Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kiblat Pertama, Shalat Malam Rasulullah dan Al-Aqsa yang Menanti Pembebasan

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:34 WIB

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:34 WIB

38 Views ㅤ

Masjid Al-Aqsa (Foto: IST)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Muzzammil:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4)

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil. (Yaitu) seperduanya, atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 1-4)

Surat ini turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah Surat Al-‘Alaq dan Al-Qalam. Sebagian riwayat menyebutkan setelah Surat Al-‘Alaq, Al-Qalam, dan Al-Muddatstsir.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Kisahnya bermula ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam didatangi Malaikat Jibril di Gua Hira, untuk pertama kalinya, dalam wujud aslinya dengan enam ratus sayap yang menutupi seluruh ufuk barat dan timur. Hingga Rasulullah pun gemetar ketakutan.

Beliau segera pulang ke istrinya, Khadijah, dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku, sungguh aku sangat ketakutan.” Khadijah pun menyelimutinya dan menenangkan hatinya.

Pada saat yang sama, di balai pertemuan Darun Nadwah, kaum kafir Quraisy berkumpul untuk mencari nama buruk bagi Nabi. Ada yang menuduhnya dukun (kaahin), ada yang mengatakan orang gila (majnuun), ada pula yang menyebut tukang sihir (saahir).

Maka turunlah Surat Al-Qalam ayat 1-4 sebagai bantahan Allah atas tuduhan-tuduhan keji mereka:

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ – مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ – وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ – وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagimu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 1-4).

Allah menegaskan bahwa Rasulullah bukanlah orang gila, melainkan seorang nabi mulia yang akan mendapat pahala besar dan berakhlak agung.

Perintah Shalat Malam 

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Di tengah suasana penuh tekanan dan penolakan itu, Allah memanggil Nabi-Nya dengan panggilan lembut: “Wahai orang yang berselimut.” Kemudian Allah memerintahkannya untuk bangun di malam hari, mendirikan shalat, dan membaca Al-Qur’an dengan tartil, perlahan, tenang, penuh penghayatan.

Inilah persiapan ruhani sebelum memasuki medan dakwah yang berat. Shalat malam menjadi benteng jiwa, tempat Rasulullah mengadu kepada Tuhannya, memohon kekuatan, dan merenungkan ayat-ayat-Nya.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa perintah shalat malam ini berlaku selama sekitar satu tahun penuh. Rasulullah dan para sahabat melaksanakannya dengan tekun hingga kaki-kaki mereka bengkak karena terlalu lama berdiri.

Kemudian Allah menurunkan ayat ke-20 dari Surat Al-Muzzammil sebagai keringanan:

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ… فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya… maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.”

Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya. Ada yang sakit, ada yang bepergian, ada yang berjihad di jalan Allah. Maka Allah meringankan, menjadikan shalat malam sebagai sunnah, kecuali bagi Rasulullah, tetap wajib.

Al-Aqsa, Kiblat Pertama Sebelum Ka’bah

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Lalu, ke manakah Rasulullah dan para sahabat menghadap ketika melaksanakan shalat, baik shalat malam, shalat pagi, maupun shalat sore, sebelum shalat lima waktu, di masa awal Islam?

Prof. Dr. Abdullah Al-Fattah Al-Uwaisi Al-Maqdisi dalam buku “Roadmap Nabawiyah Pembebasan Baitul Maqdis” (2022) menjelaskan bahwa pada periode awal kenabian, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta Khadijah dan para sahabat yang pertama masuk Islam, melaksanakan perintah shalat malam serta shalat pagi dan petang dengan menghadap kiblat ke Masjid Al-Aqsa.

Rasulullah biasa shalat di depan Ka’bah, tetapi dengan posisi Ka’bah di antara dirinya dan Masjidil Aqsa. Ia menghadap ke arah Baitul Maqdis, sementara Ka’bah berada di depannya sebagai tanda penghormatan.

Hal ini diperkuat oleh hadits dari Al-Bara bin ‘Azib, “Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, hingga turun ayat dalam Surat Al-Baqarah yang memerintahkan berpaling ke arah Masjidil Haram…” (HR Bukhari).

Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan

Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa pada awal-awal Islam, kiblat shalat adalah menghadap Masjid Al-Aqsa.

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah masih menghadap ke Masjid Al-Aqsa selama 16 bulan. Kemudian turun perintah pemindahan kiblat ke Kakbah dalam Surat Al-Baqarah ayat 144.

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 144).

Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah

Jika ditambahkan masa shalat menghadap ke Masjid Al-Aqsa sejak shalat tahajud, awal kenabian di Makkah, hingga pertengahan tahun ke-2 Hijriyah di Madinah, maka total masa Rasulullah dan para sahabat shalat dengan kiblat Masjidil Aqsa adalah sekitar 14,5 tahun.

Kiblat Pertama yang Terjajah

Kini, Ka’bah di Masjidil Haram begitu makmur. Setiap saat, ribuan hingga ratusan ribu jamaah umrah dan bahkan jutaan jamaah haji memenuhi pelataran sucinya. Namun kiblat pertama umat Islam, Masjid Al-Aqsa, justru terbengkalai, dinodai, dan dijajah oleh pemukim ekstremis serta pasukan pendudukan Zionis Israel.

Setiap hari, Al-Aqsa diserbu. Setiap hari, kesuciannya diinjak-injak. Setiap hari, generasi Muslim di Palestina berjuang untuk sekadar mengakses masjid mereka sendiri.

Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan

Tentu, kita tidak bisa terus berdiam diri. Jika kiblat pertama yang menjadi saksi shalat malam Rasulullah ini terus dinodai, maka noda itu juga menodai kehormatan umat Islam di seluruh dunia.

Allah tidak menurunkan perintah shalat malam di Makkah dengan kiblat ke Al-Aqsa secara sia-sia. Ini adalah pesan sejarah, Al-Aqsa adalah bagian tak terpisahkan dari akidah dan perjalanan spiritual umat Islam.

Maka, sudah saatnya kita menguatkan kepedulian terhadap Al-Aqsa, dan menyebarkan kesadaran tentang sejarah dan keutamaan kiblat pertama.

Selain itu, kita juga mendoakan pembebasannya setiap kali kita shalat, terutama di malam-malam yang sunyi. Lebih dari itu, kita mendukung saudara-saudara di Palestina dengan harta, doa, dan pengorbanan.

Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah

Ka’bah makmur, Al-Aqsa pun harus kembali makmur. Bukan dengan sekadar kunjungan, tetapi dengan pembebasan dari penjajahan.

Karena Allah telah menetapkan bahwa bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan Al-Aqsa adalah bagian dari janji itu. []

(Penulis, Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional).

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji

Rekomendasi untuk Anda