Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bulan Maulid: Meneladani Akhlak Nabi Muhammad dalam Kehidupan Sehari-Hari

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:10 WIB

Rabu, 19 Agustus 2026 - 10:10 WIB

84 Views ㅤ

Ilustrasi: Masjid Nabawi. (Mosaiquefm)

SAAT ini kita telah memasuki bulan yang penuh berkah. Bulan Rabiul Awwal. Bulan yang di dalamnya terdapat momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, atau Maulid Nabi.

Tepatnya pada 12 Rabiul Awwal, cahaya pertama menyelinap di tengah kegelapan Jazirah Arab. Seorang bayi terlahir di Makkah, membawa misi terbesar sepanjang sejarah, merubah peradaban manusia.

Bayi itu lahir di tengah masyarakat yang terbenam dalam jurang kejahiliyahan. Penyembahan berhala merajalela, perempuan diperlakukan sebagai barang, anak-anak dikubur hidup-hidup, dan peperangan antarsuku menjadi pemandangan sehari-hari.

Dari rahim kegelapan itulah, Allah memilih Muhammad sebagai pembawa cahaya. Beliau tidak datang untuk membangun tembok pemisah, tetapi untuk meruntuhkan kebodohan dan menggantinya dengan ilmu.

Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan

Perintah pertama yang turun adalah “Iqra!” (bacalah). Satu kata yang mengguncang dunia dan mengubah segalanya. Dengan membaca, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memulai revolusi terbesar dalam sejarah manusia, dari masyarakat yang terbelakang menuju masyarakat yang maju, dari perpecahan menuju persatuan, dari kegelapan menuju hidayah yang terang benderang.

Maulid Menghidupkan Jejak Al-Amin

Ketika kita memperingati Maulid Nabi, kita tidak sekadar merayakan kelahiran beliau, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang dibawanya. Kita mengingat bahwa Nabi kita dijuluki oleh masyarakatnya sebelum kenabian sebagai “Al-Amin”, orang yang dapat dipercaya. Begitu tingginya kepercayaan masyarakat kepadanya, hingga mereka menjadikannya sebagai penengah dalam perselisihan peletakan Hajar Aswad.

Saat ini, kepercayaan seakan menjadi barang langka. Banyak janji yang diingkari, banyak amanah yang dikhianati, dan banyak penguasa yang menipu rakyatnya.

Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati adalah mereka yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya. Maka, mari kita jadikan kejujuran sebagai mahkota kepribadian. Jadilah pribadi yang dipercaya, bukan pengkhianat. Karena setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Menebar Manfaat, Bukan Beban

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya [21]: 107).

Beliau bukan hanya rahmat bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh manusia, bahkan bagi hewan dan tumbuhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menegur sahabat yang menyiksa hewan, dan memuji orang yang memberi minum anjing kehausan.

Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu

Akhlak mulia inilah yang menjadi bukti kenabian. Dalam salah satu sabdanya, beliau menegaskan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani dan Ad-Daruquthni).

Pertanyaan yang harus kita renungkan: Sudahkah kita menjadi orang yang memberikan manfaat sebanyak mungkin? Ataukah kita masih menjadi beban, bahkan menyusahkan orang lain?

Di zaman yang serba individualistis ini, keteladanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk tidak menutup mata terhadap kebutuhan orang lain. Berikan yang terbaik, utarakan kata-kata yang baik, dan tebarkan senyum. Karena setiap perbuatan baik adalah sedekah.

Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam

Dari Jahiliyah Menuju Peradaban

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  tidak hanya mengubah akhlak. Beliau juga membangun peradaban dan keadilan sosial. Masyarakat Madinah yang dulu terpecah menjadi suku Aus dan Khazraj serta kaum Yahudi, berhasil disatukan dalam Piagam Madinah menjadi satu umat.

Beliau membangun masyarakat berdasarkan keadilan, di mana setiap orang memiliki hak yang sama di hadapan hukum, tanpa membedakan suku, agama, atau status sosial.

Di tengah iklim global yang masih dihantui oleh ketimpangan, rasisme, dan penindasan, kita patut meneladani konsep ummatan wasathan, umat yang adil dan seimbang. Menjadi pribadi yang anti-korupsi, anti-penindasan, dan pro-keadilan. Menjadi pribadi yang tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga menyeimbangkannya dengan akhirat.

Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an

Maulid Momentum Perubahan

Begitulah, Bulan Maulid adalah pengingat bahwa kita memiliki teladan agung yang tidak pernah lekang oleh waktu. Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam relevan untuk segala zaman. Mulai dari hubungan kita dengan Allah, hubungan dengan orang tua, pasangan, anak, tetangga, hingga hubungan kita dengan alam semesta.

Allah menegaskan di dalam ayat-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina

Jika kita ingin melihat perubahan di masyarakat, mulailah dari diri sendiri. Perbaiki akhlak, jaga lisan, tebarkan manfaat, dan jadilah pribadi yang amanah. Karena dengan itu, kita tidak hanya memuliakan Maulid Nabi, tetapi juga menghidupkan kembali misi kenabian di tengah dunia yang semakin kehilangan arah.

Semoga kita semua tergolong orang-orang yang mencintai Nabi dengan sebenar-benarnya, dan kelak mendapatkan syafaatnya di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik

Rekomendasi untuk Anda

Khutbah Jumat: Kewajiban Menolong Warga Palestina yang Terjajah
Khutbah Jumat
Info MINA
Tausiyah
Tausiyah
Dunia Islam