London, MINA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaan yang mendalam terhadap Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer setelah sempat menolak permintaan Washington untuk menggunakan pangkalan udara milik Inggris dalam rencana serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Republik Islam Iran di kawasan Timur Tengah. Anadolu melaporkan.
Trump menilai keputusan awal Starmer sebagai langkah yang tidak biasa dalam hubungan bilateral kedua negara sekutu, terutama karena dimaksudkan untuk operasi militer yang oleh AS dinilai penting demi menekan ancaman Iran.
Kritikus di Washington menyebut penolakan tersebut berpotensi menghambat operasi yang disebut “defensif” namun strategis bagi kampanye militer AS di kawasan.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Sebelumnya, pemerintah Inggris sempat menolak permintaan penggunaan pangkalan udara seperti RAF Fairford di Inggris dan pangkalan lain di wilayah Chagos karena kekhawatiran terkait legalitas tindakan yang bisa menyeret Inggris lebih jauh ke dalam konflik.
Starmer dan timnya menyatakan bahwa setiap langkah militer harus mematuhi hukum internasional.
Namun dalam perkembangan terbaru, Starmer membalikkan kebijakan awalnya. Ia kini mengizinkan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS untuk operasi defensif tertentu, yakni menghancurkan rudal Iran yang menjadi ancaman bagi sekutu regional dan warga sipil.
Keputusan itu dibuat setelah meningkatnya serangan rudal dan drone oleh Iran ke wilayah Teluk yang menimbulkan ancaman bagi warga Inggris dan pasukan sekutu lainnya.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Sikap Inggris ini mendapat reaksi beragam. Beberapa faksi politik di London mengecam keputusan tersebut karena dianggap berpotensi menyeret negara dalam konflik yang lebih luas, sementara oposisi menilai langkah itu sebagai “respon pragmatis” demi melindungi warga Inggris di luar negeri.
Sementara itu, tokoh pemerintahan di Washington menyambut keputusan tersebut sebagai sinyal kuat solidaritas dengan upaya militer melawan Tehran.
Tegangan antara AS–Israel dan Iran meningkat tajam setelah operasi militer gabungan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu serangkaian serangan rudal dan drone di wilayah Teluk Persia.
Inggris, sebagai anggota NATO dan sekutu lama AS, berusaha menyeimbangkan dukungan terhadap aliansi dengan komitmen terhadap hukum internasional dan perlindungan warganya, khususnya ketika sekitar ratusan ribu warga Inggris berada di kawasan konflik. []
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic