MASJID AL-AQSA terus menggeliat di bawah belenggu penjajahan Zionis Israel. Selama lebih dari setengah abad, umat Islam menyaksikan tanah suci para nabi ini dinodai, akses ibadah dibatasi, dan identitas Islamnya terusik. Pertanyaan yang harus kita jawab bersama Adalah, “Mengapa umat Islam belum mampu membebaskan Al-Aqsa?”
Jawabannya tegas, Karena umat Islam masih terpecah belah dan tidak memiliki imaam yang memimpin mereka dalam satu barisan. Sejarah telah membuktikan bahwa setiap kali umat Islam bersatu di bawah kepemimpinan yang jelas, kemenangan datang. Ketika mereka berpecah, kehinaan datang. Maka, pembebasan Al-Aqsa hanya dapat maksimal tercapai jika umat Islam merapatkan kehidupan berjama’ah di bawah pimpinan imaam.
Takwa sebagai Fondasi Perjuangan
Allah berfirman:
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Ali Imran [3]: 102).
Takwa adalah fondasi setiap perjuangan. Tanpa takwa, perjuangan akan kehilangan ruh dan keberkahan. Para pembebas Al-Aqsa harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Ia harus takut hanya kepada Allah, bukan kepada musuh. Ia harus berjuang karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi. Inilah sebabnya perintah takwa diletakkan sebagai landasan sebelum perintah berjama’ah dalam ayat berikutnya.
Takwa adalah sumber kekuatan. Orang yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Inilah yang dibutuhkan dalam perjuangan pembebasan Al-Aqsa, keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi orang-orang yang bertakwa.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Pada Surat Ath-Thalaq ayat 2, 3 dan 4, disebutkan:
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.”
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
“Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.”
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
Takwa dalam arti secara umum :
امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
“Yakni melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya”.
Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan tentang makna “Haqqa tuqaatihi”:
أنْ يُطاعَ فَلا يُعْصى، ويُذْكَرَ فَلا يُنْسى، ويُشْكَرَ فَلا يُكْفَرَ
“Allah itu untuk dipatuhi dan tidak untuk dilanggar, untuk diingat dan tidak untuk dilupakan, untuk disyukuri dan tidak untuk diingkari”.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Hal ini menunjukkan, bukti ketakwaan kepada Allah adalah menaati Allah dengan tidak mendurhakai-Nya, mengingat Allah dengan tidak melupakan-Nya, serta mensyukuri nikmat Allah dengan tidak mengingkarinya, sampai batas akhir kemampuan, sampai mati menghadap Allah dalam keadaan Muslim, berserah diri kepada Allah dengan tetap memeluk agama yang diridhai-Nya yaitu agama Islam.
Lebih lanjut Ibnu Katsir menjelaskan, termasuk makna “Haqqa tuqaatih” ialah berjihadlah kalian di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad demi membela agama Allah, dan janganlah kalian enggan demi membela Allah hanya karena celaan orang-orang yang mencela, tegakkanlah keadilan, sekalipun terhadap diri kalian dan orang-orang tua kalian serta anak-anak kalian sendiri.
Jihad bukanlah sebuah hal yang mudah, namun juga bukan hal yang sulit, jika didasari dengan takwa. Tidak mudah karena akan datang banyak cobaan, tidak sulit karena Allah sudah menunjukkan jalannya.
Allah menyebutkan di dalam ayat lain:
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS At-Taghabun [64]: 16).
Melalui ayat ini, Allah memerintahkan agar manusia yang mempunyai harta, anak, dan istri, bertakwa kepada Allah dengan sekuat tenaga dan semaksimal kemampuan.
Di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebutkan :
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
“Apa yang aku larang maka hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para Nabi mereka.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).
Wujud Takwa: Berjama’ah dan Bersaudara karena Allah
Allah berfirman dalam rangkaian Al Imran 102 dan 103:
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliah) kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara…” (QS Ali Imran [3]: 103).
Ayat ini adalah wujud nyata dari takwa. Setelah memerintahkan takwa, Allah memerintahkan umat Islam untuk berjama’ah. Inilah bentuk pengamalan takwa yang paling konkret. Tidak ada takwa tanpa berjama’ah, dan tidak ada berjama’ah tanpa persaudaraan karena Allah.
Persaudaraan karena Allah adalah ikatan yang paling kuat. Ia melampaui ikatan darah, suku, dan bangsa. Umat Islam adalah satu saudara, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Hujurat: 10.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Persaudaraan inilah yang menjadi modal utama perjuangan pembebasan Al-Aqsha. Ketika kita bersaudara karena Allah, kita saling mendukung, saling melindungi, dan saling mendoakan. Tidak ada ruang bagi perpecahan, dengki, dan iri.
