Selamat Jalan Muhamad Mursi

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Redaktur Arab MINA

Kita berduka cita begitu mendalam atas meninggalnya presiden terpilih Muhamad Mursi pada Senin 17 Juni 2019. Ia meninggal pada saat proses peradilan karena sakit yang dideritanya tidak kunjung membaik bahkan kunjungnya tidak diperhatikan oleh otoritas Mesir. 

Semoga Allah menerimanya dan memberikan rahmat di yaumil hisab. 

Enam tahun lalu, tepatnya pada 17 Juni 2012 adalah hari di mana Mursi memenangkan pilpres (51 persen) atas lawannya Ahmad Syafiq yang merupakan perpanjangan power Husni Mubarak. 

Usia jabatannya di kepresidenan tidak begitu lama, hanya 369 hari (30 Juni 2012 sd 3 Juli 2013). Setelahnya Abdul Fatah Al-Sisi naik menjadi Presiden Mesir melalui kudeta militer hingga saat ini. 

Sebetulnya, jatuhnya Mursi adalah hal yang bisa dihindari, memang Mursi tokoh pejuang yang teladan, tapi dia bukan seorang politikus handal. 

Kekhilafan terbesar Mursi adalah ia melakukan perubahan dan pembaharuan secara drastis di masa awal kepemimpinannnya, dengan sikologi masyarakat & elit Mesir yang sudah ‘terbentuk’ puluhan tahun di tangan Mubarak, kebijakan Mursi dinilai keras dan frontal sehingga banyak fihak merasa terancam. 

Belum sampai 2 bulan Mursi menjadi Presiden, ia memecat dan mengganti panglima Mesir Husain Tantowi dan Wakilnya padahal mereka yang berperan juga untuk menjatuhkan Mubarak. 

Militer adalah garis merah yang seharusnya Mursi jaga diawal kekuasaannya, sejak Mesir menjadi negara republik Militer dan Sekuler Nasionalis memegang peranan penting dalam kestabilan negara, artinya rezim manapun termasuk Mursi harusnya bergantung pada kedua elemen ini. Terlebih Mursi berada di Partai Ikhwanul Muslimin dan tak semua muslim di Mesir pro Ikhwan. 

Sejarah mencatat bahwa pemimpin-pemimpin tertinggi Mesir berasal dari kalangan Militer. Gamal Abdul Nasir, Anwar Saddat, Husni Mubarok. Militer di Mesir memiliki otonomi atau kode etik tersendiri, terlepas dari kontrol warga sipil seperti Mursi. 

Kasus yang sama berlaku juga di Turki, dimana Erdogan adalah pemimpin islamis dari sipil berhadapan dengan militer Turki yang sudah memiliki otonominya sendiri. Bagusnya Erdogan bijak dan sabar. Ia mengatur strategi untuk bersabar di 5 tahun pertamanya tidak over control militer, di 5 tahun berikutnya ia mulai menuai simpati Militer bahkan dengan itu bisa menumpas habis jaringan Gulen. 

Dalam Mahfuzot dikatakan ” الصير يعين كل عمل “ 

Kesabaran itu membantu segala pekerjaan. Dalam politik kesabaran adalah sebuah kebajikan. 

Mengatur militer bukan kesalahan fatal, yang lebih fatal adalah mengangkat Al-Sisi menggantikan posisi Tantowi padahal keduanya berada dalam satu faksi. Alasan Mursi memilih al-Sisi adalah karena ia seorang yang sederhana, hafal Quran, istri dan anaknya berhijab. Meski Al-Sisi sudah menunjukan pembangkangannya tapi Mursi tidak melihat semuanya. 

Alasan krusial rakyat Mesir menolak Muabrak adalah karena isu ekonomi dan korupsi yang menggila, dan Mursi memilih untuk memprioritaskan agenda reformasi hukum yang menyebabkan kaum liberal-sekuler-nasionalis dan minoritas Kristen merasa terancam akan pengaruh Islam lebih besar dan akhirnya bersama sama untuk menggulingkan Mursi.

Mursi digulingkan pada Juni 2013 dengan demo masa yang jumlahnya kurang lebih sama dengan pelengseran Mubarak pada Februari 2011. Al-Sisi mengeluarkan ultimatum pada 1 Juli dan dalam 48 jam Mursi ditahan sekaligus menjadi cerita akhir bagi kepemimpinannya.   

Semua orang bisa mengambil kesimpulan dan analisa dari peristiwa ini, ada yang memulainya pada hal yang individual salafi atau bukan salafi, haroki ideal atau non ideal haroki, politik timur tengah, hubungan internasional sampai tanda akhir zaman. Tapi Mesir dan Mursi adalah dua ikon yang melambangkan kegagalan demokrasi dan hilangnya potensi untuk mentransformasi dunia Arab Islam. (A/RA-1/R06)

Miraj News Agency (MINA)