehidupan. Ajarannya membawa nilai-nilai kebajikan universal yang dapat menembus batas ruang dan waktu, termasuk dalam persoalan sosial, politik, budaya dan kehidupan masyarakat.
Namun, idealitas tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan umat Islam. Masih ditemukan berbagai persoalan seperti korupsi, kolusi, intimidasi dan pelanggaran hukum yang justru mencederai kemuliaan ajaran Islam. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara das sollen, yakni keadaan ideal yang seharusnya terjadi, dan das sein, yakni kenyataan yang berlangsung di lapangan. Karena itu, perjalanan Rasulullah ﷺ dalam membangun masyarakat perlu dikaji agar dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Masyarakat Arab Sebelum Islam
Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab berada dalam kondisi yang oleh Syaikh Muhammad Al-Khudri Bek digambarkan sebagai masa jahiliyah. Jahiliyah bukan semata-mata berarti tidak memiliki pengetahuan, tetapi lebih berkaitan dengan tradisi dan keyakinan yang menyimpang.
Mayoritas masyarakat Arab ketika itu menyekutukan Allah dengan menyembah berbagai berhala. Patung-patung seperti Latta, Uzza dan Manat ditempatkan di sekitar Ka’bah maupun rumah mereka dan dianggap sebagai perantara kepada Tuhan. Sebagian lainnya menyembah matahari, bintang dan api. Hanya sebagian kecil yang masih mempertahankan ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS.
Dalam kehidupan sosial, fanatisme kesukuan atau ashabiyah sangat kuat. Antarkabilah kerap terlibat peperangan hanya karena persoalan kecil dan yang dibela bukan kebenaran, melainkan kelompok sendiri. Konflik antara Aus dan Khazraj bahkan berlangsung sangat panjang sebelum keduanya menerima Islam.
Kondisi perempuan juga sangat memprihatinkan. Mereka tidak memiliki hak waris, dapat dijadikan barang taruhan, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib. Selain itu, masyarakat terbiasa dengan minuman keras, perjudian, perampokan dan kebanggaan berlebihan terhadap leluhur.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Rasulullah Merekonstruksi Masyarakat
Di tengah kondisi tersebut, Nabi Muhammad ﷺ diutus di Makkah. Dakwah beliau menghadapi berbagai tantangan berupa intimidasi, persekusi, kriminalisasi hingga rencana pembunuhan. Selama sekitar 13 tahun di Makkah, jumlah orang yang menerima Islam masih terbatas. Perubahan besar mulai terlihat setelah hijrah ke Madinah.
Dalam waktu sekitar sepuluh tahun, masyarakat Madinah mengalami transformasi besar. Islam membangun masyarakat yang berlandaskan tauhid, persaudaraan dan keadilan. Setelah Fathu Makkah, semakin banyak masyarakat Arab menerima Islam secara sukarela. Berhala-berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan dan keyakinan masyarakat beralih dari penyembahan benda-benda kepada penyembahan hanya kepada Allah SWT.
Fanatisme kesukuan juga digantikan dengan persaudaraan Islam. Kemuliaan manusia tidak lagi ditentukan oleh suku atau keturunan, tetapi oleh ketakwaan. Perempuan mendapatkan hak hidup, waris dan kehormatan. Masyarakat yang sebelumnya terpecah oleh konflik mulai dipersatukan dalam ikatan keimanan.
Islam juga melarang minuman keras, perjudian, perzinaan dan berbagai perilaku yang merusak kehidupan sosial. Zakat, infak dan sedekah mendorong terciptanya kepedulian sosial sehingga hubungan antara orang kaya dan miskin dibangun melalui semangat ta’awun, yakni saling membantu.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Makna Rahmatan Lil-‘Alamin
Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa rahmat berarti kebaikan (al-khair) dan kebahagiaan (as-sa’adah) yang diperoleh di dunia hingga akhirat. Rasulullah ﷺ diutus untuk membawa manusia menuju kebaikan dan kebahagiaan hakiki.
Allah SWT menegaskan misi tersebut dalam QS. Al-Anbiya ayat 107. Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika diminta mendoakan kebinasaan kaum musyrik:
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, melainkan aku diutus sebagai pembawa rahmat.” (HR. Muslim)
Rahmat yang dibawa Rasulullah ﷺ tidak terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakup makhluk dan alam semesta. Karena itu, kehadiran Islam seharusnya memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian berbagai persoalan kehidupan.
Jika Islam belum mampu menghadirkan solusi atas persoalan manusia, hal itu bukan berarti ajarannya tidak relevan. Sebaliknya, umat Islam perlu melakukan introspeksi terhadap sejauh mana ajaran tersebut telah benar-benar diamalkan. Islam tetap relevan sepanjang zaman dan tempat.
Relevansi bagi Dunia Saat Ini
Saat ini umat manusia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari dekadensi moral, korupsi, konflik kepentingan hingga peperangan antarbangsa. Genosida di Gaza dan penjajahan Zionis Israel terhadap Palestina juga menunjukkan masih jauhnya dunia dari perdamaian dan keadilan.
Padahal, Rasulullah ﷺ dalam waktu sekitar 23 tahun berhasil mengubah masyarakat Arab dan membangun tatanan kehidupan yang lebih beradab. Bahkan, kekuatan besar seperti Persia dan Romawi pada akhirnya memberikan penghormatan terhadap kekuatan peradaban Islam.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Karena itu, menelusuri perjalanan Rasulullah ﷺ dalam menebarkan rahmat bukan sekadar mempelajari sejarah. Ia merupakan upaya memahami bagaimana Islam membangun masyarakat, menghadirkan keadilan, memperkuat persaudaraan dan menciptakan peradaban.
Kehadiran kepemimpinan umat yang mengikuti manhaj nubuwwah dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun kembali peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dan meneladani kepemimpinan Rasulullah ﷺ, umat Islam dapat menghadirkan Islam bukan hanya sebagai ajaran yang diyakini, tetapi sebagai rahmat yang benar-benar dirasakan oleh manusia dan alam semesta. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
















Mina Indonesia
Mina Arabic