Paris, MINA – Pemerintah Prancis memperingatkan bahwa perluasan permukiman Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur berisiko semakin sulit dihentikan dan menjadi ancaman masa depan, terutama setelah Israel melanjutkan rencana pembangunan di kawasan E1 yang dinilai mengancam kesinambungan wilayah Palestina.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Prancis Pascal Confavreux mengatakan Paris telah memutuskan melarang perdagangan barang yang berasal dari permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Anadolu melaporkan, Jumat (11/9).
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan respons terhadap memburuknya situasi di Tepi Barat dan meningkatnya aktivitas permukiman Israel.
Confavreux menyebut kawasan E1 menjadi perhatian khusus karena pembangunan di wilayah tersebut berpotensi memutus kesinambungan geografis Tepi Barat. Kondisi itu, menurut Prancis, dapat semakin menghambat terwujudnya solusi dua negara bagi konflik Palestina-Israel.
Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon
Prancis juga menegaskan kebijakan pembatasan perdagangan tersebut bukan merupakan boikot terhadap Israel. Langkah itu secara khusus diarahkan terhadap barang yang berasal dari permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Paris menyatakan hubungan ekonomi dengan Israel tetap berjalan.
Penerapan larangan tersebut masih memerlukan penyelesaian sejumlah aspek teknis dan hukum, termasuk mekanisme untuk melacak serta memverifikasi asal barang. Prancis juga mendorong agar kebijakan serupa diterapkan secara bersama oleh negara-negara Uni Eropa.
Pada 8 September, Prancis bersama Inggris, Kanada, Denmark, Finlandia, Islandia, Irlandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, dan Swedia menyatakan tindakan Israel di Tepi Barat semakin merusak peluang solusi dua negara. Mereka juga menentang langkah yang dinilai mengarah pada aneksasi wilayah Palestina dan pemindahan paksa penduduk.
Sebelumnya, Prancis dan sejumlah negara Eropa juga mengecam keputusan Israel menerbitkan tender pembangunan proyek E1. Mereka menilai proyek tersebut dapat membelah Tepi Barat dan merusak kesinambungan wilayah yang dibutuhkan bagi pembentukan negara Palestina yang layak.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Sementara itu, Israel merespons tekanan sejumlah negara Barat dengan mengumumkan penutupan Konsulat Inggris di Yerusalem Timur. Langkah tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan diplomatik antara Israel dan negara-negara Barat yang menentang perluasan permukiman di Tepi Barat. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic