Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seminar “El Nino Gozilla” Soroti Ketangguhan Spiritual Hadapi Krisis Iklim Ekstrem

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Sabtu, 25 April 2026 - 17:06 WIB

Sabtu, 25 April 2026 - 17:06 WIB

45 Views ㅤ

Imaam Yakhsyallah Mansur (foto: MINA)
Imaam Yakhsyallah Mansur (foto: sidieq MINA)

Jakarta, MINA — Seminar bertajuk “El Nino Gozilla: Strategi Antisipasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim Ekstrem di Indonesia” menegaskan pentingnya ketangguhan spiritual sebagai bagian dari solusi menghadapi krisis iklim global. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (25/4) menghadirkan Imaam Yakhsyallah Mansur sebagai keynote speech.

Dalam pemaparannya, Imaam Yakhsyallah Mansur menjelaskan bahwa perubahan iklim ekstrem tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku dan moral manusia.

Ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia, sebagai peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar.

Menurutnya, tafsir ulama klasik seperti Imam At-Thabari menunjukkan bahwa kerusakan tersebut mencakup berbagai bencana, mulai dari kekeringan hingga konflik sosial.

Baca Juga: MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo, Terkait Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran

Sementara dalam pandangan kontemporer, fenomena seperti pemanasan global, deforestasi, dan pencemaran lingkungan menjadi bukti nyata relevansi ayat tersebut dalam konteks modern.

Ia juga menyinggung pandangan sejumlah pemikir Muslim, seperti Prof. Quraish Shihab yang menilai krisis lingkungan saat ini berkaitan erat dengan perilaku manusia secara kolektif.

Bahkan, ilmuwan Muslim Dr. Ziauddin Sardar menyebut krisis ekologis global sebagai dampak dari krisis spiritual dan peradaban, bukan sekadar persoalan teknis lingkungan.

Dalam perspektif Islam, lanjutnya, manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Prinsip ini diperkuat oleh pandangan ulama seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi yang menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah, serta konsep ekoteologi yang diperkenalkan Menteri Agama RI Prof. Nazaruddin Umar untuk membangun kesadaran berbasis iman dalam pelestarian lingkungan.

Baca Juga: Aktivis Ilustrasikan Gempa, Rasakan Getaran Bom di Palestina

Imaam Yakhsyallah Mansur menekankan bahwa menghadapi perubahan iklim membutuhkan strategi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga spiritual. Ia menguraikan sejumlah langkah, seperti muhasabah, penguatan kesadaran sebagai khalifah, penerapan gaya hidup sederhana, serta memperkuat doa dan ibadah sebagai sumber ketangguhan.

Selain itu, ia mengajak masyarakat memperkuat solidaritas sosial dan menggalakkan “jihad ekologi” sebagai gerakan kolektif menjaga lingkungan.

Menurutnya, dengan memadukan ilmu pengetahuan dan nilai spiritual, umat Islam dapat berperan aktif dalam menjaga bumi sebagai amanah, sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim ekstrem yang kian nyata. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Pimpinan Hidayatullah: Sampai Kapan Bela Palestina? Sampai Palestina Merdeka!

Rekomendasi untuk Anda