Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ramadhan Sehat, Ibadah Kuat, Pilih Makanan yang Bisa Jadi Energi Spiritual

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 18 Januari 2026 - 09:23 WIB

Ahad, 18 Januari 2026 - 09:23 WIB

33 Views ㅤ

Ramadhan musti sehat (foto: ig)

RAMADHAN bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum besar untuk menyelaraskan kesehatan fisik dan kekuatan spiritual. Puasa yang dijalani dengan pola makan tepat justru dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan kejernihan pikiran, sehingga ibadah berjalan lebih khusyuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa puasa yang disertai pola makan seimbang dapat memberi dampak positif bagi metabolisme dan kesehatan secara umum.

Para ahli gizi menegaskan bahwa kunci menjaga kebugaran selama Ramadhan terletak pada keseimbangan nutrisi saat sahur dan berbuka. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dalam berbagai panduan gizi seimbang menekankan pentingnya asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, serta cairan yang cukup agar tubuh tetap bertenaga sepanjang hari puasa.

Saat sahur, karbohidrat kompleks menjadi fondasi utama. Harvard T.H. Chan School of Public Health merekomendasikan konsumsi gandum utuh, oatmeal, nasi merah, dan umbi-umbian karena dicerna lebih lambat dan membantu menjaga kestabilan kadar gula darah. Jenis karbohidrat ini memberikan energi bertahap, sehingga tubuh tidak cepat lemas saat berpuasa.

Baca Juga: Sehat di Usia Senja: 9 Tips Santai Menjaga Kesehatan Lansia

Protein juga memegang peranan penting dalam menjaga massa otot dan daya tahan tubuh. Menurut British Nutrition Foundation, sumber protein seperti telur, ikan, ayam tanpa kulit, tahu, tempe, dan kacang-kacangan membantu memperlambat rasa lapar dan mendukung regenerasi sel selama puasa berlangsung.

Selain protein, lemak sehat tidak boleh dihindari. WHO dan American Heart Association menyarankan lemak tak jenuh yang terdapat pada alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, serta minyak zaitun. Lemak sehat membantu penyerapan vitamin larut lemak dan berfungsi sebagai cadangan energi yang dilepas secara perlahan.

Sayur dan buah menjadi komponen penting yang sering diabaikan saat Ramadhan. Padahal, menurut para pakar kesehatan, kandungan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan dalam sayur dan buah sangat berperan menjaga pencernaan, meningkatkan imunitas, serta mencegah sembelit yang kerap terjadi selama puasa.

Kurma, yang dianjurkan Rasulullah SAW sebagai makanan berbuka, memiliki nilai gizi yang sejalan dengan rekomendasi ilmiah modern. Harvard Health Publishing menyebut kurma kaya gula alami, serat, kalium, dan magnesium yang membantu memulihkan energi dengan cepat tanpa membebani sistem pencernaan.

Baca Juga: Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Ini Subtipe Dominan dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Saat berbuka puasa, para ahli gizi menyarankan untuk tidak langsung makan berat dalam jumlah besar. WHO menganjurkan berbuka secara bertahap, diawali dengan air putih dan makanan ringan bernutrisi, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama. Pola ini membantu tubuh beradaptasi setelah puasa panjang dan mencegah gangguan lambung.

Hidrasi juga menjadi faktor krusial selama Ramadhan. Para dokter merekomendasikan pemenuhan kebutuhan cairan sekitar 8 gelas per hari dengan pola bertahap antara berbuka hingga sahur. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik, sementara minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu dehidrasi dan lonjakan gula darah.

Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi gula, gorengan berlebihan, serta makanan ultra-proses perlu dikendalikan. Harvard Health dan WHO memperingatkan bahwa pola makan semacam ini dapat menyebabkan kelelahan, rasa haus berlebih, gangguan pencernaan, dan penurunan kualitas ibadah.

Para pakar kesehatan juga menganjurkan tetap melakukan aktivitas fisik ringan selama Ramadhan. Mereka menyarankan olahraga intensitas ringan hingga sedang seperti berjalan kaki atau peregangan setelah berbuka untuk menjaga metabolisme dan kebugaran tubuh.

Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 65 Kasus Flu Babi Terdeteksi di Bandung, Warga Diminta Waspada

Ramadhan sejatinya menjadi momentum membangun pola hidup sehat berkelanjutan. Kemenkes RI menilai kebiasaan makan teratur, pengendalian porsi, dan peningkatan konsumsi makanan alami selama Ramadhan dapat menjadi fondasi gaya hidup sehat bahkan setelah bulan suci berakhir.

Pada akhirnya, makanan di bulan Ramadhan bukan sekadar pengisi perut, melainkan penopang kualitas ibadah. Ketika tubuh terjaga kesehatannya melalui asupan gizi seimbang, shalat menjadi lebih khusyuk, tilawah terasa ringan, dan doa mengalir lebih tenang.

Inilah harmoni Ramadhan, saat ilmu kesehatan modern dan nilai spiritual Islam bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan ibadah yang kuat, sadar, dan penuh keberkahan. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Rasil dan Komunitas Terapis Al-Fatah Kembali Gelar Baksos Thibbun Nabawi

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
MINA Health
Artikel
Artikel
MINA Health