Sejarah membuktikan bahwa umat Islam menang ketika mereka bersatu. Umar bin Khattab membebaskan wilayah Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsa dengan berjama’ah. Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dengan berjama’ah. Sebaliknya, ketika umat berpecah, wilayah Baitul Maqdis jatuh ke tangan Inggris dan Zionis Israel.
Puncak Takwa: Menjadi Umat Terbaik
Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3]: 110).
Ayat ini adalah puncak dari takwa dan berjama’ah. Umat terbaik tidak akan pernah terwujud jika umat Islam terpecah belah. Status “khaira ummah” (umat terbaik) hanya akan tercapai jika umat Islam bersatu dan menjalankan misi amar ma’ruf nahi mungkar.
Membebaskan Al-Aqsha adalah bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Penjajahan Zionis atas Al-Aqsa adalah kemungkaran terbesar yang harus dicegah. Amar ma’ruf (menyuruh kebaikan) adalah mewujudkan kemerdekaan di tanah suci. Nahi mungkar (mencegah kemungkaran) adalah menolak penjajahan. Inilah pelaksanaan dari status umat terbaik.
Tanpa berjama’ah, kita tidak akan bisa menjalankan misi ini. Tanpa berjama’ah, kita tidak akan bisa menjadi umat terbaik. Inilah mengapa Allah menghubungkan antara takwa, berjama’ah, dan status umat terbaik dalam tiga ayat berurutan (102, 103, 110) di Surat Ali Imran.
Jihad: Puncak Berjama’ah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan lima kewajiban yang saling terkait dalam sabdanya:
أَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ أَللهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ : بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu, yakni (berpegang pada) Al-Jama’ah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Puncak dari hadits ini adalah jihad. Dan jihad untuk membebaskan Al-Aqsha tidak mungkin dilakukan tanpa melalui empat langkah sebelumnya. Jihad tanpa berjama’ah akan gagal. Ini adalah urutan logis yang harus dipahami. Kita tidak bisa langsung berjihad tanpa terlebih dahulu berjama’ah, mendengar, taat, dan berhijrah. Inilah yang menyebabkan perjuangan umat Islam saat ini gagal, mereka ingin berjihad tanpa berjama’ah. Mereka ingin meraih kemenangan tanpa kepemimpinan.
Di Bawah Kepemimpinan Imaam
Umar bin Khattab, saat berada di Jabiyah sebelum memasuki Kota Al-Quds, berpesan:
إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
“Sesungguhnya tidak ada Islam (yang tegak) kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan adanya kepemimpinan (imamah), dan tidak ada (gunanya) kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.”
Pesan ini adalah kunci pembebasan Al-Aqsha. Tanpa berjama’ah, tidak ada Islam yang tegak. Tanpa imaam, tidak ada jama’ah yang efektif. Tanpa ketaatan, tidak ada kepemimpinan yang berarti. Inilah yang harus kita pahami dan terapkan.
Syaikh Mahmud Muhammad Shiyam, Imam Masjid Al-Aqsa, menegaskan, “Kalau umat Islam di seluruh dunia ikut membela perjuangan Al-Aqsha Palestina, bersatu dalam satu komando Imaam, maka Umat Islam akan menang.”
Pembebasan Al-Aqsha: Islam Menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam
Allah berfirman:
وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke tanah yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 71).
Tanah Al-Aqsa dan Palestina adalah tanah yang diberkahi untuk seluruh alam. Keberkahan ini bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Penjajahan atas tanah ini adalah kezaliman yang merampas keberkahan dari seluruh alam.
Allah juga berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Pembebasan Al-Aqsa adalah perwujudan dari rahmat ini. Ketika Al-Aqsa bebas, keadilan akan tegak, dan Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Penjajahan dan kezaliman akan lenyap, dan perdamaian akan terwujud.
Penutup: Seruan untuk Bersatu
Pembebasan Al-Aqsa adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) atas seluruh umat Islam. Kewajiban ini hanya bisa dilaksanakan secara maksimal jika umat Islam: Bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa (QS Ali Imran: 102), Berjama’ah dan bersaudara karena Allah (QS Ali Imran: 103), Menjadi umat terbaik dengan amar ma’ruf nahi mungkar (QS Ali Imran: 110), Melaksanakan jihad sebagai puncak dari berjama’ah, dan Taat kepada imaam yang memimpin perjuangan di jalan Allah.
“Ya Allah, persatukanlah hati umat Islam, satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran, tolonglah mereka atas musuh-musuh mereka, dan bebaskanlah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman para penjajah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.” []
Wallahu a’lam bish-shawab.
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic