Jakarta, MINA – Gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian dunia kembali menyorot rapuhnya perlindungan pasukan di wilayah konflik.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon.
Desakan itu muncul setelah meninggalnya Praka Rico Pramudia, yang menambah daftar korban jiwa prajurit Indonesia di Lebanon menjadi empat orang.
“Kami menyampaikan duka mendalam. Namun peristiwa ini tidak boleh berhenti pada belasungkawa semata. Harus ada evaluasi serius atas perlindungan pasukan perdamaian,” tegas Sukamta dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/4).
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Praka Rico mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan akibat luka berat dari serangan ledakan peluru kendali yang menghantam markas UNIFIL di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, akhir Maret lalu.
Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.
Dalam serangan yang sama, Praka Farizal Rhomadhon juga dinyatakan gugur, sementara dua prajurit lainnya mengalami luka. Sehari berselang, ledakan kembali menghantam konvoi logistik UNIFIL di Bani Hayyan, menewaskan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan.
Rangkaian insiden tersebut menunjukkan eskalasi serius di wilayah operasi penjaga perdamaian. Sukamta menilai, serangan yang menyasar area misi PBB menjadi alarm keras bagi komunitas internasional.
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
“Zona misi perdamaian tidak boleh menjadi sasaran serangan. Ini menandakan adanya kegagalan sistem perlindungan yang harus segera dibenahi,” ujarnya.
Komisi I DPR RI juga menekankan pentingnya investigasi terbuka dan akuntabel untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Selain itu, DPR meminta penyesuaian mandat dan mekanisme pengamanan UNIFIL agar sejalan dengan dinamika ancaman di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia didorong melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan dan pola penugasan prajurit dalam misi luar negeri.
Baca Juga: Forum Zakat Soroti Perlindungan dan Profesionalisme Amil
Evaluasi ini dinilai penting tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif pasukan perdamaian dunia.
“Perdamaian dunia tidak boleh dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. Setiap gugurnya prajurit harus menjadi dasar penguatan sistem, bukan sekadar catatan duka,” kata Sukamta.
Ia pun berharap para prajurit yang gugur mendapat tempat terbaik, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tenggelamnya KM Virgo, Polisi Tetapkan 4 Orang sebagai Tersangka
















Mina Indonesia
Mina Arabic