Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekolah Hebat di Brosur, Sunyi di Ruang Empati

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 25 Desember 2025 - 21:31 WIB

Kamis, 25 Desember 2025 - 21:31 WIB

15 Views ㅤ

Namun, ketika kita masuk lebih dalam, menyusuri lorong-lorong kelas dan ruang-ruang hati para murid, sering kali kita menemukan sesuatu yang kontras: kesunyian empati. Sekolah hebat di atas kertas, tetapi hening dalam kepekaan rasa.(Foto: ig)

DI BROSUR, sekolah tampak begitu gemilang. Gedung megah, slogan visioner, deretan prestasi akademik berkilau, foto siswa tersenyum rapi dengan seragam terbaik. Semua terlihat menjanjikan. Namun, ketika kita masuk lebih dalam, menyusuri lorong-lorong kelas dan ruang-ruang hati para murid, sering kali kita menemukan sesuatu yang kontras: kesunyian empati. Sekolah hebat di atas kertas, tetapi hening dalam kepekaan rasa.

Banyak sekolah hari ini sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun jiwa. Fokus utama sering kali tertuju pada nilai rapor, peringkat, akreditasi, dan lomba-lomba prestise. Anak-anak didorong untuk berprestasi, tetapi tidak selalu diajari bagaimana memahami diri, mengelola emosi, dan merasakan luka orang lain. Padahal, kecerdasan tanpa empati hanya akan melahirkan generasi cepat berpikir namun lambat merasa.

Di ruang kelas, murid yang pendiam sering luput dari perhatian. Yang tidak unggul akademik kerap dianggap “biasa saja”. Yang berbeda karakter, latar belakang, atau kemampuan, sering dipaksa menyesuaikan diri tanpa pernah benar-benar didengar. Sekolah menjadi ruang kompetisi, bukan ruang pemanusiaan. Padahal, setiap anak datang dengan cerita, luka, potensi, dan kebutuhan yang tidak bisa diseragamkan.

Ironisnya, kita sering menyebut sekolah sebagai “rumah kedua”. Namun, rumah seperti apa yang membuat penghuninya takut bercerita? Rumah seperti apa yang hanya menghargai yang juara, sementara yang tertinggal dibiarkan berjuang sendiri? Di sinilah sindiran halus itu terasa: sekolah mengajarkan banyak hal, tetapi lupa mengajarkan cara menjadi manusia yang utuh.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Guru pun sering berada dalam posisi yang tidak mudah. Tuntutan administrasi menumpuk, target kurikulum mengejar, laporan dan evaluasi tak ada habisnya. Akhirnya, energi habis untuk memenuhi sistem, bukan menyentuh hati siswa. Bukan karena guru tidak peduli, tetapi karena empati kalah oleh birokrasi. Ruang empati menyempit, bukan karena tidak penting, tetapi karena dianggap tidak terukur.

Padahal, penelitian pendidikan dan psikologi menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang empatik meningkatkan kesehatan mental, motivasi belajar, dan bahkan prestasi akademik jangka panjang. Anak yang merasa dipahami akan lebih berani bertanya, lebih tahan menghadapi kegagalan, dan lebih sehat secara emosional. Empati bukan penghambat prestasi, justru fondasinya.

Sekolah yang hebat sejatinya bukan hanya yang lulusannya diterima di mana-mana, tetapi yang murid-muridnya merasa aman menjadi diri sendiri. Sekolah yang kuat bukan hanya yang disiplin aturannya, tetapi yang lembut dalam pendekatannya. Ketegasan memang perlu, tetapi tanpa empati, ketegasan berubah menjadi kekerasan halus yang membekas lama di jiwa anak.

Lalu, apa solusinya? Pertama, sekolah perlu menempatkan empati sebagai budaya, bukan sekadar jargon. Ini bisa dimulai dari hal sederhana: guru yang mau mendengar sebelum menilai, wali kelas yang benar-benar mengenal muridnya, dan kebijakan sekolah yang mempertimbangkan kondisi psikologis siswa, bukan hanya angka statistik.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Kedua, pendidikan karakter harus hidup dalam praktik, bukan mati di modul. Mengajarkan empati tidak cukup lewat ceramah, tetapi melalui keteladanan. Anak belajar empati ketika melihat gurunya menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik dengan dialog, dan memperlakukan setiap murid dengan adil dan manusiawi.

Ketiga, sekolah perlu menyediakan ruang aman untuk kesehatan mental: konselor yang aktif, forum curhat yang tidak menghakimi, dan budaya saling peduli antar siswa. Ruang empati tidak selalu harus berupa ruangan fisik, tetapi suasana batin yang membuat anak merasa “aku tidak sendirian”.

Keempat, orang tua dan sekolah harus berjalan seiring. Jangan hanya bertemu saat ada masalah atau pembagian rapor. Kolaborasi yang sehat akan membantu melihat anak secara utuh, bukan sepenggal. Anak bukan sekadar siswa di sekolah, dan bukan hanya anak di rumah. Ia adalah manusia yang tumbuh di antara keduanya.

Pada akhirnya, brosur boleh tetap indah, prestasi boleh terus dikejar. Namun, jangan biarkan sekolah menjadi tempat yang ramai secara aktivitas tetapi sunyi secara empati. Sebab, dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi manusia yang peduli. Dan empati, jika benar-benar diajarkan dan dihidupkan, akan menjadi prestasi paling mulia yang tak pernah bisa dicetak di brosur mana pun.[]

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
MINA Health
Khutbah Jumat
Indonesia