Kumamoto, MINA – Sepekan pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Jepang barat daya, lebih dari 8.000 orang masih mengungsi di tempat 150 lokasi penampungan evakuasi, di tengah gelombang panas ekstrem.
Pemerintah prefektur memperkirakan sekitar 12.000 bangunan rusak akibat gempa yang terjadi pada Selasa (28/7) sore itu. Kyodo News melaporkan, Selasa (4/8).
Jumlah korban tewas kini mencapai 38 orang, termasuk 7 orang yang tewas dalam ledakan di mal Aeon di Kashima, dan 9 orang di pabrik Nippon Paper Industries Co. di Yatsushiro, di mana beberapa cerobong asap rusak termasuk satu yang runtuh.
Banyak bagian prefektur mencatat suhu tertinggi 35°C atau lebih pada Senin (3/8), dengan beberapa wilayah mencapai 40°C untuk pertama kalinya dalam catatan. Seorang korban tewas diduga akibat heatstroke karena tidur di dalam mobil, sehingga langkah-langkah penyelamatan jiwa menjadi sangat mendesak.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Menyadari situasi kritis ini, pemerintah Jepang melalui Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana menetapkan gempa tersebut sebagai “bencana dengan tingkat keparahan ekstrem.” Penetapan ini memungkinkan pemerintah lokal yang terdampak menerima subsidi lebih tinggi untuk pekerjaan rekonstruksi, serta mengambil langkah khusus untuk membantu para korban.
Bantuan dan Evakuasi Sekunder
Pada Selasa (4/8), Kabinet Takaichi menyetujui penggunaan sekitar 24,2 miliar yen (Rp2,7 triliun)) dari dana cadangan pemerintah untuk mendukung daerah yang terdampak gempa. Dana ini akan digunakan untuk memulihkan jembatan jalan raya, mengirimkan barang bantuan dan membangun perumahan sementara.
Pemerintah juga telah mulai melakukan evakuasi sekunder ke hotel bagi para pengungsi, dan pembangunan perumahan sementara telah dimulai di kotamadya Uki dan Hikawa yang paling terdampak.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Sementara, pemadaman air terus memengaruhi sekitar 45.000 rumah tangga di lima kotamadya. Truk air dari seluruh Jepang dikerahkan ke berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Pemerintah nasional dan prefektur bekerja keras untuk mencegah serangan panas di tempat penampungan dengan memperkuat transportasi air minum, memperluas penyediaan toilet portabe dan menggunakan pendingin spot (spot cooler). []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic